Mail to Friends

Duo Prayitno Tampil Sebagai Pembicara

Senin, 31/05/2010

Kab. Solok | Minggu, 30/05/2010 21:06 WIB

Hardiknas di Kota Solok
Pepi Rosanty - Padang Today

Dua profesor yang juga tokoh dan praktisi pendidikan tampil sebagai pembicara pada peringatan hari pendidikan nasional (Hardiknas) di kota Solok. Mereka adalah Prof Dr H Irwan Prayitno Psi MSc, Dt Rajo Bandaro Basa dan Prof Dr H Prayitno MSc Ed.

Duo Prayitno itu tampil pada seminar bertajuk Wujudkan Pendidikan Berkarakter dalam Mewujudkan Peradaban Bangsa di Gedung Kubuang Tigo Baleh Kota Solok, beberapa waktu lalu.

Dalam pemaparannya Irwan mengatakan, secara umum pendidikan yang dilaksanakan
saat ini cendrung hanya sekedar mengejar aspek kognitif. Pada seminar yang diikuti sekitar 500 guru dan pemerhati pendidikan itu, Irwan menambahkan proses belajar mengajar saat ini seolah-olah hanya sekedar untuk mengejar target, termasuk target agar siswa lulus ujian nasional (UN).

Padahal menurut Irwan, mantan ketua komisi bidang pendidikan DPR RI, justru aspek afektif dan psikomotorik jauh lebih penting agar terlaksana pendidikan yang berkarakter yang pada akhirnya akan melahirkan anak didik berkarakter pula.
Pendidikan seharusnya tidak hanya menambah jumlah hapalan di kepala siswa, tetapi juga harus mengubah prilaku dan membentuk karakter siswa.

Irwan yang juga pendiri Yayasan Pendidikan Azkia mencontohkan pola yang diterapkan di Yayasan Azkia. Selain belajar secara umum, murid-murid Azkia juga diajarkan berdoa, menghormati orang tua, shalat berjamaah, dan lain-lain. Untuk kontrol dan evaluasi kepada orang tua murid ditanyakan apakah mereka melakukan apa yang telah diajarkan di sekolah, di rumah masing-masing.

Lebih jauh Irwan menekankan yang paling penting, guru dan orang tua menjadi model atau contoh panutan bagi anak didik. “Kalau prilaku orangtua dan guru tidak baik, niscaya sikap anak akan tidak baik pula,” jelas Irwan.

Prof Prayitno, guru besar Universitas Negeri Padang, juga mengungkapkan hal senada. Siswa menurutnya, tidak hanya harus cerdas, tapi juga harus berkarakter. Bisa jadi ada orang yang bisa berpenghasilan Rp 20 milyar setahun. Dalam hal ini bisa dipastikan bahwa ia adalah orang yang cerdas. Tapi apakah ia memiliki karakter?

Sebelumnya Irwan juga menjelaskan bahwa dalam bahasa Jawa Prayitno berarti orang yang peduli tentang pendidikan. “Dalam agama Islam, nama adalah doa. Al-hamdulillah doa itu terkabul, kami berdua adalah orang yang peduli pendidikan,” ujar Irwan yang diiringi tepuk tangan peserta seminar.

Seminar yang dilaksanakan oleh Yayasan Ikraq Bismirabbika ini dimoderatori oleh Zuhelmi MPd. Masalah seputar ujian nasional banyak menjadi kritik dan pertanyaan peserta. Seorang peserta menyatakan UN menjadi buah simalakama. Jika dilakukan secara fair, ternyata banyak siswa yang tidak lulus, tetapi siapa yang tega jika banyak anak didik mereka yang tak lulus UN?. [*]


http://www.padang-today.com/index.php?today=news&id=16836