Terima Pilkada dengan Lapang Dada
Rabu, 14/07/2010
Rabu, 14 July 2010
PADANG - SINGGALANG
Sejumlah tokoh Sumatra Barat berharap, hasil Pilkada gubernur dan wakil gubernur diterima dengan lapang dada oleh semua pihak. Bagaimanapun juga, Pilkada badunsanak adalah komitmen semua calon. Siap kalah siap menang yang diucapkan juga sudah membumi di tengah masyarakat. Demikian rangkuman wawancara Singgalang dengan sejumlah tokoh Sumbar, antara lain H. Azwar Anas (mantan gubernur dan menteri), H. Hasan Basri Durin (mantan gubernur dan menteri), M. Sayuti Dt. Rajo Penghulu (Ketua LKAAM Sumbar) dan pengamat sosial-politik, Dr. Damsar yang dihubungi secara terpisah, Selasa (13/7) di Padang.
Hasil Pilkada gubernur dan wagub, berdasarkan hasil penghitungan KPU Sumbar, Senin (12/7), pasangan Irwan Prayitno-Muslim Kasim ((Irwan-MK) meraih 657.763 suara (32,44 persen). Marlis Rahman-Aristo Munandar (MATO 531.601 suara(26.22 persen), Endang Irzal-Asrul Syukur 416.877 suara (20,56 persen), Fauzi Bahar-Yohannes Dahlan 531.601 suara (16,28 persen) dan Ediwarman-Husni Hadi 91.726 suara (4,52 persen).
Pihak KPU pun menyatakan, karena ada pasangan calon yang meraih suara di atas 30 persen, sesuai undang-undang, Pilgub berlangsung satu putaran.
“Oleh karena itu terimalah dengan ikhlas. Itu sudah menjadi pilihan terbaik rakyat Sumbar. Jangan diusik lagi. Mudah-mudahan pilgub diridhai Allah SWT. Perlu diingat, calon yang menang jangan besar kepala dan calon kalah jangan pula sakit hati. Yakinlah, semua itu sudah diatur oleh Allah SWT,” ujar Azwar Anas.
Menurut mantan Menteri Perhubungan dan Menkokesra era Presiden Soeharto ini, Pilkada badunsanak yang diikrarkan di hadapan orang banyak, tapi setelah Pilkada justru bertikai, akan mendatangkan mudarat. Sebab ikrar itu disaksikan juga oleh Allah, SWT dan dicatat oleh malaikat.
Bahkan dalam ayat-Nya, jelas-jelas dikatakan di hari pembalasan nanti, mulut ditutup, yang bicara itu anggota tubuh lain. Tak bisa didustai. Oleh karena itu, apa yang sudah diucapkan di awal Pilkada, tapi dalam perjalanan mangkir, Allah akan membalasnya kelak.
“Lebih afdal, kita ikhlas menerimanya. Yakinlah, jalan yang benar itu akan diperlihatkan-Nya. Salah jalan yang ditempuh, akan ketahuan akhirnya. Menerima dengan ikhlas adalah ibadah,’tutur dia seraya menyebut, dalam aspek perolehan suara, selisihnya cukup jauh antara pemenang pertama dengan pemenang kedua.
Sementara Hasan Basri Durin menyebutkan, hasil Pilkada adalah pilihan rakyat Sumbar. Mau apa lagi. Harus diterima dengan ikhlas dan lapang dada. Jangan pula persoalan kecil dibesar-besarkan yang kemudian akan menyebabkan pula kerugian bagi masyarakat dan daerah.
“Siap kalah dan siap menang yang diucapkan harus diimplementasikan,” kata Hasan yang dihubungi via telepon tadi malam.
Hasan berharap, tidak usahlah macam-macam dengan hasil Pilkada tersebut, karena rakyat Sumbar sudah menentukan pilihannya. Untuk itu, kepada semua kandidat yang belum beruntung, pendukungnya diharapkan bersikap arif dan menerima hasilnya.
Menurut Hasan, alangkah lebih baik mendukung pemerintahan ke depan dengan pemimpin yang baru. Apalagi Sumbar pascagempa butuh dukungan semua elemen, sehingga apa yang menjadi cita-cita bersama membangun daerah untuk kesejahteraan rakyat tercapai.
“Jangan pula energi kita habis gara-gara Pilkada. Saatnya bersama-sama membangun Sumbar,” harap Hasan.
Sedangkan M. Sayuti Dt. Rajo Penghulu mengharapkan, tidak perlu lagi dipanas-panasi terkait hasil rekapitulasi. Sebab itu adalah pilihan rakyat yang mesti dihormati. Lagi pula sejak awal sudah ditanamkan Pilkada badunsanak.
Pepatah Minang menyebut, “api padam, puntuang anyuik”. Artinya setelah panas saat kampanye Pilkada, usai Pilkada harus dingin kembali. Baik semua calon maupun tim suksesnya.
Jangan diupayakan menjadi api padam, puntuang barasok, apalagi ada provokasi yang dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan masyarakat.
Masyarakat diimbau tidak mudah terpengaruh yang akan merusak tatanan Minangkabau yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi.
“Sekarang, mari kita dukung pilihan rakyat. Jangan dinodai hak rakyat. Kepada semua calon berlapang dadalah menerima pilihan bersama itu,” katanya.
Mantan anggota DPRD Sumbar dari fraksi Golkar ini berpendapat, kalau ada persoalan hukum, proses menurut jalurnya, jangan menghambat proses yang dijalani KPU Sumbar.
Sedangkan pengamat sosial-politik Dr. Damsar mengatakan, sikap berbeda terhadap hasil pleno KPU Sumbar adalah yang biasa. Namun, perbedaan itu jangan sampai menciptakan konflik.
Menurut dosen FISIP Universitas Andalas ini, Pilkada Sumbar sudah berjalan dengan lancar dan baik, amat disayangkan kalau jadi ternoda.
Menurut Damsar, Pilkada yang berlangsung aman di Sumbar merupakan implementasi sikap kultural masyarakat. “Perbedaan bukan sesuatu yang buruk, malah untuk saling menguatkan,” harapnya.
Secara sosio-kultural, masyarakat Sumbar juga terbiasa meredam konflik untuk kepentingan yang lebih besar. “Kita punya budaya kekerabatan. Perbedaan itu diselesaikan secara musyawarah,” terang Damsar.
Terkait dengan penolakan salah satu tim sukses pasangan calon gubernur, Damsar mengajak untuk perpikir jernih.
“Lima tahun lalu calon gubernur incumbent kan mengalahkan Irwan. Irwan legowo dengan kekalahan itu,” ungkap Damsar.
Kekalahan dalam Pilkada tambah Damsar adalah sesuatu yang wajar. Ia mencontohkan, dalam Pilkada serentak di Sumbar, sejumlah incumbent juga kalah.
“Di beberapa daerah incumbent juga kalah. Itu biasa, sejauh ini tak ada masalah,” tambah Damsar.
Ucapan Selamat
Kemenangan Irwan-MK juga sudah sampai kepada Presiden SBY dan Ibu Negara Ny. Ani Yudhoyono. SBY dan Ibu Ani dalam pesan singkatnya kepada Irwan Prayitno mengucapkan selamat atas penetapan sebagai gubernur Sumbar terpilih 2010-2015. “Semoga dapat menjalankan tugas dengan sukses, sesuai amanat rakyat”.
Sesuai ketentuan gubernur terpilih akan dilantik Mendagri, selanjutnya akan diterima presiden dalam kesempatan pertama.
(101/014)
http://www.hariansinggalang.co.id/index.php?mod=detail_berita.php&id=7789
