Peluang Investasi dari China
Kamis, 22/12/2011
Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono memberikan instruksi kepada Duta Besar Republik Indonesia di China agar meningkatkan volume perdagangan Indonesia dengan China hingga mencapai 80 miliar dolar AS pada tahun 2015. Hal ini mendorong Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di China aktif melakukan berbagai kegiatan untuk mencapai apa yang ditargetkan presiden.
Di antara yang dilakukan KBRI di China adalah promosi trade, tourism, and investment (TTI) secara terpadu di Kota Qingdao, China pada tanggal 29 November 2011.
Kota Qingdao berada di salah satu provinsi terkaya di RRC, yaitu Shandong. Pertumbuhan ekonominya dalam beberapa tahun terakhir rata-rata adalah 16 persen per tahun, dan pendapatan produk domestik bruto (PDB) per kapitanya adalah 10.000 dolar US.
KBRI di China mengundang gubernur Sumbar untuk hadir menyampaikan presentasi potensi pertambangan dan energi, serta pariwisata yang dimiliki Sumbar. Sumbar terpilih sebagai satu-satunya peserta provinsi dari Indonesia karena potensi yang dimiliki di bidang pertambangan, energi dan pariwisata.
Acara TTI ini dihadiri oleh pejabat tinggi pemerintahan (terutama Pemerintah Kota Qingdao), Wakil Menteri Perindustrian RI dan tim dari Kementerian Perindustrian RI, Deputi BKPM RI, Duta Besar RI untuk China dan Mongolia, wartawan, akademisi dan lebih kurang 300 pengusaha China yang merupakan para CEO maupun pengusaha ternama dan asosiasi bisnis.
Instruksi Presiden kepada KBRI di China tersebut juga disambut antusias pengusaha di China mengingat saat ini Indonesia merupakan salah satu tempat yang tepat di dunia untuk berinvestasi. Amerika dan Eropa tengah dilanda krisis ekonomi. Utang mereka sudah terlalu banyak hingga ada yang lebih dari 100 persen PDB dan menyebabkan pengetatan anggaran. Pertumbuhan ekonominya juga menghadapi kemandekan, serta kondisi ekonomi masyarakatnya juga sedang dilanda kesulitan.
Sementara Indonesia, pertumbuhan ekonomi diperkirakan oleh lembaga seperti Bank Dunia maupun Bank Pembangunan Asia sekitar 6 persen untuk tahun 2011 dan rasio utang masih dalam batas aman, yaitu 26 persen dari produk domestik bruto (PDB). Di samping itu, masyarakat berpendapatan menengah bertambah terus setiap tahun.
Di level ekonomi bawah, masyarakat diberdayakan melalui kredit usaha rakyat, dan juga diberikan bantuan operasional sekolah, jaminan kesehatan untuk rakyat miskin dan berbagai bantuan lainnya. Hal ini menjadikan kondisi ekonomi Indonesia jauh lebih baik dibanding Eropa dan Amerika saat ini, meskipun Indonesia belum menjadi negara maju.
Melihat potensi investasi Sumbar dan respons dari pengusaha China, mereka lebih tertarik untuk investasi di sektor pertambangan yaitu bijih besi, pasir besi, batu bara, mangan dan lain-lain. Dan, mereka berminat untuk membuat pabrik pengolahan dari barang tambang yang ada tersebut.
Pengembangan investasi sumber daya alam (SDA) di Sumbar insya Allah akan berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah, yaitu dengan terbukanya peluang kerja dan pemasukan pendapatan daerah, serta meningkatnya jumlah uang beredar. Dana APBD/APBN tidak mungkin untuk menutupi biaya pengembangan investasi SDA tersebut.
Oleh karena itu, SDA yang selama ini terbiar dan tidak termanfaatkan harus segera dimanfaatkan agar menciptakan nilai tambah bagi daerah dan juga masyarakat. Jika tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah maupun masyarakat, maka dapat dilakukan dengan mendatangkan investor.
Dampak positif dan negatif dari investasi tentu akan ada. Namun, sudah barang tentu kita menginginkan adanya keuntungan dan meminimalkan dampak negatif dari investasi tersebut. Kita mengharapkan agar multiplier effect yang dihasilkan dari investasi ini adalah hasil-hasil yang positif.
Misalnya, jika pengusaha China jadi berinvestasi di Sumbar dan merasakan kenyamanan, maka bukan tidak mungkin Sumbar akan menjadi tujuan wisatawan China. Sudah tiga tahun terakhir ini jumlah wisatawan China tumbuh pesat (2009: 47 juta, 2010: 57,39 juta, 2011 diprediksi 65 juta orang). Dan, ini potensi bagi Sumbar maupun Indonesia untuk mendatangkan wisatawan dari China tersebut.
Sebagai warga yang mendiami wilayah Sumbar, kita perlu memberikan respons positif kepada investor agar ada hasil positif dari investasi tersebut. Dan, tentu saja sepanjang investor tersebut mematuhi peraturan yang ada dan tidak menimbulkan dampak negatif di masyarakat. Peran ninik mamak dalam mendukung digunakannya tanah ulayat sangat membantu menciptakan iklim investasi yang sehat.
Demikian juga peran para pemuda dalam menyukseskan investasi, yaitu dengan membantu terciptanya keamanan dan mencegah adanya tindakan negatif seperti pungutan liar dan gangguan keamanan lainnya.
Dukungan dari pemerintah kabupaten/kota dan jajaran SKPD sangat membantu masuknya investasi ke Sumbar. Investor pun jika mereka diberikan kenyamanan dan dukungan keamanan akan memberikan umpan balik kepada masyarakat baik berupa tanggung jawab sosial perusahaan maupun menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat.
Investasi merupakan salah satu bagian dari kegiatan ekonomi yang mendukung terciptanya pertumbuhan ekonomi. Jika investasi tidak masuk ke Sumbar, maka hilang satu potensi dari aktivitas ekonomi yang seharusnya dapat memberikan nilai tambah bagi ekonomi Sumbar saat ini.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, PDRB Sumbar triwulan III/2011 dibanding triwulan III/2010 naik 6,11 persen. Pertumbuhan triwulan III/2011 dibanding triwulan II/2011 naik 3,08 persen. Ini memperlihatkan kondisi ekonomi Sumbar sehat secara makro dan siap menerima masuknya investasi.
Kita juga berharap bahwa datangnya investasi akan berdampak kepada semakin bagusnya ekonomi Sumbar. Dukungan masyarakat dan semua stakeholders sangat dibutuhkan dalam hal ini. (*)
[ Red/Redaksi_ILS ]
Padang Ekspres 21 Desember 2011
