MENTAWAI BAGAI NEGERI DILANDA PERANG, Ratusan Tewas Tersapu Tsunami
Kamis, 28/10/2010
Rabu, 27 Oktober 2010
HENDRI dan GUSWANDI
MENTAWAI - SINGGALANG Monster laut bernama tsunami itu, sesaat setelah gempa Senin (25/10) malam, menerjang sejumlah desa di Mentawai. Data sementara menyebut, 112 orang tewas, 500 hilang dan sekitar 4.000 orang mengungsi.
Tsunami menyerang daratan sejauh 400 sampai 600 meter, dengan ketinggian bervariasi antara 1 sampai 3 meter. Tsunami melaju secepat mobil di jalan tol.
Data korban jiwa simpangsiur. Ada yang menyebut lebih dari 100 jiwa, informasi lain 80 orang, lainnya 32 orang.
Terakhir malah ribuan orang. Sejauh itu, pihak berkompeten belum memiliki angka pasti, termasuk Bupati Mentawai.
Informasi yang tak pasti ini, sekaligus membuat gundah gulana Tanah Tepi, termasuk para pejabat. Apalagi hari ini Wapres akan berkunjung ke sana. Dalam situasi darurat semacam ini, terasa benar, betapa jarak Padang dan Mentawai sangatlah jauh, untuk seluruh hal.
Informasi adanya tsunami, tidak terbetik sedikit pun sampai semua suratkabar naik cetak Selasa dinihari. Kabar duka itu, baru datang Selasa pagi.
Hingga tadi malam, informasi masih saja belum sempurna. Namun hasil kesepakatan rapat gubernur dengan berbagai unsur tadi malam memegang data yang menyepakati: 112 tewas, 500 hilang dan 4.000 orang mengungsi.
Dihadang ombak
Sepanjang Selasa (26/10), setidaknya tiga kapal yang berangkat ke Mentawai, terpaksa balik kanan karena ombak yang tinggi. Namun dua kapal perang telah bertolak menuju Mentawai dari Jakarta.
Pemangku tugas kebencanaan terus menghimpun data-data korban, kerugian dan dampak bencana tersebut. Didapat kabar, Wakil Presiden Boediono, akan datang ke Mentawai guna bertemu korban tsunami.
Gempa terjadi pukul 21.42 Senin (25/10) berkekuatan 7.2 SR dan diikuti 95 kali gempa susulan. Tak lama benar setelah gempa utama, datanglah tsunami.
Ratusan tewas
Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Mentawai, Paulinus S kepada Singgalang, menyebutkan, Desa Malakopa mengalami dampak cukup parah, selain dua desa, Sinaka dan Makalo yang berada pada administratif Kecamatan Pagai Selatan.
Begitu gempa melanda, kepanikan luar biasa dialami masyarakat tiga desa tersebut. Hingga tadi malam, belum diketahui jumlah pasti korban dan nilai kerusakan fisik bangunan.
“Ratusan warga dilaporkan hilang, sebagian selamat. Warga berpencar lari ke atas bukit saat tsunami menghajar pemukimannya,” sebut Paulinus.
Hantaman gelombang setinggi 3 meter tersebut menyapu dataran Malakopa, Sinaka dan Makalo sejauh 400 meter dari bibir pantai.
Selain di Pagai Selatan, menurut Paulinus, air laut juga menyapu sejumlah dataran di sepanjang pantai di Desa Bosua dan Beriulau yang berada di Sipora.
Kekuatan tsunami juga menghajar Dusun Muntei Baru-Baru hingga 80 persen rata dengan tanah. Bahkan salah satu resort milik asing, Macaroni’s Resort dilaporkan rusak berat dan sebuah kapal turis terbakar ABK dan penumpang belum diketahui nasibnya. Desa Sikakap terendam sedalam setengah meter.
Tak hanya Kecamatan Pagai Selatan dan Sipora Selatan, Kecamatan Sikakap juga tak kalah parahnya.
Seperti dikatakan Camat Sikakap, Daulat, air laut menyapu seluruh daratan.
Berdasarkan informasi yang diterima Singgalang, sejumlah kerabat Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Desti Seminora Sababalat, dikabarkan tenggelam akibat tsunami Desa Taikako Kecamatan Sikakap.
Sejumlah pejabat yang saat sekarang berada di Tuapejat, ibu kabupaten Kepulauan Mentawai sulit melakukan komunikasi lewat telepon selularnya, lantaran jaringan telekomunikasi milik Telkomsel mengalami kerusakan.
Porak-poranda
Kondisi terkini Kabupaten Mentawai, bagaikan negeri yang baru saja dilanda perang. Relawan dari Yayasan Citra Mandiri yang sudah sampai di Mentawai menyebutkan, masyarakat masih trauma dengan tsunami.
Hingga tadi malam, warga masih berada di daerah ketinggian. Warga juga tak bisa lagi pulang karena rumah hancur. “Cuaca juga tak bersahabat,” kata Pinda Simanjuntak yang dihubungi Singgalang dari Padang melalui telepon genggam.
Menurut dia, korban tsunami memerlukan bantuan. Namun, oleh karena beratnya medan, nyaris tak bisa kapal bisa berangkat dari Padang untuk mengantarkan bantuan ke Mentawai.
Gubernur Sumatra Barat, Irwan Prayitno mengemukakan, masa tanggap darurat ditetapkan selama 14 hari ke depan. Irwan menyampaikan pesan duka pemerintah provinsi atas musibah yang dihadapi masyarakat Mentawai.
Dari Jakarta dilaporkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memerintahkan Menko Kesra Agung Laksono untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menanggulangi tsunami di Mentawai.
“Saya sudah menetapkan tanggap darurat mulai hari pertama dan sampai 14 hari ke depan,” kata Agung di Yogyakarta yang dikutip vivanews.
Agung berencana mengunjungi Mentawai dalam satu dua hari ini. Dia ingin memantau langsung penyaluran bantuan kepada para korban di lokasi tsunami dan bencana.
Agung akan terbang dengan helikopter karena saat ini jalur laut masih tidak memungkinkan. Ombak masih tinggi sehingga kapal sangat berbahaya untuk berlabuh.
Dari Tua Pejat semalam didapat kabar, pegawai tetap masuk kantor. Tapi mereka kehilangan kontak dengan Sikakap. Warga Sikakap di ibu kabupaten, cemas memikirkan nasib keluarnanya di sana. Celakanya, jaringan telepon tidak berfungsi.
Tadi malam, Gubernur Irwan Prayitno memimpin rapat koordinasi selama dua jam. Rapat membahas soal tanggap darurat dan berbagai hal yang menyangkut dropping bantuan ke Mentawai. (*)
http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=1488
