Pelaku Teror SMS Teridentifikasi
Kamis, 25/11/2010
Kamis, 25 November 2010
DITANGKAP ATAU MENYERAHKAN DIRI
Padang, Singgalang
Begitu gubernur dan Kapolda memerintahkan, Polresta Padang bergerak cepat. Bahkan kemarin, polisi telah mengantongi dan mengidentifikasi beberapa nomor telepon genggam yang diduga sumber short message service (SMS) yang meresahkan warga Padang beberapa hari belakangan.
Nomor yang dicurigai tersebut diketahui setelah pihak Polresta Padang melakukan koordinasi dengan salah satu operator seluler.
Hal ini diungkapkan Waka Polresta Padang, AKBP Wisnu Handoko kepada Singgalang, Rabu (24/11) di Mapolresta Padang. Menurutnya, pemilik nomor penyebar SMS tersebut dapat dijerat dengan UU 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Teknologi sebagaimana yang tertera dalam pasal 27.
�Kita sedang menyelidiki penyebar SMS, nomornya sudah ada yang intensif kita selidiki. Jika terbukti, pemilik dapat ditetapkan sebagai tersangka,� ujar Wisnu.
Menurut dia, penyebar sebaiknya menyerahkan diri saja, daripada ditangkap.
Wisnu juga mengatakan, sesuai dengan UU 11, pelaku dapat dikenakan denda Rp1 miliar atau kurungan 6 tahun penjara sesuai dengan pasal 45 UU IT.
�Sesuai dengan harapan Gubenur Sumbar, kita akan bekerja maksimal guna membongkar pelaku penyebar sms tersebut,� jelas Wisnu.
Saat ditanya mengenai berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengungkap kasus ini, Wisnu mengatakan akan berusaha secepat mungkin.
�Masalah ini tidak saja ditanggani Polresta Padang, tapi sudah sampai ke Polda Sumbar, karena isu SMS mencakupi daerah lain seperti Pesisir Selatan dan Padang Pariaman,�jelasnya.
Sebagaimana diberitakan Singgalang, kemarin, SMS yang beredar tidak saja di Sumbar beberapa provinsi tetangga juga tidak luput dari sms ancaman gempa dan tsunami, seperti, Aceh, Sumut, Bengkulu.
Novi, salah seorang warga Pekan Baru kepada Singgalang di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, Selasa (23/11) mengatakan keluarganya di Bengkulu dan Nias juga tidak luput dari SMS tersebut.
�SMS tersebut tidak saja di Sumbar, keluarga saya juga dapat,� ungkapnya.
Dari pantauan Singgalang, saat memasuki terminal B 1 Bandara Soekarno Hatta, kemarin, sudah terdengar calon penumpang atau petugas bandara membahas masalah tersebut.
Hal serupa terjadi saat berada di BIM, pertanyaan yang banyak meluncur dari orang yang ditemui adalah �tidak takut datang ke Padang.�
Tindaklanjuti Singgalang
Gubernur Sumbar, Wakil Gubernur, Wakapolda, Walikota Padang, Kadinas PU Prasjal & Tarkim serta jajaran terkait lainnya di gubernuran Rabu (24/11) menggelar jumpa pers menanggapi pemberitaan Harian Singgalang yang berjudul �Penyebar SMS Petakut akan Ditangkap.� Secara tegas Gubernur membantah akan adanya gempa besar dalam rentang waktu 25 November 2010, pada kurun waktu plus minus 3. Bantahan ini disampaikan sehubungan dengan beredarnya SMS alias pesan pendek di tengah masyarakat lewat telepon genggam beberapa hari belakangan ini.
�Semua itu adalah kabar bohong dan menyesatkan. Pihak-pihak yang melakukan semua ini akan berurusan dengan aparat hukum. Polda Sumbar sendiri sedang menyelidiki kasus ini,� tegas Gubernur Sumbar Irwan Prayitno.
Dalam kesempatan ini, Gubernur juga meminta masyarakat tetap waspada dan tenang. Jangan terpancing isu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Dalam jumpa pers yang juga dihadiri Wakil Gubernur Sumbar, Muslim Kasim, Wakapolda Sumbar Kombes Pol. Dan Walikota Padang ini, Gubernur juga minta warga meningkatkan kewaspadaan. Karena Sumbar memang berada dalam daerah yang berpotensi terjadinya gempa dan bahkan diikuti hantaman tsunami.
Irwan juga memastikan, tidak ada satupun alat dan ahli di dunia yang bisa memastikan akan terjadinya gempa dengan tepat, apalagi dengan kekuatan dan lokasi serta tanggal yang akurat.
�Semua ini hanya Allah Yang Maha Kuasa yang tahu,� tegasnya. Para ahli hanya bisa meramalkan, kemungkinan-kemungkinan akan bahaya gempa dan tsunami. Termasuk kemungkinan akan adanya gempa besar berkekuatan 8,9 SR yang berlokasi di Pulau Siberut Kabupaten Kepulauan Mentawai.
�Namun kepastian semua ini, hanya Tuhan yang tahu,� tegasnya.
Untuk itu, ia minta semua warga berserah diri kepada Yang Maha Kuasa sembari tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam keluarga dan diri masing-masing. Di samping itu, katanya, masyarakat jangan mudah percaya isu. Pemerintah tidak akan tinggal diam, terutama aparat kepolisian dalam menyikapi SMS yang sangat menyesatkan dan meresahkan ini.
Dalam kesempatan ini, Wakapolda Sumbar Kombes Pol. Erry Subagyo, menegaskan, polisi tidak akan tinggal diam menyikapi peredaran SMS yang menyusahkan dan menyesatkan ini. �Kita sudah melakukan penyelidikan ke berbagai pihak dan siapa yang melakukan diproses secara hukum,� katanya.
Erry juga minta, warga hendaknya menyaring informasi dan hanya menerima informasi soal gempa dari pemerintah dan pejabat yang berwenang, seperti Gubernur, walikota dan bupati, serta pejabat yang punya keahlian, seperti BMKG.
�Warga diminta tidak resah dan polisi berusaha mengungkap kejadian ini, agar tidak terjadi keresahan di tengah masyarakat,� katanya.
Sedangkan Walikota Padang Fauzi Bahar, dalam kesempatan yang sama mengimbau warga kota tidak mudah terpancing isu, apalagi SMS yang tidak jelas asal usulnya. Dan dalam kesempatan ini, Walikota juga minta warga Kota Padang tetap beraktivitas seperti biasa sembari meningkatkan kewapadaan baik di lingkungan diri, keluarga dan lingkungan sekitar.
Wakil Gubernur Sumbar, Muslim Kasim, meminta seluruh masyarakat Sumbar beraktivitas seperti sedia kala, tapi tetap waspada dengan berbagai kemungkinan yang terjadi.
Rakyat Kaltim bantu Rp750 juta
Sementara itu, bantuan untuk korban gempa dan tsunami Mentawai, kemarin datang dari warga Kalimantan Timur. Bantuan sebesar Rp750 juta ini merupakan sumbangan masyarakat dan pemerintah Kalimantan Timur atas musibah gempa dan tsunami Mentawai.
Bantuan diserahkan langsung Wakil Gubernur Kaltim Farid Wadjdy kepada Wakil Gubernur Sumbar Muslim Kasim di Gubernuran Padang, Rabu (24/11).
Dalam kesempatan ini, Wagub Kaltim Farid, meminta agar bantuan ini bisa digunakan untuk berbagai keperluan korban dan pembenahan pasca gempa dan tsunami di Mentawai. Tahun lalu, pemerintah dan rakyat Kaltim juga memberikan bantuan sebanyak Rp1 miliar bagi korban gempa Sumbar 30 September 2009. Bantuan Rp1 miliar ini digunakan untuk memperbaiki sebuah Mandarsah Tsanawiyah di Kabupaten Padang Pariaman.
Sosiolog Univesitas Andalas Prof. Damsar kepada wartawan, Rabu (24/11) melihat maraknya isu gempa dan tsunami lewat SMS disebabkan karena minimnya informasi yang diperoleh masyarakat.
Masyarakat mebutuhkan informasi yang lengkap tentang gempa dan tsunami, tapi hal itu tidak terakomodir. Akibatnya, masyarakat mencari kabar melalui pasar gelap informasi. Jadilah informasi itu didapat setengah-setengah. Tersebarlah dari satu SMS ke SMS lainnya. Pesan berantai itu membuat bingung dan cemas.
Sudah seharusnya pemerintah seperti gubernur, walikota dan bupati mengambil langkah dengan memberikan informasi yang benar dan bijak kepada masyarakat. Keterbukaan informasi publik sungguh diperlukan, palagi sudah dijamin Undang-Undang No 14 tahun 2008.
�Keterbukaan informasi benar ini yang tidak pernah ada. Masyarakat jadi kebingungan,� katanya.
Salah satu cara, bisa dengan mengajak wartawan dalam penyampaian informasi yang jelas dan bijak.
(Ags/107/106/018)
http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=2054
