Jadilah Pengusaha
Sabtu, 25/09/2010
Prof Dr H Irwan Prayitno
Saat memberikan sambutan pada acara Silaturahmi Saudagar Minang (SSM) III di Basko Hotel Rabu (15/9) lalu, mantan Wakil Presiden RI HM Yusuf Kalla mengajukan pertanyaan; “Apa beda pengusaha dan pejabat?”
Sambil tersenyum pengusaha nasional asal bugis itu mengatakan; “Bedanya adalah jika pejabat pensiun, banyak diantara mereka yang mulai belajar jadi pengusaha. Tapi jika pengusaha pensiun, banyak diantara mereka yang diangkat jadi pejabat. Contohnya saya, pensiun dari pengusaha, diangkat jadi wakil presiden,” ujar Kalla sambil kembali melemparkan senyumnya yang khas.
Dulu menurutnya, jika ingin menjadi pejabat. maka jalurnya adalah melalui kaderisasi di Akabri. Dulu, umumnya Bupati, Gubernur, Menteri dan pejabat tinggi lainnya berasal dari lulusan Akabri. Sekarang, banyak pejabat tinggi yang berasal dari pengusaha. Pengusaha telah menempati posisi penting di negara kita.
Lebih lanjut, secara sederhana menurut sumando rang Lintau ini kemajuan suatu daerah secara ril diukur dari tingkat pertumbuhan produk domestik bruto (PDRB) daerah tersebut. PDRB adalah hasil dari aktifitas dunia usaha.
Sulawesi Selatan dan Riau adalah contoh daerah yang produktifitas dunia usahanya cukup baik. Angka pertumbuhan ekonomi mereka di atas 9 persen, sedangkan Sumbar hanya sekitar 4 persen. Di Riau atau Sulsel waktu tunggu (waiting list) calon haji bisa mencapai 8 tahun, di Sumbar hanya sekitar 3 tahun. Artinya jumlah peserta haji di Riau dan Sulsel jauh lebih tinggi karena aktifitas ekonomi masyarakat di sana lebih baik.
Lalu kenapa PDRB Sumbar masih rendah? Jawabnya adalah sektor ril Sumbar masih tertinggal dan belum berkembang maksimal. Kegiatan ekonomi masyarakat Sumbar masih belum optimal. Jumlah penerima zakat masih jauh lebih banyak dibandingkan kaum pemberi zakat (kaum muzakki).
Menurut Yusuf Kalla, Sumatera Barat mirip dengan Philipina. Penghasilan penduduk lokal berasal dari wesel/kiriman dari perantau. Hal ini tentu saja tidak strategis, iklim ekonomi daerah ini menjadi labil karena tergantung kepada faktor luar. Seharusnya sektor ril tumbuh dan berkembang sehingga ekonomi di daerah tersebut kokoh.
Jika ekonomi masyarakat kokoh, maka cita-cita menjadikan Sumatera Barat menjadi daerah yang adil, makmur, dan bermartabat insyaAllah akan tercapai. Bertumbuhnya ekonomi akan menimbulkan efek berantai yang menghidupkan pula sektor-sektor lain, saling bersinergi. Jika kehidupan ekonomi petani , nelayan dan pengusaha kecil meningkat, maka mereka akan beli pakaian, makanan, alat elektronik, motor, dll. Ini berarti sektor perdagangan juga ikut bergerak naik. Otomatis PAD (pendapatan asli daerah) dari pajak juga akan meningkat. Jika PAD meningkat, maka pemerintah daerah bisa memiliki energi baru untuk membangun dan meningkatkan kesejahteraan pegawai.
Dulu untuk meningkat omset penjualan mobil di perusahaannya menurut Yusuf Kalla yang ia lakukan adalah membantu petani agar panen kopi, sawit atau coklat mereka berhasil. Uang dari hasil panen inilah nantinya akan meningkatkan omset penjualan mobil. Bagaimana mungkin omset penjualan mobil meningkat jika masyarakat tak punya uang?
Lalu apa yang harus dilakukan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat? Sektor pertanian, peternakan, perikanan, UMKM harus ditumbuh-kembangkan karena sekitar 60 persen masyarakat kita bergerak di sektor ini. Tentu saja ini bukan berarti sektor lain ditinggalkan, tentu juga harus disinergikan.
Lalu dari mana dana untuk menggerakkan ekonomi tersebut? Jika mengharapkan dana APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah), tentu saja semua mimpi itu tak kan bisa terlaksana. Pemerintah beserta seluruh jajarannya harus kreatif agar dana dari berbagai sumber masuk ke Sumatera Barat, baik melalui pemerintah pusat, maupun perantau dan pihak ketiga. Alhamdulilah hal tersebut sudah mulai dilakukan dan hasilnya pun sudah mulai terlihat.
Sebaliknya masyarakat juga harus serius untuk meningkatkan ekonominya. Allah mengatakan tidak akan mengubah suatu kaum jika kaum itu sendiri tidak mengubah dirinya sendiri. Pepatah arab juga mengatakan ”siapa mau berusaha bersungguh-sungguh pasti berhasil.”
Dulu ada cerita miring, masyarakat menjual sapi bantuan pemerintah dan uangnya digunakan untuk keperluan lain. Atau sapi yang nyata-nyata masih sehat dilaporkan mati, dsb. Jika hal itu masih dilakukan, berarti masyarakat tersebut tidak ingin mengubah nasibnya, malah mencelakakan diri sendiri. Masyarakat yang memang ingin maju dan serius akan difasilitasi, yang tidak terpaksa ditinggalkan.
Memfasilitasi masyarakat yang memang tidak ingin berubah seperti mendorong mobil mogok. Dibutuhkan energi ekstra untuk mendorongnya, supaya bisa berjalan. Namun tak lama berjalan ia mogok lagi. Karena itu sebaiknya ditinggalkan saja.
Kita harus yakin dibidang apa pun usaha dilakukan, jika dilakukan secara serius dan jujur, pasti berhasil. Ada banyak contoh yang bisa kita lihat. Pembuat kerupuk singkong pun bisa sukses dan jadi orang terpandang. Tak ada sejarahnya pengusaha besar muncul begitu saja, umumnya mereka merintis usaha dari usaha kecil.
Seperti kata Yusuf Kalla, sudah saatnya generasi kita mengubah mind set mereka. Lulus perguruan tinggi bukan untuk menjadi pegawai, tapi jadi pengusaha.
Selamat untuk suksesnya pelaksanaan SSM III, kita semua menunggu kontribusi pengusaha Minang yang bertebaran di berbagai pelosok untuk membangun Ranah Minang Tercinta. Kita merindukan munculnya pengusaha-pengusaha baru di Sumatera Barat yang pada saatnya nanti akan tumbuh pula menjadi pengusaha besar. Harapan kita`mereka memberikan kontibusi yang besar pula`untuk membangun ranah ini. ***
Padang Ekspres, 25 September 2010
