Mail to Friends

Air Bagai Pesawat, Bumi Rasa Kiamat; SBY-Boediono Datang, Irwan di Mentawai

Kamis, 28/10/2010

Kamis, 28 Oktober 2010

Khairul Jasmi dan Imran Rusli

PADANG—Tsunami di Mentawai adalah lidah maut yang menyambar di malam kelam. Maut itu, merobek alam dengan ganas. Mentawai sejak Senin malam telah jadi ladang air mata. Tangis, tak tertangiskan lagi. Sebuah kisah memilukan, menyibak selimut nurani kita.

Beberapa orang yang selamat menyebutkan, air nyaris setinggi pohon kelapa. Warga tak menyangka, jika tsunami akan datang, sebab goncangan gempa tak begitu kuat.
Lantas, warga bertanya, kenapa mereka tak putus dirundung malang?

Tuan di Tanah Tepi, terdengarkah olehmu deru air laut kami? terdengarkah tangis bayi kami yang tiba-tiba lenyap dilamun gulungan air laut?

“Saya gelisah,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sebelum ia sempat datang, karena masih di Hanoi, Wapres disuruh duluan. Sementara itu, Gubernur Irwan Prayitno, lebih memilih tinggal beberapa hari di Mentawai bersama rakyatnya. Itulah sejumlah peristiwa penting yang terjadi di Sumbar, Rabu (27/10)

Tak jamak presiden dan wakilnya sekali datang ke sebuah lokasi bencana. Namun kini, hal itu terjadi. Tak jamak pula, gubernur tak bergegas menyambut presiden tiba. Namun, Irwan justru tinggal di Mentawai sejak kemarin untuk beberapa hari.

Tewas
Di tengah kegalauan dan ketakutan, ditemukan seorang bayi perempuan usia 2 minggu tewas di lokasi pengungsian Dusun Muntei Baru, Desa Betumonga, Kecamatan Pagai Utara, Selasa (26/10). Korban tewas diduga karena kedinginan, sebab pengungsi tidak memiliki tenda atau fasilitas penghangat lainnya, sementara hujan turus deras sejak kemarin senja.

Menurut Brenti Sababalat, salah seorang pengungsi, anak perempuan tersebut ditemukan dalam parit, terpisah dari orang tuanya yang kemungkinan hanyut dibawa gelombang tsunami yang melanda dusun tersebut Senin (25/10) malam.

“Dia telentang dalam keadaan telanjang di parit, orang tuanya tak bisa kita temukan, mungkin hilang,” kata Brenti pada wartawan Puailiggpoubat Supri Lindra di Sikakap, kemarin.

Brenti bersama beberapa pengungsi lainnya tiba di Sikakap Selasa malam. Menurut dia masih terdapat sekitar 40 pengungsi lagi di lokasi pengungsian di perbukitan Dusun Muntei Baru.

“Mereka tak punya tenda, selimut, makanan, senter, tikar, jadi kami hujan-hujanan sepanjang malam, saya tidak tahan, bersama beberapa orang warga kami putuskan pergi ke Sikakap,” katanya lagi.

Bagai kiamat
“Bagai kiamat Bang, lumat bang, airnya kencang seperti pesawat,” tutur seorang warga di Sikakap. Dan kemarin, mayat bergelimpangan, sebagian telah dimasukkan ke dalam kantong mayat. Wapres Boediono, Ketua DPD Irman Gusman dan sejumlah menteri, memanjatkan doa di depan kantong jenazah yang dijejer begitu rupa.

Marasai
Senin 26 Oktober 2010, pukul 21,42 WIB Mentawai diguncang gempa. Belum sembuh luka gempa 12-13 September 2007, 14 Februari 2008, 30 September 2009, kini 25 Oktober 2010 gempa kembali menghoyak Mentawai. Kali ini bahkan dilengkapi pula dengan tsunami.

Tidak kurang dari 18 dusun di 8 desa dan 4 kecamatan diterjang tsunami setinggi 1-3 meter. Data di Posko Lumbung Derma Peduli Gempa Tsunami Mentawai yang dikoordinir beberapa NGO di Padang antara lain YCM Mentawai, Walhi Sumbar, KPMM, LBH, PBHI, organisasi mahasiswa mentawai dan 24 NGO lainnya di Sumbar, hingga pukul 20.02 WIB, Rabu (27/10) tercatat jumlah korban meninggal sudah 311 orang dan hilang 410 orang.

Frans Siahaan, staf YCM Mentawai menyebutkan, pihak-pihak yang ingin mendistribusikan bantuan ke Pulau Pagai dan Sipora bisa juga melalui Posko Lumbung Derma Peduli Gempa Tsunami Mentawai yang sekretariatnya di kantor YCM Mentawai Padang.

Tak putus dirundung bencana
Terlepas dari berbagai upaya penyaluran bantuan dan manajemen penanggulangan bencana di pengungsian yang kini giat dilakukan berbagai pihak kita patut bertanya-tanya, mengapa Mentawai tak putus-putusnya dirundung malang?

Kalau pakar gempa dan tsunami dari LIPI ditanya soal ini dengan gamblang dia akan punya seabrek jawaban yang berbasiskan metologi ilmiah. Lain halnya dengan orang-orang di Mentawai. Walaupun sudah akrab dengan gempa sejak ratusan tahun lalu, yang tergambar dan terefeleksikan dalam berbagai cerita rakyat, orang-orang di Mentawai masih bingung mengapa mereka terus-terusan dilanda bencana.

Legen Satoinong, misalnya. Warga Dusun Salappa, Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan ini mengaku heran mengapa Mentawai terus yang dikenai bencana. “Apa salah kami? Mengapa kami terus-menerus ditimpa bencana?” gugatnya.

Begitu pula Regen, Sakokoi, warga Dusun Sikakap Timur, Desa Sikakap, Kecamatan Sikakap. “Belum habis gemetar oleh gempa kemarin, kini kami sudah harus mengungsi lagi ke bukit, gempa lagi, tsunami lagi!” Dengusnya ketika dihubungi via telepon tadi malam.

Vincentius Ndraha, warga Muara Siberut, Siberut Selatan, tak kalah kesalnya. “Dana bantuan gempa 2007 masih belum merata dibagikan, eh sudah gempa lagi. Yang kita takutkan sebenarnya bukan gempanya itu, tapi tsunami yang menyertainya yang kini terbukti dengan kejadian di Pagai dan Sipora,” katanya.

Vincent dan anak istrinya kini harus mengungsi lagi ke pondok-pondok pengungsian di perbukitan Muara Siberut. “Di sini parah, hujan turun terus tiap malam, anak-anak juga kedinginan karena tak terlindungi dengan baik dari cuaca ekstrim,” tambahnya sembari menggambarkan kondisi tempat penampungan yang benar-benar seadanya.

“Ada pondok-pondok dan tenda yang terpalnya sudah robek di sana-sini, tanahnya selalu becek meski terletak di perbukitan, air bersih tidak ada, makan minum susah, MCK juga payah, belum lagi turun naiknya, kasihan anak istri saya,” katanya.

Mitos
Masyarakat Mentawai percaya, alam ini akan terjaga keserasiannya kalau interaksi dan komunikasi tiga dunia, yakni dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah terjaga dengan baik. Mereka tak mau pusing dengan penjelasan tentang lempeng ini lempeng itu, patahan inipatahan itu, siklus gempa dan tsunami 200 tahunan.

“Bencana yang terjadi sekarang erat hubungannya dengan gaya hidup kita sekarang, yang sudah tidak lagi mempedulikan alam,” ujar Selester Sagurujuw, tetua adat dari Dusun Rogdog, Desa Madobag, Kecamatan Siberut Selatan.

Mantan sikerei (dukun) dan kepala dusun ini mengatakan manusia kini tidak lagi mematuhi kaidah-kaidah kehidupan sesuai arat sabulungan, kepercayaan asli orang Mentawai.

“Semua mau serba instan, mau cepat, mau langsung jadi, segala aturan di alam semesta ditabrak saja,” ungkapnya dalam beberapa kali kesempatan berbincang.
Akibat gaya hidup seperti itu, kata Selester, ketiga dunia mengalami ketidakharmonisan, miskomunikasi, salah paham, prasangka buruk dan semacamnya, terutama antara ketiga penguasa dunia-dunia tersebut. Taikamanua (penguasa langit), Taikabagatkoat (penguasa lautan), dan Taikaleleu (penguasa gunung dan hutan) adalah sebagian dari penguasa ketiga dunia itu.

Tindakan salah yang dilakukan manusia, yang tak mempedulikan jiwa dan roh di sekitarnya—karena orang Mentawai semua materi di alam semesta ini memiliki jiwa — akan mengakibatkan rusaknya hubungan ketiga dunia tadi.

Roh paling pemarah berdiam di dunia bawah atau Taikabaga. Dia dikenal pendiam, tapi gampang sekali marah. Setiap kali marah dia akan mengguncang bumi sekuatnya yang dikenal sebagai gempa bumi.

Sementara penguasa lautan yang merasa terganggu oleh ulahnya ikut mengamuk pula dengan mengaduk lautan menimbulkan badai dan gelombang besar atas tsunami. Kalau kesalahpahaman merembet dan melebar ke mana-mana kondisinya sudah seperti perkelahian dalam bar, siapa memukul siapa sudah tak jelas lagi, pokoknya mengamuk saja.

Masih banyak masyarakat Mentawai yang percaya, semua kegelisahan dan kemarahan penguasa alam tersebut terjadi karena manusia seenaknya mengacak-acak alam, akibat ulahnya terjadi kesalahpahaman antar penguasa dunia, sehinga kekisruhan tak terhindarkan lagi. “Pemicunya manusia, manusia dan keserakahannya,” ujar Selester yakin.

Tentu tidak semua warga Mentawai berpegang pada mitos ini sekarang, terutama di kota-kota kecamatan seperti Sikakap (Kecamatan Sikakap), Muara Siberut (Kecamatan Siberut Selatan), Tuapeijat (Kecamatan Siopra Utara), Muara Sikabaluan (Kecamatan Siberut Utara) dan 6 kota kecamata lainnya yakni Malakopak (Pagai Selatan), Saumanganya (Pagai Utara), Sioban (Sipora Selatan), Taileleu (Siberut Barat Daya), Saibi Samukop (Siberut Tengah), Simalegi (Siberut Barat).

“Ya kita sudah belajar dan banyak pemirsa berita, gempa dan tsunami itu peristiwa alam biasa yang erat hubungannya dengan unsur-unsur geologis bumi,” ujar Bambang Sagurung, alumnus SMAN 1 Siberut Utara yang kini berprofesi sebagai wartawan.
Pertanyaan yang tak bisa saya jawab selain bertele-tele tentang ring of fire, posisi geografis di atas gunung-gunung api purba dan sebagainya yang hanya menambah ketidakpuasan generasi muda seperti Bambang. (*)

http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=1508


Warning: Unknown: open(/tmp/php/2/2/1/sess_22174245f6bbd3a2916e3229392d6ccb, O_RDWR) failed: No such file or directory (2) in Unknown on line 0

Warning: Unknown: Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (3;/tmp/php) in Unknown on line 0