Mail to Friends

Jiran Kita Malaysia

Sabtu, 25/09/2010

Prof Dr. H. Irwan Prayitno

Siapa yang tak marah jika bangsa mereka dilecehkan oleh bangsa lain? Di negara jiran kita Malaysia, bangsa Indonesia dianggap bangsa kelas tiga karena hanya mampu mengirim jutaan TKI berupa pembantu rumah tangga, atau buruh di perkebunan dan bangunan.

Malaysia juga merasa direpotkan dengan masuknya TKI ilegal yang populer dengan sebutan pendatang haram. Sambil mencibirkan mulut mereka menjuluki para pekerja kasar tersebut sebagai budak Indon.

Kemarahan itu bertambah lagi dengan munculnya kasus Blok Ambalat, Pulau Sipadan dan Ligitan, Tari Bali, Batik, Reog Ponorogo sampai rendang Padang yang diklaim sebagai khasanah budaya milik Malaysia. Masih banyak sederetan kasus lainnya yang cukup panjang jika diuraikan satu per satu.

Akumulasi kemarahan itu kemudian mencuat ke permukaan. Sejumlah media cetak dan elektonik ramai-ramai ikut angkat bicara. Sejumlah masyarakat dan pemuda ikut bereaksi. Kantor Kedubes Malaysia di Jakarta dilempari kotoran manusia. Bendera Malaysia disobek-sobek dan dibakar.

Dulu, hal yang sama juga dirasakan bangsa Malaysia. Rakyat Malaysia juga dilecehkan oleh negara jiran mereka Singapura. Dulu, penduduk Malaysia juga berebut mencari nafkah di Singapura, karena penghasilan di Singapura jauh lebih baik. Dulu, banyak masyarakat Malaysia bersekolah di Indonesia, termasuk Sumatera Barat, karena mereka sadar bahwa kualitas pendidikan di luar Malaysia jauh lebih baik.

Perdana menteri Malaysia geram dan marah besar dengan keadaan itu. Namun ia tak melempari gedung kedubes Singapura dengan kotoran, juga tak membakar bendera Singapura, apalagi mengeluarkan statemet "ganyang Singapura". Yang ia lakukan adalah memperbaiki ekonomi Malaysia, memperbaiki iklim investasi. Dengan demikian diharapkan rakyat Malaysia tak lagi berbondong-bondong menjadi buruh di Singapura.

Mahatir membuka peluang usaha sebesar besarnya, mempermudah dan memberikan fasilitas agar dunia usaha di Malaysia tumbuh dan berkebang. Ia juga memperkecil hutang luar negeri agar bangsanya tak terjerat hutang berkepanjangan.

Waktu bergulir, roda berputar, ekonomi Malaysia terus membaik dan makin membaik. Belakangan nyaris tak ada lagi penduduk Malaysia yang menjadi buruh di Singapura, karena mereka cukup makmur di negeri sendiri. Mereka memilih bekerja di negeri sendiri karena penghasilan di negeri sendiri sudah memad Singapura tak berani lagi menghina dan melecehkan Malaysia. Juga tak banyak lagi penduduk Malaysia yang menimba ilmu di Indonesia, sebaliknya justru warga Indonesia yang ramai-ramai menyekolahkan anak mereka ke Malaysia.

Jika kita tinjau dengan akal sehat, peristiwa pasang surutnya ekonomi suatu negara adalah alamiah dan wajar- wajar saja, tergantung dari upaya bangsa tersebut. Seperti firman Allah: Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa kecuali bangsa tersebut yang mengubahnya. Sebagai negara bertetangga, gesekan dan gejolak itu akan terus muncul dan wajar adanya. Yang tidak benar adalah jika gesekan dan gejolak itu terus dikipas-kipas dan dipanasi sehing makin memburuk dan berakibat fatal, apalagi sampai menimbulkan perang saudara.

Teman saya Menteri Pertahanan Malaysia Dt. Sri Zaid Hamidi. ketika ikut menghadiri acara pelantikan gubernur Sumbar tgl 15 Agustus lalu mengatakan ada fenomena menarik yang perlu dicermati yang terjadi di Asia Tenggara.

Dari pengamatan berdasarkan perkembangan yang terlihat, kebangkitan Islam itu akan muncul di Asia Tenggara. Jika Malaysia, Indonesia dan negara lainnya di Asia Tenggara yang mayoritas penduduknya beragama Islam bersatu padu, maka ini merupakan sebuah kekuatan besar yang luar bisa dan saling menguntungkan..

Tentu saja sangat disayangkan jika peluang baik itu tidak dimanfaatkan dan justru meruncing menuju konflik yang tajam atau berujung pada perang saudara. Sungguh sangat tragis jika hal itu terjadi. Banyak contoh yang bisa dilihat betapa buruknya akibat peperangan.

Jika ada masalah, tentu saja harus segera diselesaikan dengan kepala dingin oleh kedua belah pihak. Secara historis Malaysia adalah bangsa serumpun, secara agamis, Indonesia dan Malaysia adalah bersaudara karena sesama muslim. Jangan sampai terpancing oleh pihak ketiga yang ingin mengadu domba dan memancing di air keruh. Semoga. ***

Singgalang, 8 September 2010


Warning: Unknown: open(/tmp/php/2/2/1/sess_22174245f6bbd3a2916e3229392d6ccb, O_RDWR) failed: No such file or directory (2) in Unknown on line 0

Warning: Unknown: Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (3;/tmp/php) in Unknown on line 0