Mail to Friends

Ciptakan Generasi Bebas Korupsi

Selasa, 30/12/2008

Padang, Padek—Guru memiliki peran strategis menciptakan generasi bebas korupsi. Peran itu bisa dilakukan dengan mengajarkan nilai-nilai kejujuran pada anak didik. Namun harus disertai tindakan nyata seperti pembuatan kantin kejujuran di sekolah.

Demikian diungkapkan Kepala Bagian Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Ardhin Ikhwan dalam Seminar Nasional tentang Pendidikan dan Pemberantasan Korupsi, Sabtu (27/12) di Fakultas Bahasa Sastra dan Seni (FBSS) Universitas Negeri Padang (UNP).

“Dari awal atau usia dini, anak-anak mesti diajarkan nilai dan perilaku kejujuran. Jika dari kecil sudah biasa jujur, dewasa dan hari tua akan tetap berprilaku jujur, melekat dan menjadi karakter dirinya. Seperti kata pepatah Minang, ketek taraja-raja, gadang tabao-bao, tuo indak taubah lai,” ujar Ardhin.

Seminar nasional yang diselenggarakan Aruuni Indonesia ini, juga dihadari Ketua DPRD Sumbar Leonardy Harmainy, anggota DPR RI Dr Irwan Prayitno, dan guru-guru dari TK, SD, SMP, dan SMA se-Sumbar. Menurut Leonardy, pembentukan karakter yang jujur harus dimulai sejak usia dini dan pelaksanaannya tidak bisa dilepaskan dari peran guru di sekolah.

“Guru harus mampu mentransfer nilai kejujuran pada anak didik. Namun tidak cukup dengan kata-kata harus disertai ketauladan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Leonardy yang juga Ketua DPD I Partai Golkar Sumbar tersebut. Namun, lanjutnya peran orang tua di rumah tidak bisa dikesampingkan karena besar pengaruhnya terhadap perilaku kejujuran anak.

Ketua Aruuni Indonesia Ernita Arif menuturkan, pada dasarnya setiap guru sudah mengetahui perannya dalam membentuk perilaku anak didik yang jujur. Namun, seiring perjalanan waktu, peran tersebut semakin lama, semain merosot. Sebab, kadang kala guru lebih fokus memberikan pengetahuan umum seperti matematika, ilmu pengetahuan alam (IPA).

“Sementara pengetahuan yang menyangkut perilaku, budi pekerti menjadi terabaikan, ungkap Ernita didampingi Penasehat Aruuni Indonesia Syamsul Bahri. Untuk itu, kata Ernita, setiap pendidik ata guru, perlu diingatkan kembali, bagaimana cara membentuk karakter anak yang jujur. (geb)

Padang Eskpres 30 Desember 2008