Seperti Sudah Ada yang Mengatur
Jumat, 23/04/2010
Kamis, 15 April 2010
Hj. Nevi Zuairina
PADANG - Pencalonan Irwan Prayitno sebagai calon gubernur Sumbar di detik-detik terakhir tidak hanya mengejutkan masyarakat, tapi juga bagi Hj. Nevi Zuairina. Kendati mengaku ikhlas melepas sang suami yang telah menemaninya sejak 1985 lalu untuk kembali maju sebagai calon gubernur Sumbar, Nevi tak bisa menyembunyikan rasa kekagetannya.
Sejak awal, menurut putri Salido, Pesisir Selatan ini, Irwan hanya ingin menjadi pendukung calon gubernur yang sudah ditetapkan Partai Keadilan Sejahtera. “Tapi, kok tiba-tiba seperti ada yang mengatur, ada yang menarik-narik. Mudah-mudahan yang mengatur semua ini ya Allah,” ujar Nevi melalui ganggang telepon kepada Singgalang, Rabu (14/4).
Melaksanakan tugas sebagai anggota DPR-RI, Irwan dan keluarga menetap di Jakarta. Karena pencalonan yang mengejutkan, Nevi belum sempat mendampingi sang suami yang beberapa hari ini lebih banyak menghabiskan waktu di Padang. Bahkan, setelah pencalonan Irwan, Nevi mengaku ada perubahan ritme hidup di keluarga besarnya.
Maklum, sang suami saat ini bolak-balik Padang-Jakarta. Paling dua hari di ibukota, selebihnya Irwan berada di Padang. “ Bagaimana pun ini mengubah ritme hidup kami. Konsekuensinya pasti lebih sibuk. Tapi, ini risiko. Bagi kami, ini sudah biasa,” ujar Nevi.
Pencalonan Irwan menurutnya adalah amanah dari partai. Keduanya yang sama-sama ditempa sebagai kader PKS sudah terbiasa dengan apa pun amanah yang diberikan partai. Prinsip politik PKS menurutnya, apa yang dilakukan merupakan bagian dari dakwah. Setiap kader PKS harus siap dengan tugas-tugas dakwah tersebut.
Sebagai istri, Nevi mengaku tentu sangat ingin sang suami selalu memiliki banyak waktu untuk keluarga. “ Tapi, bagi kita sudah terbiasa dalam dakwah. Sebagai istri, saya dukung semua ini untuk masyarakat,” ujar Nevi lagi.
Pencalonan sang suami menurut Nevi lebih karena dorongan partai. Sejak awal PKS telah menetapkan calon gubernur sendiri. Namun realitasnya, tidak banyak yang melirik PKS. Ini realitas yang justru membangkitkan semangat kader PKS. Nevi menilai, semua ini tidak sekadar persoalan maju sebagai calon gubernur, namun sudah terkait dengan marwah dan harga diri partai. Bagaimana pun menurutnya, pendukung PKS di Sumbar sangat banyak dan PKS mempunyai harga diri untuk berjuang dan memberikan yang terbaik untuk daerah ini.
Bagaimana dengan pencalonan Irwan yang sudah kedua kalinya? Nevi menapik kekhawatiran kalau nantinya hasil pilkada di Sumbar tetap belum berpihak kepada Irwan. “Kita di PKS tidak ada istilah menang atau kalah. Yang ada itu hanya perjuangan. Tak jadi gubernur, itu bukan berarti kalah. Dahulu kita sudah membuktikan, walaupun tak jadi gubernur, tapi kepercayaan terhadap partai justru makin bertambah,” terang Nevi.
Ketika diminta berandai-andai Irwan nantinya terpilih menjadi gubernur Sumbar, Nevi malah berpesan kepada sang suami untuk menjadi pelayan yang baik untuk masyarakat. “Insya Allah, sesuai jargon PKS, kita ini pelayan masyarakat. Maka, layanilah masyarakat sebaik-baiknya. Masyarakat memang banyak permintaan, banyak keinginan, di saat itu kita harus pandai memilah dan menimbang,” tambah Nevi.
Di balik semua dinamika dalam pencalonan Irwan, Nevi melihat ada satu hikmah yang membesarkan hatinya. Bagi perempuan yang menghabiskan banyak waktu di rantau ini, pencalonan Irwan setidaknya akan membuatnya lebih banyak berada di kampung halaman untuk menemani sang suami. “ Saya sempat sembilan tahun di kampung. Ke depan saya mungkin lebih banyak waktu di kampung, ya ikut Bapak,” ujar Nevi yang masih mengingat banyak perbendaharaan bahasa Minang-nya. (014)
http://www.hariansinggalang.co.id/index.php?mod=detail_berita.php&id=6204
