RAMADHAN MENGEMBALIKAN FITRAH UNTUK MENJADI INSAN YANG BERTAKWA
Sabtu, 25/09/2010
Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, Psi, M.Sc.
Gubernur Sumatera Barat
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَه، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّجُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُنَافِقُوْنَ. الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرُ الصِّيَامِ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَجَعَلَ عِيْدَ الْفِطْرِ ضِيَافَةً لِلصَّائِمِيْنَ وَفَرْحَةً لِلْمُتَّقِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ الأَمِيْن، اللهم فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلهِ وَأَصْحَابِ الْكِرَامِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن.
Hadirin jamaah Idul Fitri rahimakumullah
Segala puji hanya milik Allah, Dzat Yang Maha Agung, Maha Tinggi, dan Maha Mulia. Kepada-Nya segenap makhluk bergantung dan hanya kepada-Nya segalanya akan kembali. Dialah Al-Khaliq Al-Mudabbir, Dzat yang telah menciptakan dan mengatur alam semesta ini dengan seluruh aturan-Nya yang utuh dan sempurna.
Dialah satu-satunya Dzat yang akan meminta pertanggungjawaban manusia pada yaumul hisab, terhadap segala perbuatan manusia di dunia. Dia pula yang akan memberikan balasan berupa kenikmatan jannah (surga) - yang luasnya seluas langit dan bumi - untuk siapa saja yang telah beramal sesuai dengan syariat-Nya dan kepada orang-orang yang telah ikhlas memperjuangkan kemuliaan Islam dan umatnya.
Salawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan dan teladan kita, Nabi Besar Muhammad SAW, beserta keluarganya, para shahabatnya, serta para pengikutnya yang tetap istiqamah berjuang untuk menegakkan dan menjalankan perintah Allah SWT di muka bumi, serta menyebarkan risalah-Nya ke seluruh penjuru dunia hingga akhir masa.
Beberapa saat lalu, bulan Ramadhan 1431 H telah meninggalkan kita. Dan kita memasuki awal bulan Syawal ini dengan penuh suka cita dan sekaligus kerendahan hati.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Hadirin jamaah sekalian rahimakumullah
Pada pagi hari ini, kita bersama umat Islam di berbagai penjuru dunia tengah membanjiri berbagai tanah lapang dan masjid, duduk bersimpuh mengucapkan takbir, tahmid, tasbih, dan tahlil kepada Allah melaksanakan shalat Idul Fitri 1431 H sebagai perwujudan dari ketakwaan kita menyelesaikan ibadah puasa dan amalan lainnya di bulan suci Ramadhan yang telah kita lakukan selama sebulan penuh.
Dengan usainya Ramadhan Tahun 1431 H ini, bukanlah berkurang hubungan kita dengan Allah Ta’ala. Bukan pula berarti selesainya ikatan kita dengan syariat, dengan mesjid, dengan shalat berjamaah, dengan amal-amal saleh lainnya, seperti berinfak, menyantuni fakir miskin, menyayangi anak yatim, berkasih-sayang sesama kaum muslimin dan sebagainya. Karena, melestarikan amal-amal saleh setelah Ramadhan, melanjutkan dan meningkatkan nilai takwa setelah Ramadhan, justru merupakan tanda bukti keberhasilan latihan untuk taat, patuh dan disiplin selama Ramadhan. Serta berhasil mencapai tujuan puasa yaitu: La’allakum Tattaqun (semoga kalian menjadi orang-orang bertakwa kepada Allah SWT).
Beragam amal ibadah di bulan Ramadhan yang kita lakukan, diharapkan keluar dari madrasatun ramadhaniyyah (sekolah ramadhan) memunculkan kesucian jiwa, kebeningan pikiran, kekhusyukan ibadah, dan semangat ihsan yang dapat menjadikan kita sebagai insan cerdas yang merasakan muraqabatullah (pengawasan Allah). Ini merupakan maqashid al-syar’i (tujuan syariah) yang hendaknya disadari oleh umat, sehingga pengaruhnya dirasakan dan nampak dalam aktivitas keseharian. Sesungguhnya, Ramadhan disyariatkan hanya untuk melatih jiwa, hati dan perilaku serta merevitalisasinya melalui ibadah, tha’ah (ketaatan), taqarrub (kedekatan) yang dapat memupuk solidaritas sosial para individu muslim.
Kita telah mampu memaknai ibadah Ramadhan sebagai bagian dari proses untuk kembali ke fitrah, yang antara lain disimbolkan dengan membayar zakat fitrah bagi setiap individu, sehingga setiap manusia kembali kepada potensi dasar ciptaan Allah (fitrah), sebagaimana ditegaskan di dalam surat Ar Ruum ayat 30, yang menyatakan :
Artinya :
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah untuk mengamalkan agama-Nya secara tulus; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak menyadarinya”
Bilamana ayat ini dijadikan acuan dalam memahami Idul Fitri, maka dapat dikatakan bahwa Idul Fitri itu adalah bangkitnya kembali potensi dasar penciptaan manusia. Sebagaimana ditafsirkan oleh Syekh Sulaiman bin Umar Al ‘Ajliy di dalam tafsirnya Al Futuhat Al Ilahiyyah, yang mengemukakan bahwa ada 3 (tiga) potensi dasar penciptaan manusia, yaitu Al Fitrah Al Ilahiyyah (potensi ketuhanan), Al Fitrah Al Insaniyyah (potensi sosial) dan Al Fitriyyah Ath Thohiriyyah (potensi kesucian).
Menurut Al Quran, bahwa setiap manusia semenjak dari rahim ibunya telah berpotensi untuk meyakini adanya kekuatan di luar dirinya, yakni Allah SWT. Di dalam surat Al A’raf ayat 172 ditegaskan bahwa :
Artinya :
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka : "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami),” Kami menjadi saksi agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap Keesaan Tuhan".
Di dalam hadist ash shahih juga ditegaskan bahwa :
كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه
"Setiap orang sesungguhnya dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), kedua orangtuanyalah yang menjadikan mereka Nasrani, Yahudi atau Majusi".
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Hadirin jamaah sekalian rahimakumullah
Melalui puasa Ramadhan, juga kita bangkitkan keyakinan bahwa kita senantiasa dalam pengawasan Allah, yang digelorakan melalui puasa Ramadhan, sebab puasa Ramadhan merupakan ibadah sirriyyah, yaitu ibadah yang tidak bisa ditangkap oleh panca indra manusia, namun hanya Allah yang bisa mengetahuinya secara jelas. Melalui keyakinan bahwa kita selalu diawasi Allah itulah yang sangat perlu ditanamkan, tidak saja selama bulan suci Ramadhan, namun harus dikembangkan pada seluruh sisi kehidupan kita sehari-hari, terutama di luar bulan Ramadhan.
Dengan merasakan pahit getir, lapar dan haus pada siang hari di bulan Ramadhan, kita diharapkan mampu memberikan kesadaran kepada diri sendiri bahwa kita benar-benar memerlukan karunia Allah dalam kehidupan ini.
Sadarkah kita bahwa bumi yang kita injak, langit yang kita junjung, udara yang kita hirup dan air yang kita minum adalah milik Allah. Kesadaran ini setidak-tidaknya akan muncul ketika kita sedang menahan haus dan lapar di siang hari selama bulan Ramadhan. Sehingga, wajarlah Allah mengatakan di ujung ayat 185 surat Al Baqarah, “…………semoga kamu bersyukur kepada Allah”.
Inilah eksistensi bulan suci Ramadhan dalam membangkitkan kembali potensi dasar penciptaan manusia, yaitu potensi Illahiyyah untuk menjadikan manusia sebagai makhluk yang bertakwa.
Manusia sesungguhnya juga memiliki potensi sosial sejak diciptakan Allah di dalam rahim ibunya. Ini dibuktikan bahwa ketika seorang bayi hadir di dunia tidaklah lahir sendirian, tetapi ditemani oleh saudaranya yang disebut secara medis dengan plasenta. Artinya, janin sejak dari dalam rahim ibunya telah terbiasa berdampingan dengan makhluk lain di luar dirinya, inilah yang menjadi potensi sosial tersebut.
Aktivitas ibadah selama bulan suci Ramadhan telah membangkitkan dan menggelorakan potensi sosial manusia, dengan sama-sama menahan pahit getir, lapar dan haus di siang hari, tanpa membedakan status sosial dan jabatan seseorang. Setelah menjelang sore, juga bersama-sama menunggu datangnya detik-detik berbuka dan juga menjelang waktu Imsak di masing-masing wilayah. Tidak ada keistimewaan waktu bagi yang kaya atau golongan tertentu untuk berbuka dan menahan puasa lebih dahulu dibandingkan dengan si miskin atau rakyat biasa.
Potensi sosial manusia juga dibangkitkan melalui pembayaran zakat fitrah, zakat harta dan santunan terhadap anak yatim piatu serta orang tua jompo, sebagai konsekuensi dari berbagai kekurangan yang dilakukan selama bulan Ramadhan. Disinilah eksistensi bulan Ramadhan dalam membangkitkan potensi sosial penciptaan manusia.
Manusia juga memiliki potensi kesucian atau al Fitriyyah al Thohiriyyah, sehingga setiap anak yang lahir ke muka bumi tidak ada yang berdosa. Di bulan Ramadhan, potensi kesucian ini dibangkitkan kembali dengan dibukakannya oleh Allah pintu ampunan yang selebar-lebarnya bagi orang-orang yang benar-benar melakukan rangkaian ibadah puasa, tarawih dan ibadah lainnya dengan penuh keimanan dan keikhlasan
Mereka yang sukses menjalani Ramadhan, itulah yang mencapai derajat takwa, yang hari ini mencapai potensi kesuciannya kembali, ibarat bayi yang baru dilahirkan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
من صام رمضان إيمانا واحتسابا، ومن قام رمضان إيمانا واحتسابا خرج كيوم ولدته أمه. كل مولود يولد على الفطرة -الحديث-.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Hadirin jamaah sekalian rahimakumullah
Hari Raya Idul Fitri yang kita rayakan hari ini adalah hari kembali ke fitrah, kembali kepada al-haq (kebenaran), kembali kepada Islam dengan seluruh ajarannya secara utuh dan menyeluruh. Hari ini bukanlah hari untuk membebaskan nafsu dan mengumbar syahwat yang selama Ramadhan kaum muslimin dilatih mengendalikannya.
Ibadah puasa di bulan Ramadhan yang baru saja kita laksanakan, sesungguhnya adalah suatu proses pendidikan yang berkelanjutan dan berkesinambungan bagi orang-orang yang beriman yang menghantarkannya pada puncak nilai-nilai kemanusiaan yang disebut dengan takwa (لعلكم تتقون).
Takwa adalah indikator utama kemuliaan, indikator utama kebahagiaan dan indikator utama kesejahteraan, sebagaimana ditegaskan di dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:
“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Orang bertakwa adalah yang hatinya tunduk dan patuh kepada hukum Allah dan RasulNya, tanpa kecuali. Lisannya senantiasa penuh dengan membacakan ayat-ayat Allah. Hidupnya dihabiskan untuk menegakkan dakwah dan agama Allah. Sibuk beribadah dan beramal salih karena mengharap ridho Allah semata. Dan berjuang keras menjauhi diri dari segala larangan Allah dan Rasul-Nya, karena takut kepada azab dan siksa-Nya, sebagaimana ditegaskan di dalam Firman Allah SWT berikut :
”Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Az-Zumar: 33)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah merumuskan takwa dengan ungkapan: Seseorang melaksanakan perintah Allah karena mengharapkan ridho-Nya dan menjauhi larangan-Nya karena takut kepada azab-Nya.
Kemenangan yang berhasil diraih kaum Muslim dalam menjalankan ibadah shaum Ramadhan kali ini, sudah seharusnya dibuktikan secara nyata dengan bertambahnya ketaatan mereka kepada Allah. Ketaatan dalam ketaatan yang tidak sebatas dalam urusan ibadah ritual semata, akan tetapi ketaatan yang utuh dan menyeluruh. Yaitu, ketaatan dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dalam seluruh aspek kehidupan.
Ini berarti, kaum Muslim wajib menjalankan urusan pemerintahan sesuai dengan aturan Allah; menjalankan urusan ekonomi sesuai dengan perintah Allah; menjalankan urusan politik dalam dan luar negeri sesuai dengan perintah Allah; menjalankan urusan sosial dan budaya sesuai dengan perintah Allah; menjalankan urusan pendidikan sesuai dengan perintah dan aturan Allah, dan seterusnya.
Takwa, sebagai upaya pemeliharaan diri, harus terus-menerus terbenam dalam hati kita. Dengan bekal takwa, seseorang akan mampu mengontrol tingkah laku. Ia akan selalu menimbang apakah yang dilakukan sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan rasul-Nya atau tidak. Jika takwa sudah menjadi baju dan bekal hidup seseorang, maka takwa akan menjadi gaya hidupnya. Gaya hidup itulah yang kemudian terakumulasi menjadi suatu budaya. Allah SWT berfirman,
”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A'raf: 96).
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Hadirin jamaah Idul Fitri rahimakumullah
Mereka yang sukses menjalani Ramadhan, itulah yang mencapai derajat takwa, yang hari ini mencapai fitrahnya kembali.
Manusia yang takwa inilah yang mampu menyelesaikan berbagai permasalahan hidup menuju kesejahteraan idaman setiap manusia. Merekalah yang bisa menghadapi berbagai bentuk aktivitas merusak di muka bumi untuk selanjutnya menyelamatkan umat manusia dari jurang kenistaan.
Karena itu, dengan ketakwaan yang terus-menerus kita bangun dalam diri kita, keluarga kita, lingkungan kita, masyarakat dan bangsa kita, insya Allah akan menumbuhkan kedamaian, kesejahteraan dan keberkahan hidup yang senantiasa kita dambakan. Kita menyadari dan kita akui dengan jujur bahwa saat ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, keberkahan dan kesejahteraan masih belum kita raih.
Kondisi semacam ini terasa sangat ironis dan sangat kontradiktif jika dikaitkan dengan kondisi tanah negara kita yang sangat subur, sumber alam yang melimpah ruah dan mayoritas penduduknya beragama Islam. Tetapi tentu hal ini tidaklah mengherankan jika dilihat dari ajaran Islam itu sendiri.
Di dalam Al Quran tidak ada satu ayat pun yang mengkaitkan kesuburan dengan kemakmuran. Artinya negeri yang subur tidak otomatis rakyatnya akan menjadi makmur. Bahkan kesuburan akan menjadi malapetaka bila disertai dengan kekufuran terhadap nikmat Allah SWT. Hal ini sejalan dengan firman Allah pada Al Quran surat An-Nahl ayat 112.
”Dan Allah Telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.”
Kemakmuran dan kesejahteraan serta peradaban sebuah bangsa sesungguhnya akan bisa dibangun dan diraih melalui hadirnya insan-insan cerdas yang beriman dan bertakwa. Yang senantiasa merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah seraya berzikir mengagungkan asma-Nya.
Insan-insan cerdas yang beriman dan bertakwa adalah mereka yang memiliki kecerdasan. Cerdas secara intelektual, spiritual, emosional, maupun sosial. Insan yang cerdas secara intelektual berarti, mereka mampu beraktualisasi diri melalui olah pikir untuk memperoleh kompetensi dan kemandirian dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka juga memiliki sikap kritis, kreatif dan imajinatif.
Sementara insan yang cerdas spiritualnya adalah mereka yang mampu beraktualisasi diri melalui olah hati untuk memperkuat keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur dan kepribadian unggul.
Sedangkan insan yang cerdas secara emosional dan sosial merupakan mereka yang mampu beraktualisasi diri melalui olah rasa untuk meningkatkan sensitivitas dan apresiasi akan kehalusan dan keindahan seni dan budaya, serta kompetensi untuk mengekspresikannya. Mereka beraktualisasi diri melalui interaksi sosial melalui sikap-sikap berikut: membina dan memupuk hubungan timbal balik; demokratis; empatik dan simpatik; menjunjung tinggi hak asasi manusia; ceria dan percaya diri; menghargai kebhinekaan dalam bermasyarakat dan bernegara; serta berwawasan kebangsaan dengan kesadaran akan hak dan kewajiban warga negara.
Ramadhan telah mendidik umat Islam menumbuh-kembangkan sensitivitas dan solidaritas sosial umat terhadap kaum fakir-miskin dan dhuafa. Spirit-spirit ini menjadi manifestasi dari eksistensi derajat agung Islam yang belum dicapai oleh agama-agama lain dalam kepedulian sosialnya kepada kaum fakir-miskin.
Agama-agama lain, baik Samawi atau Wadh’iy semua mengajak peduli terhadap kaum dhuafa, tetapi derajat capaian Islam belum pernah dilakukan oleh agama-agama selain agama pengikut Rasulullah saw ini. Islam menetapkan sebagian dari harta orang kaya adalah haqqun ma’lum yang harus diambil. Karena itu, di zaman khalifah Abu Bakar r.a beliau mengerahkan pasukan untuk memerangi mereka yang tidak mengeluarkan hak-hak orang miskin tersebut dari harta Allah yang “dititipkan” kepada mereka, dan ini belum pernah dilakukan oleh agama lain dalam sejarah manusia.
Mudah-mudahan kita bisa termasuk ke dalam golongan insan cerdas yang kembali kepada fitrah dan ketakwaan, sehingga mampu membangun dan mewujudkan kesejahteraan pada diri kita, keluarga kita, masyarakat kita, dan bangsa kita. Amien ya rabbal ’alamin.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Kaum muslimin jamaah Idul Fitri rahimakumullah,
Marilah kita tutup khutbah ini dengan doa, memohon kepada Allah SWT, yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang karena Dialah yang Maha Pengabul atas segala doa.
Marilah kita merendahkan diri, menyadari segala kelalaian kita selama ini, begitu banyak kesalahan kita, kepada diri sendiri, kepada kedua orang tua kita, kepada teman dan tetangga kita.
Betapa banyak kewajiban-kewajiban agama yang merupakan hak Allah terhadap kita yang belum kita laksanakan, betapa banyak aturan dan undang-undang Allah yang sengaja atau tidak sengaja kita tinggalkan. Mungkin saja ada saudara-saudara kita yang merasa sakit hati karena ulah dan sikap kita. Barangkali pula selama ini sepatah untaian doa pun belum pernah kita panjatkan ke hadirat Allah untuk saudara-saudara kita yang tengah berjuang di jalan Allah. Marilah kita panjatkan doa untuk mereka semoga Allah berkenan mempersatukannya dan memberikan kemenangan. Marilah kita merendahkan diri di hadapan Allah, berdoa dan munajat ke haribaan-Nya dengan tulus hati.
Allahumma ya Allah ya Rahman,
Kami yang hadir di sini adalah hamba-hambaMu yang lemah tanpa daya. Hamba-hamba-Mu yang banyak dosa dan kesalahan, Karena itu ya Allah ampunilah dosa-dosa kami dan dosa orang tua kami.
Ya Allah, Engkau saksikan kami pada pagi ini menundukkan kepala dengan kepasrahan dan kerendahan hati dan mengingat-ingat kembali keadaan diri kami tentang apa yang telah kami perbuat selama ini, baik untuk diri kami sendiri, untuk keluarga, masyarakat dan untuk agama Mu.
Allahumma ya Allah, ya Tuhan kami. Kami panjatkan segala puji dan syukur atas segala rahmat dan karunia yang telah Engkau limpahkan kepada kami, nikmat kesehatan, nikmat ilmu pengetahuan dan nikmat iman serta Islam.
اَلَّلهُمَّ أَعِنَّا عَلىَ ذِكْرِكَ وَ شُكْرِكَ وَ حُسْنِ عِبَادَتِكَ
Ya Allah, ya Tuhan kami. Jadikanlah kami semua hamba-hamba-Mu yang pandai mensyukuri nikmat-Mu, dan janganlah Engkau jadikan kami hamba-hamba yang ingkar dan kufur terhadap segala nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami.
لَئِنْ شَكَْرْتُمْ لأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ.
Allahumma ya Allah, ya Tuhan kami. Ampunilah segala dosa dan kesalahan kami, kesalahan dan dosa kedua orang tua kami, kesalahan dan dosa saudara-saudara kami, kaum muslimin dan muslimat yang telah melalaikan segala perintah-Mu dan melanggar segala larangan-Mu. Andaikan Engkau tidak mengampuni dan memaafkan kami, kami takut pada adzab-Mu di akhirat nanti.
Ya Allah, Janganlah Engkau limpahkan adzab-Mu kepada kami, karena dosa dan kesalahan kami. Kami yakin ya Allah, rahmat dan ampunan-Mu jauh lebih luas daripada adzab-Mu.
اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَ قِيَامَنَا وَ قِرَاءَتَنَا وَ زَكَاتَنَا وَ عِبَادَتَنَا كُلَّهاَ .
Allahumma ya Allah, ya Tuhan kami. Terimalah segala amal ibadah kami, terimalah ibadah puasa kami, terimalah shalat kami dan amal ibadah kami yang lain.
Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang selalu bertakwa, yang ridha dan ikhlas untuk melaksanakan segala aturan-Mu; yang ridha dan ikhlas menjadikan Islam sebagai ajaran-Mu; yang ridha dan ikhlas menjadikan Al-Qur'an sebagai imam dan petunjuk kami; yang ridha dan ikhlas menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai panutan kami.
Allahumma ya Allah, ya Tuhan kami. Berbagai macam ujian dan musibah kini sedang menimpa masyarakat dan bangsa kami. Kami yakin musibah itu bukan karena Engkau membenci kami, akan tetapi sebagai peringatan agar kami semua lebih dekat dan lebih cinta kepada-Mu. Agar kami semuanya lebih memiliki sikap سمعنا وأطعنا akan segala ketentuan-Mu. Agar kami semua kembali pada agama-Mu, yaitu agama Islam yang Engkau ridhai.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فيِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ.
Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan.
Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rezeki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang zalim dan kufur.
Ya Allah, perbaikilah kehidupan agama kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki kehidupan dunia kami yang menjadi tempat hidup kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan matikan kami dalam keadaan khusnul khatimah.
Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita terbesar dan puncak dari ilmu kami.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ َاْلأَحْيَاءَ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ بِرَحْمِتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَاحِمِيْنَ
Ya Allah, ampuni segala dosa saudara-saudara kami seiman dan seperjuangan dan ampuni dosa-dosa kaum muslimin dan muslimat. Jangan biarkan tumbuh dalam hati kami rasa hasad, dengki, dendam, permusuhan dan perselisihan.
Jadikan jiwa dan hati kami berkumpul di atas mahabbah dan kecintaan kepadaMu, himpunlah jiwa kami dalam ketaatan kepadaMu, bersatu padu dalam dakwah dan perjuangan membela agamaMu.
Kokohkan ikatan persaudaraan kami, kekalkan cinta di antara kami, tunjuki jalannya, penuhi dengan cahayaMu yang tak pernah pudar, lapangkan dada kami dengan gelora keimanan dan tawakkal kepadaMu, hidupi ia dengan makrifatMu, dan matikan dalam syahid di jalanMu.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فيِ الدُنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذاَبَ النَار
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ .
وَ السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Materi Khutbah Idul Fitri 1431H/2010M
