Mail to Friends

Maninjau tak Mampu Menampung Keramba

Rabu, 10/11/2010

Rabu, 10 November 2010

GUBERNUR PRIHATIN

Padang, Singgalang
Banyaknya ikan keramba jala apung yang mati di Danau Maninjau, disebabkan ketidakmampuan danau menampung jumlah keramba yang menjamur.
Kematian itu bukan disebabkan tubo belerang tapi karena banyaknya sisa pakan ikan (feses) di dasar danau yang mengandung kadar fosfat dan nitrogen cukup tinggi, sehingga ikan sulit bernapas.

Hal itu ditegaskan pakar perikanan yang juga Rektor Universitas Bung Hatta, Prof. Dr. Hafrijal Syandri menjawab Singgalang di kantornya, Selasa (9/11). Tubo belerang, hanya datang sekali lima tahun. Namun, kejadian yang menimpa para petani ikan itu hampir tiap tahun.

Sementara itu, Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno sangat prihatin dengan musibah di Maninjau. Menurut Irwan, pihaknya sudah memerintahkan pejabat terkait untuk turun ke lapangan dua hari lalu. Ia juga sudah melapor ke kementerian terkait di Jakarta. “Bupati sudah kita minta untuk turun secara intensif,” katanya.

Tak mampu
Saat ini setidaknya terdapat 30 ribu keramba jaring apung. Padahal, idealnya Danau Maninjau hanya bisa diisi 2.700 keramba jaring apung. Prediksi Singgalang, setidaknya 90 ribu ton pakan ikan masuk ke danau setiap tahunnya. Minimal 20 persen tidak dimakan ikan dan itulah yang menumpuk di dasar danau. Hal ini sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya.

Menurut Hafrijal, feses tersebut menumpuk dan mengendap cukup banyak dan lama di dasar danau sehingga menghasilkan fosfat dan nitrogen yang merangsang pertumbuhan bakteri dan organisme air berupa plankton. Lalu, karena kondisi cuaca yang tak bagus serta ditambah dengan angin kencang terjadi pengadukan massa air atau dikenal dengan umbalan. Akibat pengadukan itu amoniak dan karbondioksida menjadi tinggi dan berdampak pada minimnya persedian oksigen. Setelah itu, ditambah dengan munculnya bakteri halus yang masuk ke insang ikan sehingga ikan sulit bernafas dan akhirnya mati. Sebanyak 0,0010 mg/liter saja nitrogen di dalam danau bisa memicu pertumbuhan bakteri dan plankton.

“Bila terdapat 20 ribu ton ikan di Danau Maninjau, maka pakan ikannya 25 ribu ton. Sebanyak 15 persen dari pakan ikan itu terbuang ke dasar danau. Maka bisa sebanyak 3.750 ribu ton pakan ikan mengendap di dasar danau dalam satu periode pemeliharaan keramba ikan. Bisa dibayangkan, berapa banyak feses itu berada di dasar danau yang memicu pertumbuhan bakteri,” ujarya.

Ditanya bagaimana pembersihan feses, Hafrijal menjelaskan hanya bisa secara alami karena tak ada alat atau cara yang bisa dilakukan kecuali berfungsinya Sungai Antokan. Cara satu-satunya, dengan membuat waktu jeda atau istirahat sebentar supaya para petani ikan tersebut tak melakukan aktivitas usahanya buat sementara. Solusi yang disarankannya terkait dengan permasalahan tersebut, supaya masyarakat tak melaksanakan aktivitas petani ikan pada bulan-bulan rawan seperti September, Oktober, November, Desember dan Januari. Pada saat itu sering terjadi musim hujan dan angin kencang. Sedangkan waktu yang aman itu, pada Maret hingga Agustus.

Lalu, para petani ikan memberi waktu jedah satu bulan minimal tak memelihara ikan setelah kejadian ini. Bila tetap terpaksa juga bisa memelihara ikan yang tahan dari kekurangan oksigen seperti ikan gurami dan patin.

“Jadi musibah ini terjadi karena kelalaian kita tak belajar dari fenomena alam yang sudah sering terjadi. Kedepan, permasalahan ini harus bersama-sama ditangani dengan meilbatkan pemerintah, perguruan tinggi dan masyarakat setempat,” imbuh Hafrijal.
Ditambahkan, para penyuluh lapangan dinas terkait kedepannya harus lebih pro aktif memberikan penyuluhan kepada para penambak ikan, sehingga bisa mencegah atau meminimalisir kerugian. Usaha keramba ikan tersebut, sangat memberikan dampak ekonomis yang luar biasa buat masyarakat. Berdasarkan riset yang dilakukan Harijal Syandri, dari 4.000 kerambah ikan dibutuhkan modal Rp112 miliar dengan harga pakan ternak Rp4 juta/ton pada tahun 2005.

Lalu, hasil atau keuntungan yang diperoleh bisa mencapai Rp212 miliar selama beberapa bulan aktivitas tambak. Dia juga mengimbau, agar bangkai ikan tersebut cepat dibersihkan dan dikubur di darat. Jika tidak, bangkai tersebut bisa semakin mencemari danau. Ibaratnya, sama dengan memberi pupuk urea di danau.

Mulai stabil
Pasca kematian ikan sekitar 2.000-an ton ikan di Danau Maninjau, Minggu (7/11) lalu yang diakibatkan fenomena alam dan cuaca tak bersahabat, sepanjang Selasa (9/11), kondisi kembali stabil. Ikan mati mendadak dalam jumlah banyak, puncaknya Minggu (7/11) itu. Setelah itu tidak lagi. Aparat pemerintah tetap mengawasi dan memantau perkembangan sekitar danau Maninjau.

“Musibah yang menimpa petani ikan di sekitar Danau Maninjau itu mengejutkan. Pemerintah telah berupaya melakukan langkah antisipasi agar peristiwa tahunan itu, tak menimbulkan kerugian besar. Tapi apa boleh buat, terjadi juga. Kita pun tetap gigih melakukan langkah antisipasif,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar Yosmeri kepada Singgalang, Selasa (9/11) di Padang. (101/103)

http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=1769


Warning: Unknown: open(/tmp/php/2/2/1/sess_22174245f6bbd3a2916e3229392d6ccb, O_RDWR) failed: No such file or directory (2) in Unknown on line 0

Warning: Unknown: Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (3;/tmp/php) in Unknown on line 0