Ramadhan dan Kesabaran
Jumat, 12/08/2011
Oleh Irwan Prayitno
Ramadhan disebut juga dengan syahrus shabr karena pada bulan ini umat Islam dilatih untuk bersabar. Menahan lapar adalah latihan sabar. Menahan dahaga adalah latihan sabar. Menahan untuk tidak berhubungan suami istri di siang hari adalah latihan sabar. Menahan agar tidak marah adalah latihan sabar. Menahan untuk tidak mengumpat adalah latihan sabar.
Pertama, mamfaat sabar adalahmendapat pahala tanpa batas. Firman Allah; Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu … (QS. Ali Imran : 200). Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS. Az-Zumar : 10).
Jika pahala puasa dinilai langsung oleh Allah SWT tanpa dibatasi melipatgandaan pahala yang biasanya, maka sangat wajar jika sabar mendapatkan pahala tanpa batas. Bukankah inti puasa adalah kesabaran? Puasa itu setengah sabar (HR. Tirmidzi)
Kedua, mendapatkan kebersamaan Allah (maiyatullah). Artinya, seseorang yang sabar, ia akan diliputi dan dinaungi Allah SWT dengan rahmat-Nya, perlindungan-Nya,
pertolongan-Nya, dan ridho-Nya. Adapun dzat Allah tidak sama dan tidak bersama dengan makhluk-Nya. Allah SWT berfirman : Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (QS. Al-Baqarah : 153) Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfal : 66)
Ketiga, ia selalu baik di sisi Allah tatkala mampu mengkombinasikan sabar dan syukur dalam kehidupannya. Jika mendapat kelapangan dia bersyukur dan itu baik baginya dan jika mendapat kesempitan dia bersabar. (HR. Muslim)
Sabar itu bukan berarti menerima segala sesuatu dengan rela atau pasrah tanpa perlawanan. Islam mengajarkan bahwa sabar itu ada pada tiga hal:
Pertama, sabar dalam ketaatan. Artinya seorang mukmin harus sabar menjalankan perintah Allah SWT meskipun perintah itu berat dan dibenci oleh nafsunya. Seorang mukmin harus tetap taat pada hal-hal yang telah diwajibkan baginya meskipun banyak hal yang merintangi, mulai dari kemalasan dan faktor internal lain sampai dengan cemoohan orang. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah : 153)
Kedua, sabar dalam meninggalkan larangan. Adakalanya orang sabar dalam menjalankan ketaatan kepadaAllah, tetapi ia tidak sabar dalam meninggalkan larangan.
Shalat dijalankan, tetapi judi juga tidak bisa ditinggalkan.Puasa dilakukan tetapi ghibah tetap jalan. Campur aduk antara dosa dan pahala.
Kesabaran juga harus diimplementasikan dalam meninggalkan kemaksiatan dan larangan-larangan Allah SWT. Orang yang mampu meninggalkan kemaksiatan, khususnya kemaksiatan emosional, seperti marah, disebut oleh Rasulullah SAW sebagai orang yang kuat, secara hakiki. Orang yang kuat bukanlah orang yang bisa mengalahkan lawannya, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah (Muttafaq \\\\\\\'alaih).
Ketiga, sabar dalam musibah. Inilah makna sabar yang sudah banyak dimaklumi oleh kebanyakan orang. Meskipun, seringkali orang-orang keliru menggunakan istilah sabar. Yaitu saat seseorang mendapatkan kesulitan lalu ia pasrah tanpa berusaha menghilangkan kesulitan itu atau mencari solusinya dikatakan sabar.
Padahal, sabar dalam Islam bersifat proaktif dan progresif, ia tidak statis tetapi telah didahului ikhtiar maksimal dan upaya untuk senantiasa mencari solusi atas problematika yang dihadapinya. Saat semua upaya telah dilakukan, saat ikhtiar mencapai batas maksimal, maka saat itulah sabar bertemu dengan tawakal. Ia menyerahkan kepada Allah.
Semoga di bulan Ramadhan yang juga dikenal sebagai bulan kesabaran ini kita mampu melatih kesabaran kita dan Allah memberikan rahmat kesabaran itu kepada kita semua. ***
Singgalang 2 Agustus 2011
