Irwan Angkat Barang, Muslim Jadi ‘Reporter’
Rabu, 03/11/2010
Selasa, 02 November 2010
JK Bertahan di Mentawai
KHAIRUL JASMI
(MenTAWAI)
SIKAKAP - Saya bangun pukul 05.00 WIB Selasa (2/11). Tak biasa begini, tapi mau liputan ke Mentawai. Apa boleh buat. Pukul 07.20 WIB, helikopter Susi Air membelah langit yang kelam.
Aman, helinya bagus, pilotnya bisa melihat cuaca jauh di depan karena pakai radar, tidak manual,” bujuk Gubernur Irwan Prayitno kepada saya dan sejumlah penumpang lain nya, yaitu Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Djalal, Pemred Padang Ekspres Sukri Umar, Pemred Padang TV, Vina Melwanti dan Sekretaris Direktorat Jenderal Cipta Karya Susmono yang tiba-tiba jadi “kopilot”.
Heli berwarna putih itu meliuk dan meninggi. Sekejap kemudian hanya laut yang terbentang. Gubernur Irwan terus bercerita soal perjalanan ke Mentawai yang berat karena cuaca yang buruk. Tapi kemudian secepatnya meyakinkan kami heli yang kami naiki, aman. Apalagi di tengah laut cuaca agak bagus.
Fasli Djalal tak ketinggalan, ia kisahkan suatu masa berbilang tahun silam, ia tinggal tiga pekan di Mentawai. Kisah yang menarik.
Tak lama, laut lepas telah kami tinggalkan. Perairan Mentawai sayup terlihat. Lama sudah saya tak ke sini. Ada kerinduan, ada ketakutan karena cerita soal cuaca yang ekstrim. Tapi, kini heli hendak mendarat di Sikakap.
Saya melihat sejumlah wartawan peliput yang sudah kelelahan di sana. Mereka riang begitu melihat temannyalah yang turun dari heli. Ada sejemput kerinduan.
Angkat barang
Jika selama perjalanan Gubernur Irwan jadi “guide”, maka kini ia tak segan-segan mengangkat alat-alat bedah yang dititip oleh Kepala Dinas Kesehatan Rosnini Savitri.
Ia ambil sendiri, jinjing sendiri dan diserahkan kepada petugas di sana. Ia juga menyerahkan barang lain kepada Danrem 032 Mulyono.
Selesai, helikopter pun terbang ke Desa Muntei Baru-Baru. Ketika heli hendak mendarat, terlihat Ketua PMI Jusuf Kalla (JK) hendak menaiki helikopter. Ia berhenti sejenak menunggu rombongan yang baru datang.
“Pak JK masih di sini rupanya,” kata Sukri. Ia sudah pakai pelampung, sepatu boat dan hendak meninjau titik-titik pengungsian. Ia bertahan dua hari di Mentawai guna memantau pelaksanaan bantuan oleh PMI.
Tak lama kemudian terlihat pula Wagub Muslim Kasim, Kadinas Prasjal Tarkim Dody Ruswandi, Bupati Mentawai Edison Saleleubaja. Para pejabat itu sudah kelelahan, namun mereka tetap bertahan di lokasi.
Tiba-tiba hujan turun lalu disapu angin kencang. Tak lama berhenti lagi. Hujan lagi, begitu berkali-kali. Sementara laut bagai baru dicuci, bersih. Tapi ombaknya menggila.
Lalu langit terang, terlihat helikopter lalulalang, di laut kapal juga demikian. Sekejap saja cuaca bagus, semua segera bergerak. “Jika saja cuaca baik, maka tiga hari selesai penyebaran bantuan,” kata Irwan.
Irwan pergi meletakkan batu pertama pembangunan sekolah sementara. Fasli Djalal membawa uang Rp640 juta. “Kita bangun sekolah darurat dulu,” kata Fasli.
Wagub Muslim Kasim bersama saya dan Vina di dekat pantai Muntei Baru-Baru. Kami asyik wawancara, Wagub Muslim Kasim, asyik pula menjadi “reporter”. Ia wawancarai rakyat, direkam, kemudian ditranslet. Hasilnya, ia bagikan kepada wartawan.
“Saya jadi wartawan sekarang,” katanya terkekeh.
Di hadapan saya ia pertontonkan kehebatannya jadi ‘reporter’ peliput bencana tsunami. Ia wawancarai seorang kepala dusun.
“Apa yang Bapak butuhkan sekarang?”
“Apa yang harus dilakukan pemerintah?”
“Kami butuh rumah Pak,” jawab si kepala dusun.
Hebat pula dia. Bertubi-tubi pula pertanyaan ‘wartawan’ yang satu ini.
Rombongan kecil ini kembali ke Padang dengan heli yang sama. Sejujurnya, saya agak ngeri naik heli ke Mentawai karena cerita sebelumnya tentang cuaca yang ekstrim, kapal yang terbalik. Saya juga ngeri, karena sebelumnya, wartawan Singgalang pernah tewas karena heli yang ia tumpangi terjatuh. Tapi, segalanya menjadi sirna, karena Tuhan menolong kami. Heli itupun mendarat lagi di BIM.
Tapi kenapa Kabiro Humas Surya Budhi? Rupanya ia telah terbang ke Mentawai bersama sejumlah wartawan lainnya. Tadi pagi ia memang menunggu heli yang akan berangkat. Pulangnya, ia naik KRI, karena heli tak berani lagi terbang. Lagi-lagi penyebabnya, cuaca ekstrim. (*)
http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=1593
