Mail to Friends

Harga Diri

Rabu, 19/10/2011

Oleh : Irwan Prayitno

Gubernur Sumatera Barat

Bagi manusia, harga diri sangatlah penting. Untuk mencari rezeki guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, manusia rela membanting tulang, memeras tenaga sampai tetes keringat terakhir. Untuk memperjuangkan harga diri lebih hebat lagi, banyak orang-orang rela mengorbankan harta bendanya bahkan nyawa sekalipun, sampai tetes darah terakhir, untuk memperjuangkan harga diri.

Semangat memperjuangkan harga diri itulah yang dibakar Soekarno–Hatta saat Indonesia melepaskan diri dari belenggu penjajah. Hanya berbekal senjata bambu runcing, masyarakat Indonesia berhasil mengusir penjajah dan memproklamirkan kemerdekaan.

Semua itu akibat harga diri bangsa Indonesia diinjak-injak bangsa lain. Maka, bangsa Indonesia bertekad memilih: ”merdeka atau mati”.

Ada banyak contoh yang bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, betapa pentingnya harga diri bagi seseorang. Pernah terjadi seorang pemilik warung dibunuh gara-gara sebungkus rokok.

Rupanya pemilik warung melontarkan kata-kata yang merendahkan harga diri si pembeli rokok yang kebetulan sering berutang. Merasa dihina dan harga dirinya dilecehkan, si pembeli rokok menyerang pemilik warung. Lalu terjadilah peristiwa itu. Masya Allah, kejadian ini tentu bukanlah contoh yang baik.

Menurut teori Abraham Maslow ada lima tingkat kebutuhan manusia. Kebutuhan pertama dan paling mendasar adalah kebutuhan fisiologis, contohnya sandang/pakaian, pangan/makanan, papan/rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernapas, dan lain sebagainya.

Kebutuhan kedua adalah kebutuhan keamanan dan keselamatan seperti: Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan lain sebagainya. Kebutuhan ketiga adalah kebutuhan sosial, misalnya memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.

Kebutuhan keempat adalah kebutuhan akan penghargaan, contoh: pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, termasuk harga diri. Kebutuhan kelima adalah kebutuhan aktualisasi diri, yaitu kebutuhan dan keinginan untuk bertindak untuk mengaktualisasikan dan mengekspresikan diri.

Artinya, setelah tiga tingkat kebutuhan pokok manusia terpenuhi, maka kebutuhannya meningkat pada level kebutuhan keempat dan kelima, yaitu kebutuhan penghargaan dan aktualisasi diri. Manusia butuh dihargai, manusia butuh aktualisasi diri dengan menciptakan sejumlah prestasi dan kesuksesan.

Namun, di sinilah banyak orang salah kaprah, mereka menggunakan kekuasaan, kedudukan atau harta supaya bisa dihargai. Mereka memaksakan kehendak agar orang lain menghargai dan menghormatinya. Banyak orang salah, mengira bahwa kekuasaan, harta, kecantikan atau ketampanan otomatis membuat seseorang dihargai dan dihormati. Tentu saja tidak.

Dalam bahasa sehari di Minang sering dilafazkan, ”kok kayo inyo, kayo sorang se lah, awak indak mamintak. Kok pintar inyo, pintar sorang se lah, awak indak ka batanyo...”. Artinya, kekayaan, kepintaran seseorang tak menjamin bahwa masyarakat akan menghargai dan bersimpati padanya.

Harga diri, prestise dalam bahasa Inggris atau izzah dalam bahasa Arab, dalam arti sesungguhnya bukan disebabkan oleh harta, jabatan, kecantikan atau ketampanan, tetapi perilaku. Jika kita berbuat baik kepada orang lain, maka orang juga akan berbuat baik kepada kita. Jika kita menghargai orang lain, maka orang lain juga akan menghargai kita. Hal ini sudah merupakan hukum alam atau sunnatullah.

Harga diri atau prestise suatu suku atau bangsa juga ditentukan oleh sikap, perilaku dan prestasi suatu suku atau bangsa tersebut. Dulu, masyarakat Minang sangat dihormati dan disegani karena prestasi masyarakatnya menjadi tokoh-tokoh penting dan berkualitas di pentas nasional. Dulu banyak warga Malaysia menimba ilmu di Ranah Minang atau guru dari Sumatera Barat didatangkan untuk mengajar di tanah jiran tersebut. Minangkabau terkenal sebagai masyarakat yang agamis dan memiliki budaya yang kuat.

Kini, nampaknya zaman telah berubah. Tari telanjang, video porno, perkosaan dan berbagai perbuatan maksiat lainnya telah menjadi berita sehari-hari. Jika hal ini yang terjadi, masihkah kita punya harga diri? Salahkah jika orang lain meremehkan dan mencibirkan kita?

Hanya ada satu jalan keluar jika kita tersinggung dan tak ingin etnis Minang dilecehkan, yaitu kembali menegakkan dan mengamalkan ajaran Islam. Di sana semua, ada jawabannya, di sana ada semua ada solusinya. Jangan jadikan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah hanya sebagai semboyan tanpa makna. Tuhan menghargai manusia berdasarkan keimanannya, bukan harta, pangkat atau kecantikan. Seperti firman Allah dalam surat 63:8, sesungguhnya kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin. (*)

Padang Ekspres 19 Oktober 2011


Warning: Unknown: open(/tmp/php/2/2/1/sess_22174245f6bbd3a2916e3229392d6ccb, O_RDWR) failed: No such file or directory (2) in Unknown on line 0

Warning: Unknown: Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (3;/tmp/php) in Unknown on line 0