Mail to Friends

Saya Adalah Putera Minang Tulen, Cuma Numpang Lahir di Pulau Jawa

Kamis, 22/11/2007

Padang Express - Banyak orang yang tiba-tiba saja menanyakan kepada saya ”Mas, Jawa-nya dari mana?” Bahkan ada pula yang begitu bersalaman untuk berkenalan, langsung mengajak saya bicara dengan bahasa Jawa. Padahal saya adalah putra Minang tulen. Cuma numpang lahir di Pulau Jawa.

Saya dilahirkan di Kota Yogyakarta 20 Desember 1963, ketika kedua orang tua saya sedang tugas belajar di kota itu. Usia tiga tahun, saya diboyong ke Semarang, lalu ke Cirebon. Di kota udang ini saya masuk ke Sekolah Dasar. Mungkin karena nama saya Irwan Prayitno ada huruf ”O” di akhir katanya, banyak orang menduga saya made-in Jawa padahal sebenarnya tidak.

Keluarga Asli Minang yang Harmonis dan Bahagia

Datuak sebagai aktivis Islam, menikah di usia muda dengan sesama aktivis dalam rangka mempercepat dakwah Islam. Kedewasaan, dinamika kehidupan dan kesamaan pemikiran membentuk pasangan muda ini menjadi keluarga yang harmonis dan bahagia

Sang istri, Hj Nevi Zuairina yang lahir pada 20 September 1965 berasal dari suku Sepanjang. Aktivitas keseharian sang istri adalah sebagai Pengurus dan Pendiri TK Anak Bangsa di Komplek DPR RI, Sekretaris Ranting Aisyiah Kalibata dan Pengurus Yayasan Tazkiyatun Nafs.

Datuak memiliki 10 orang anak, yaitu: Jundi Fadhlillah, Waviatul Ahdi, Dhiya’u Syahidah, Anwar Jundi, Atika, Ibrahim, Shohwatul Islah, Farhana, Laili Tanzila dan si bungsu Taqiya Mafaza. Kesepuluh anaknya memiliki prestasi tersendiri. Di antaranya ada yang menjadi juara umum di sekolahnya.

Keluarga Datuak yang memiliki banyak anak sempat mengherankan tetangga mereka. Namun Datuak dan istri tidak pernah merasa repot dengan anak mereka yang banyak. Mereka ikhlas dalam menjalani kehidupan sehingga tidak dipusingkan dengan anak banyak.

Ayahanda Datuak Drs H Djamrul Djamal SH, adalah Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) dan Dosen IAIN Imam Bonjol yang menamatkan pendidikan di PTAIN (IAIN) Yogyakarta dan Fakultas Hukum Unand. Ia berasal dari Suku Bendang Baruah, daerah asal Simabur, Batusangkar

Ibundanya, Dra Hj Sudarni Sayuti (Alm) yang juga Dosen IAIN Imam Bonjol Padang, berasal dari Suku Tanjuang dimana daerah asalnya adalah Taratak Paneh, Kuranji, Padang. Pendidikan yang sempat ditamatkannya adalah PTAIN (IAIN) Yogyakarta.

Didikan orangtua Datuak yang sarat dengan nilai Islam dan ilmu pengetahuan telah membentuk watak yang mendukung keharmonisan dan kebahagiaan rumah tangganya.

Bapak Mertua Datuak, Drs H Zulchair Narun, dari Suku Jambak, merupakan Pensiunan Departemen Perindustrian. Ia Berasal dari daerah Salido, Pesisir Selatan. Sementara Ibu Mertua, Hj. Elbiza Rose, suku Sepanjang, berasal dari Indarung, Lubuk Kilangan, Padang.

Adik-adiknya, Khairul Ikhwan, Adib Al Fikri dan Dewi Fitriana. Mereka sedang menyelesaikan pendidikan S2.

Datuak dan istri telah menunaikan ibadah Haji dan Umroh. Datuak berkesempatan melakukan Umroh dengan rombongan PKS, kemudian dengan Wakil Ketua DPR RI, AM Fatwa, lalu dengan Wakil Presiden RI, Hamzah Haz.

 

Datuak Penghulu, Mengabdi Bagi Masyarakat

Di kampung asalnya, masyarakat memberikan kepercayaan kepada Datuak untuk diangkat menjadi Datuak Penghulu Suku Tanjuang di Kanagarian Pauh IX yang sekarang sebagian wilayahnya menjadi Kecamatan Kuranji Kota Padang. Sebagai Datuak Penghulu di kaum dan sukunya ia mendapat gelar Datuak Rajo Bandaro Basa.

Kehidupan bermasyarakat senantiasa dilaksanakan dalam berbagai kesempatan. Keterlibatan dengan masyarakat melalui pendidikan dilaluinya dengan aktif di Yayasan Pendidikan Islam Cendikia dan ADZKIA yang berkedudukan di Padang. Bahkan ia pun dipercayakan menjadi Dewan Penyantun Yayasan INS Kayutanam.

Pagi subuh Datuak sudah bertemu dengan masyarakat melalui ceramah-ceramah yang ia berikan dan dilanjutkan dengan tarbiyah. Hingga malam ia mengikuti rapat-rapat di DPR RI membahas persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.

Datuak dipercaya menjadi Pembina Ikatan Kekeluargaan Masyarakat Pauh Sembilan Wilayah Utara (IKAMPAWIRA).

Di samping itu, menjadi Dewan Pengarah Pengurus Pusat Gebu (Gerakan Ekonomi dan Budaya) Minang. Untuk berbakti pada kota asalnya Datuak dipercayakan menjadi Pembina Badko IKK (Badan Koordinasi Ikatan Keluarga Kota) Padang.

Di SMA 3 Padang, tempat ia sekolah dan pernah menjadi juara umum, Datuak diamanahkan sebagai Dewan Penyantun Komite Sekolah dan Ketua Dewan Pembina Alumni SMA 3 Padang.

Darah Muhammadiyah yang mengalir pada dirinya diaktualisasikan dengan menerima amanah menjadi Pembina IKBAL AMM Sumbar Jaya (Ikatan Keluarga Besar Alumni Angkatan Muda Muhammadiyah Sumatera Barat Jakarta Raya), kemudian berkiprah sebagai dosen Magister Manajemen dan Anggota Senat di Universitas Muhammadiyah Jakarta.

 

Kesemua hal ini telah menjadikan Datuak diterima di berbagai lapisan masyarakat. Bahkan di pentas Nasional kini, Datuak telah memiliki relasi luas, di antaranya para pejabat negara, investor asing, LSM dalam dan luar negeri, jurnalis dalam dan luar negeri, aktivis mahasiswa, politisi dan pimpinan partai politik, peneliti dalam dan luar negeri, akademisi, ulama, intelektual, ekonom, masyarakat profesional, kalangan militer dan lainnya. Luasnya hubungan Datuak dengan dunia luar dan berbagai kalangan ini merupakan potensi untuk mambangkik batang tarandam dan mengabdi bagi masyarakat. (*)


Warning: Unknown: open(/tmp/php/2/2/1/sess_22174245f6bbd3a2916e3229392d6ccb, O_RDWR) failed: No such file or directory (2) in Unknown on line 0

Warning: Unknown: Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (3;/tmp/php) in Unknown on line 0