Agar Puasa Lebih Bermakna
Senin, 01/08/2011
Oleh : IRWAN PRAYITNO
Gubernur Sumatera Barat
Padang Ekspres
Dalam ajaran Islam telah sering dijelaskan bahwa puasa merupakan pilar agama Islam yang sarat dengan muatan-muatan hikmah. Para ahli dari berbagai disiplin ilmu, banyak menguak hikmah dan muatan filosofis yang terkandung dalam ibadah yang satu ini. Ada yang meninjaunya dari perspektif kesehatan, manajemen, psikologi, ekonomi, sosiologi, etika sosial, dan sebagainya.
Dengan analisis itu, puasa disimpulkan dapat membuat orang menjadi sehat, baik jasmani maupun rohani, puasa dapat meningkatkan kedisiplinan, membentuk insan yang jujur, berkepribadian luhur, mempunyai kepekaan sosial yang tinggi, dapat melahirkan pencerahan etika dan perilaku positif. Tidak cuma itu, puasa dapat meningkatkan etos kerja dan produktifitas, bahkan dapat mewujudkan pencerahan spiritual dan intelektual.
Namun, apakah hikmah puasa yang berlimpah itu tercapai di akhir ramadhan nanti, sehingga puasa mempunyai dampak terhadap pencerahan perilaku, pembangunan manusia yang sehat fisik dan mental, jujur, berdisiplin, mempunyai kepekaan sosial, etos kerja tinggi, produktif?
Anehnya, masih banyak orang yang berpuasa, kesehatannya justru semakin menurun. Pasca ramadhan ia selalu ke rumah sakit karena gangguan kesehatan. Kejujuran tetap di kesampingkan, kolusi dan korupsi masih dipraktikkan, etos kerja melempem, produktivitas menurun, semangat mengamalkan ajaran agama menjadi luntur, pencerahan spritual dan intelektual menjadi gelap, jiwa kepekaan sosial menjadi pekak, bekerja tetap tidak disiplin, dan kurang menghargai waktu.
Jika demikian, benarlah apa yang pernah dituturkan oleh Nabi kita, ”Betapa banyak orang puasa, tetapi tidak mendapatkan hikmah sedikitpun dari puasanya, kecuali rasa lapar dan dahaga saja. Dan betapa banyak orang yang shalat di malam hari, tetapi tidak mendapat apapun kecuali sekadar mengantuk akibat bangun malam” (HR. Ad-Darimi).
Memang, Islam selalu unggul dalam ajaran yang kaya hikmah atau makna filosofis. Namun sangat disayangkan, selalu saja terjadi kesenjangan antara muatan hikmah yang holistik itu dengan praktik yang ditemui di lapangan. Misalnya, Islam adalah agama yang sangat intens mengajarkan kebersihan, namun masih banyak umat Islam yang akrab dengan lingkungan kotor.
Islam adalah agama yang sangat menekankan kedisiplinan, tetapi umat Islam lah yang banyak melanggar disiplin dan membuang-buang waktu. Islam adalah agama yang syarat mengajarkan urgensi membaca dan menuntut ilmu, tetapi ternyata umat Islam lah yang malas membaca dan belajar, sehingga banyak terbelenggu dalam bingkai keterbelakangan dan kebodohan.
Islam mengajarkan etos kerja secara mengesankan, tetapi umat Islam lah yang masih banyak bermalas-malasan. Puasa dalam Islam mengandung segudang hikmah, namun realitas selalu berbeda dengan tujuan hikmah tersebut.
Inilah kesenjangan-kesenjangan antara ideal (das sein) dan faktual (das solen). Upaya pelacakan faktor-faktor terjadinya kesenjangan itu disebut dengan evaluasi, yaitu penilaian kembali ibadah puasa yang telah dilaksanakan. Evaluasi maupun introspeksi, merupakan keniscayaan dilakukan, demi perbaikan dan peningkatan kualitas ibadah di masa depan dan pada gilirannya merefleksikan implikasi positif secara vertikal dan horizontal.
Selamat menunaikan ibadah puasa, mari kita melakukan introspeksi (muhasabah), semoga puasa dan segala amal ibadah kita tahun ini menjadi lebih bermakna dan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Amin.
Padang Ekspres, 1 Agustus 2011
