Mail to Friends

Pengorbanan Jalan Menuju Perubahan Untuk Kemenangan

Kamis, 25/11/2010

MATERI KHUTBAH IDUL ADHA
TAHUN 1431 H/2010 M

Oleh :

Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, Psi, M. Sc
GUBERNUR SUMATERA BARAT


السلام عليكم ورحمة الله وبراكاته
إِنَّ الحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِالله فَلاَمُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ - أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ - اَللَّهُمَّ صَلِّىوَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىمُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْن - فَيَاعِبَادَاللهِ أُوصِيْكُمْ وَاِ يَّايَ بِتَقْوَ ي اللهِ فَقَدْ فَازَالمُتَّقُوْن - يَاأَيُّهَاالَّذِيْنَ أَمَنُوْا إتَّقُوُ اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّوَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْن
Hadirin jamaah Idul Adha rahimakumullah
Segala puji hanya milik Allah, Dzat Yang Maha Agung, Maha Tinggi dan Maha Mulia. Kepada-Nya segenap makhluk bergantung dan hanya kepada-Nya segalanya akan kembali. Dialah Al-Khaliq Al-Mudabbir, Dzat yang telah menciptakan dan mengatur alam semesta ini dengan seluruh aturan-Nya yang utuh dan sempurna.

Dialah satu-satunya Dzat yang akan meminta pertanggungjawaban manusia pada yaumul hisab, terhadap segala perbuatan manusia di dunia. Dia pula yang akan memberikan balasan berupa kenikmatan jannah (surga) -yang luasnya seluas langit dan bumi- untuk siapa saja yang telah beramal sesuai dengan syariat-Nya dan kepada orang-orang yang ikhlas memperjuangkan kemuliaan Islam dan Umatnya.

Salawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan dan teladan kita, Nabi Besar Muhammad SAW, beserta keluarganya, para sahabatnya, serta para pengikutnya yang tetap istiqamah berjuang untuk menegakkan dan menjalankan perintah Allah SWT dimuka bumi, serta menyebarkan risalah-Nya ke seluruh penjuru dunia hingga akhir masa.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allah Akbar Wa Lillâhilhamd
Hadirin jamaah Idul Adha rahimakumullah
Alhamdulillah, merupakan suatu kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada terhingga bahwa pada hari ini kita merayakan hari raya Idul Adha, hari raya terbesar bagi umat Islam, setelah dua bulan sebelumnya kita merayakan hari raya Idul Fitri. Pada hari ini sekitar lebih dari empat juta umat Islam dari beragam suku, bangsa dan ras serta dari berbagai tingkat sosial dan penjuru dunia berkumpul dan berbaur di kota suci Makkah Al-Mukarramah untuk memenuhi panggilan Allah menunaikan ibadah haji.

Allah berfirman yang artinya, “Dan serulah manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh“ (QS Al-Hajj: 27).

Hari raya Idul Adha juga merupakan hari raya istimewa karena dua ibadah agung yang jatuh di penghujung tahun hijriah dilaksanakan pada hari raya ini, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban. Kedua-duanya disebut oleh Al Quran sebagai salah satu dari syiar-syiar Allah SWT yang harus dihormati dan diagungkan oleh hamba-hambaNya. Bahkan mengagungkan syiar-syiar Allah merupakan pertanda dan bukti akan ketakwaan seseorang seperti yang ditegaskan dalam firman-Nya, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” (QS Al-Hajj: 32).

Atau menjadi jaminan akan kebaikan seseorang di mata Allah seperti yang difirmankan dalam Al Quran, “Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya” (QS Al-Hajj: 30).

Dan hari yang kita peringati ini adalah hari ketika seorang manusia besar, seorang nabi Allah, lbrahim alaihisalam, sedang menapaki jalan terjal menuju ketinggian, menjalani detik-detik paling menggetarkan dalam kehidupan jiwanya dan dalam segenap gelombang sejarah kemanusiaan; saat-saat ketika ia melampaui batas keraguannya dan memasuki wilayah keyakinan baru dimana ia benar-benar memutuskan untuk menyembelih putera tercintanya, Ismail alaihisalam atas perintah Allah SWT. Dialog antara kedua anak manusia itu pada jenak-jenak terakhir menjelaskan bahwa mereka tiba pada kesepakatan besar yaitu,

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS Ash Shaaffat: 102).

Betapa lbrahim memanggil anaknya dengan sebutan “Bunayya, anakku tersayang”. Betapa Ibrahim bertanya kepada anaknya dengan hati- hati, “Cobalah pertimbangkan. Bagaimanakah pendapatmu tentang itu” Betapa Ibrahim menyembunyikan pergolakan besar yang berkecamuk di relung hatinya. Betapa agungnya sang anak masih sanggup memanggil ayahnya dengan panggilan sayang, “Wahai ayahku tersayang”. Betapa agungnya sang anak ketika ia menjawab dengan tenang; “Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu” Dan betapa tegarnya sang anak ketika ia mengatakan; “Niscaya kan kau dapati aku, Insya Allah, sebagai orang-orang yang sabar.”

ltulah momentum pengorbanan paling akbar dalam sejarah manusia. Dan itulah momentum kebesaran paling agung dalam sejarah manusia. Dan itulah hari-hari Allah. Allah berfirman tentang lbrahim,

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim”. (QS Al Baqarah: 124)

Dan Allah berfirman tentang lsmail alaihisalam,

Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang Rasul dan Nabi. (QS Maryam: 54).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillâhilhamd
Begitulah kisah pengorbanan itu mengalir dalam sungai sejarah kemanusiaan. Sejarah yang di dalamnya berurai darah dan air mata. Tapi hanya itulah, yang dapat mengantar setiap pribadi menuju muara kebesarannya. Dan hanya itulah yang dapat mengantar setiap umat menuju muara kejayaannya. Demikianlah akhirnya pengorbanan menjadi kisah panjang yang mengalir deras dalam sungai sejarah kemanusiaan.

Lihatlah bagaimana putera Adam, Habil, mempersembahkan hewan terbaik yang ia miliki sebagai persembahan kepada Allah unluk membuktikan kedalaman takwanya.

“… ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil)” (QS Al Maidah: 27)

Lihatlah betapa mirisnya perasaan ibunda nabi Musa alaihisalam saat ia memutuskan untuk melepaskan bayi laki-lakinya terapung dari atas sungai,

“…yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, yaitu: ‘Letakkanlah ia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Firaun) musuh-Ku dan musuhnya’. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dariKu; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasanKu” (QS Thoha: 38-39)

Lihatlah bagaimana Nabi Yusuf alaihisalam harus mengorbankan masa mudanya di dasar sumur yang gelap, lalu dalam penjara yang begitu melelahkan,

Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh” (QS Yusuf: 33).

Lihatlah bagaimana Nabi Nuh alahisalam mengorbankan 950 tahun dan masa hidupnya untuk dakwah dan akhirnya hanya mendapat dua belas pasang pengikut,

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih”. Nuh berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui”. Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam” (QS Nuh: 1-9).

Lihatlah bagaimana Nabi Musa alaihisalam dan Harun alaihisalam melewati jalan terjal untuk menyampaikan dakwah dan harus menghadapi seorang taghut besar yang mengklaim diri sebagai Tuhan yaitu Firaun. Lihatlah bagaimana Ashabul Kahfi harus mengorbankan masa muda mereka dan meninggalkan kota mereka untuk mempertahankan agama mereka dan meminta kenyataan bahwa mereka harus hidup di dalam gua.

Lihatlah bagaimana nabi kita, Muhammad SAW, harus berkorban demi dakwahnya sepanjang 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari. Lihat pula bagaimana sahabat-sahabat beliau dan kaum Muhajirin harus meninggalkan tanah asalnya, anak isterinya, serta semua harta benda mereka, demi mempertahankan dan melebarkan sayap agama mereka. Lihat pula bagaimana orang-orang Anshar di Madinah yang notabene miskin harus menyambut saudara-saudara mereka kaum Muhajirin dari Mekkah yang datang tanpa apa-apa.

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia” (QS Al Anfaal: 74)

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud (QS Al Fath: 29).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillâhilhamd
Dalam jiwa kita mungkin tcrsimpan satu pertanyaan, “Mengapa Sungai sejarah kemanusian selalu harus dialiri oleh darah dan air mata? Mengapa kita harus selalu berkorban? Tidak bisakah Allah menjadikan hidup ini tenang, dimana manusia hanya menyembahNya, dimana manusia hanya punya satu agama, dimana manusia tidak berbeda dalam pikiran, jiwa dan watak, dimana dunia ini menjelma taman kehidupan yang indah?”

Allah mengetahui dengan baik bahwa setiap manusia menyimpan pertanyaan itu dalam batinnya. Sama seperti Allah juga mengetahui bahwa Ia bisa melakukan semua itu, Ia bisa membuat manusia hidup (damai dengan hanya satu agama, tanpa pertentangan di antara mereka, tanpa konflik, tanpa darah dan air mata, dimana hanya ada kegembiraan, dimana hanya ada cinta, dimana hanya ada lagu-lagu kehidupan yang indah. Maka Allah berfirman,

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً
“…Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja),..” (QS Al Maidah: 48).

Begitulah akhirnya Allah mempertemukan kita dengan hakikat ini, yaitu hakikat bahwa hidup sepenuhnya hanyalah ujian semata dari Allah, dan bahwa hanya ada satu kata kunci dalam setiap ujian, duri-duri di sepanjang jalan kehidupan ini harus dilalui dengan penuh pertanggung jawaban. Allah berfirman,

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS Al Mulk: 2).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillâhilhamd
Kalau pengorbanan telah melekat begitu kuat dalam tabiat kehidupan, maka begitulah pengorbanan menjadi wajah abadi bagi iman. Sebab Allah hendak memenangkan agamaNya di muka bumi dengan usaha-usaha manusia yang maksimal. Suatu kisah dialog antara Saad bin Abi Waqqas dengan Rasulullah SAW,

Saad bin Abi Waqqas bertanya kepada Rasulullah “Wahai Rasulullah, siapakah yang mendapat cobaan paling berat?” Rasulullah menjawab, “Para nabi, lalu yang paling menyamai (kualitas) nabi. Dan seseorang akan diuji sesuai dengan kemampuannya. Jika di dalam keagamaan terdapat kekuatan, maka cobaannya akan semakin keras. Dan jika ada kelemahan dalam agamanya, ia hanya akan diuji sesuai dengan kadar keagamaannya itu. Maka cobaan tidak akan pernah meninggalkan seorang hamba, hingga ia membiarkan hamba itu berjalan di muka bumi tanpa sedikitpun dosa”. (HR Ibnu Najah dari Saad bin Abi Waqqas, sebagian maknanya terdapat juga dalam shahih Bukhari dan Muslim)

Begitulah pengorbanan menjadi harga mati bagi iman, dimana geliat iman hanya akan terlihat pada sebanyak apa pengorbanan di jalan Allah telah dilakukan, pada sebanyak apa sikap memberi telah dijalankan, pada sebanyak apa kelelahan menyembah Allah telah dilakukan, dan puncak dari segalanya adalah saat dimana penyerahan harta dan jiwa sebagai persembahan total kepada Allah SWT.

Begitulah pengorbanan menjadi harga mati bagi kemenangan. Setiap mimpi kemenangan dan kejayaan selalu diawali dengan kisah panjang pengorbanan. Maka Nabi lbrahim dinobatkan sebagai pemimpin umat manusia setelah ia menyelesaikan kisah pengorbanannya yang begitu panjang dan begitu mengharu-biru. Dan Rasulullah SAW mencapai kemenangan akhirnya setelah melalui masa-masa pengorbanan yang penuh darah dan air mata.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillâhilhamd
Para nabi dan sahabatnya telah menggariskan jalan kemenangan itu bagi kitab bahwa harga yang harus dibayar untuk itu adalah pengorbanan. Dan kita, kaum muslimin, yang kini terpuruk dalam semua bidang kehidupan, kalah dalam semua medan tempur, dan harus rela untuk hanya berada di pinggiran sejarah, harus benar-benar menyimak pelajaran itu dengan baik. Sebab Imam Malik mengatakan,

“Generasi tenakhir umat, tidak akan menjadi baik, kecuali hanya dengan apa yang telah menjadikan generasi pertama menjadi baik”.

Seorang sastrawan Muslim, Musthafa Shadiq Al-Rafi’i mengatakan, “Sesungguhnya kemenangan dalam pertarungan hidup tidaklah diperoleh dengan harta, kekayaan dan, kesenangan, tapi dari perjuangan keras, ketegaran dan kesabaran. Dan bahwa kemajuan manusia tidaklah diperjualbelikan atau diberikan secara gratis, tapi sesuatu yang kita cabut dengan paksa dari peristiwa-peristiwa kehidupan dengan kekuatan karakter yang dapat mengalahkan krisis dan tidak dimatikan oleh krisis.

lnilah jalan kembali itu, saat dimana cita-cita menuju ketinggian menguasai segenap pikiran dan jiwa.

Islam sangat membutuhkan manusia-manusia yang memiliki semua syarat untuk menciptakan peristiwa dan mengukir sejarahnya dengan tangannya sendiri, visi keislaman yang dapat menyinari kehidupan, tekad yang selalu dapat mengalahkan semua krisis, akhlak yang selalu dapat mengalahkan godaan. Dan manusia-manusia besar selalu hadir di tengah krisis, dan setiap krisis besar dalam sejarah sebuah masyarakat atau bangsa, pada mulanya selalu diselesaikan oleh sentuhan tangan dingin manusia-manusia besar itu. Dan begitulah pengorbanan menjadi bibit kebesaran manusia-manusia muslim.

Bahwa segenap hidup dan mati, segenap jiwa dan pikiran, segenap harta dan waktu, harus kita serahkan secara totalitas kepada Allah SWT yang akan diganjar oleh Allah SWT kelak dengan surga,

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar” (QS At Taubah: 111).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillâhilhamd
Hadirin jamaah Idul Adha rahimakumullah

Pengorbanan di jalan Allah memang harus dilakukan menuju jalan perubahan untuk sebuah kemenangan. Berbagai ujian dan cobaan hidup dalam kehidupan akan datang silih berganti. Beruntunnya musibah bagaikan mata rantai yang tak putus-putusnya. Masih terasa goncangan gempa 30 September 2009 yang lalu, datang lagi musibah di Wasior Papua, masih belum kering tangis di Papua, datang pula malapetaka yang tidak diduga-duga di Mentawai yang bersamaan pula meletusnya Gunung Merapi yang telah meluluhlantahkan kehidupan di sekitarnya.

Semua ini adalah suatu kejadian di luar kemampuan manusia. Allah lah yang mengetahui seluruh kejadian baik di langit maupun di bumi. Oleh karena itu, janganlah kita mengeluh dan menangisi segala peristiwa yang telah terjadi, mari kita bangkit, kuatkan semangat, kerahkanlah hati dan pikiran untuk memahami arti suatu kejadian dan kehidupan dengan membaca dan menelaah ayat-ayat Allah, baik yang tedapat di alam raya ini maupun yang tercantum dalam kitab suci Al Quran.

Mari kita kembangkan sikap rela berkorban demi kemaslahatan. Mari kita kembangkan sikap ikhlas dalam diri dan sanubari. Sikap ikhlas dan rela berkorban adalah sikap mukmin sejati. Rela mengorbankan kepentingan pribadi dan keluarga demi kepentingan yang lebih besar dan utama. Pribadi mukmin seperti inilah yang akan mampu menyelesaikan masalah masyarakat dan membawa ke arah kemajuan. Orang yang tidak memiliki keikhlasan dan tidak rela berkorban tidak pantas dan tidak akan pernah menjadi mukmin sejati. Orang-orang seperti itu cenderung mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompoknya, bahkan tega mengorbankan orang lain demi mencapai tujuan-tujuannya.

Semoga Allah SWT selalu melimpahkan tekad, kekuatan, dan pertolongan kepada kita untuk menggali, memahami, dan mempraktikkan suri teladan tersebut sebaik-baiknya dan semoga kita termasuk orang-orang yang menang, orang-orang yang sukses, amin ya rabbal ‘alamin.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillâhilhamd
Hadirin jamaah Idul Adha Rahimakumullah
Marilah kita tutup khutbah ini dengan doa, memohon kepada Allah SWT, yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang karena Dialah yang Maha Pengabul atas segala doa-doa.
Marilah kita merendahkan diri, menyadari segala kelalaian kita selama ini, begitu banyak kesalahan kita, kepada diri sendiri, kepada orang tua kita, kepada teman dan tetangga kita.

Betapa banyak kewajiban-kewajiban agama yang merupakan hak Allah terhadap kita yang belum kita laksanakan, betapa banyak aturan dan undang-undang Allah yang sengaja atau tidak sengaja kita tinggalkan. Mungkin saja ada saudara-saudara kita yang merasa sakit hati karena ulah dan sikap kita. Barangkali pula selama ini sepatah untaian doa pun belum pernah kita panjatkan kehadirat Allah untuk saudara-saudara kita yang tengah berjuang di jalan Allah.

باَرَكَ اللَّهُ لِى وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْأَنِ الْعَظِيْمِ . وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُم بِماَفِيَهِ مِنَ الأَيَاتِ وَذِكْرِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيُمُ . اَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَالغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَاذُنُوْبَنَا وَلِوالِدَيْنَا وارْهَمْهُمْ كَمَا رَبّيَاْنَ صِغَارًا وَلِجَمِعِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَات والمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَات الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأمْوَات إنك قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَعَوَات يَاقَ ضِيِ الحَاجَات

رَبَّنَا أَوْزِعْناَ أَنْ نَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَليْناَ وَعَلَى وَالِدَيْنَا وَأَنْ نَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْناَ بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَاالَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَاوأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إلَيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الحَيَاةَ زِيَادَةً لَّنَا فِي كُلِّ خَيرٍ وَاجعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَّنَا فِي كُلِّ شَرٍّ

رَبَّنَا أَدْخِلْنَا مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنَا مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْنَا مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيْرًا

رَبَّنَا اَتِنَافِى الدُّنْيَا حَسَنَة وَفِي الأخِرَةِ حَسَنَة وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ- سُبْحَانََ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى المُرْسَلِيْنَ وَالحَمْدُ ِللهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

والسلام عليكم ورحمة الله وبراكاته

 


Warning: Unknown: open(/tmp/php/2/2/1/sess_22174245f6bbd3a2916e3229392d6ccb, O_RDWR) failed: No such file or directory (2) in Unknown on line 0

Warning: Unknown: Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (3;/tmp/php) in Unknown on line 0