Hapus SMS Teror Gempa Dengarlah Khutbah Jumat
Jumat, 26/11/2010
Jumat, 26 November 2010
DANA PENANGGULANGAN BENCANA DITAMBAH
PADANG - SINGGALANG Seratus ustad dan ulama, Gubernur Irwan Prayitno, Walikota Fauzi Bahar, berkumpul di Palanta kediaman walikota, Kamis malam (25/11). Inti pertemuan, “Tiada Tuhan Selain Allah, tiada gempa, kecuali atas KehendakNya”
Pada khutbah Jumat hari ini, semua ustad dan ulama itu, akan menyejukkan ummat, sehingga darah yang tabang-tabang, yang gundah gulana, resah tak menentu, akan tentram. Siapa lagi yang dipercaya selain ulama dan pemerintah? Karena itu, khutbah Jumat merupakan obat paling mujarab.
Dalam pertemuan itu, mengemuka, sehebat apa pun pakarnya, tak ada yang bisa memastikan waktu gempa yang akan datang. Untuk itu sebaiknya warga menerima informasi dengan cerdas. Janganlah takut dengan short message service (SMS), bagi yang beriman tidak akan takut. Karena itu, jika SMS teror masih tersimpan di HP segera dihapus.
“Ulama, sampaikanlah pada warga informasi itu yang benar. Sehingga warga tidak takut lagi dengan isu. Jangan takut SMS, karena tidak ada yang bisa memastikan kapan datangnya gempa dan bencana lain,” sebut Fauzi Bahar.
Disebutkannya, sampai saat ini tidak ada pakar yang bisa memastikan kapan tanggal, bulan dan tahun yang bisa memastikan datangnya gempa. Begitu juga dengan kekuatannya sekalian. Pernyataan Fauzi Bahar juga dipertegas gubernur.
Bahkan, katanya gubernur, walikota dan pejabat penting lainnya masih berada di Sumbar. Tidak ada yang meninggalkan Padang. Untuk itu warga juga tidak perlu cemas dengan isu-isu yang tidak ada alasannya.
“Saya ulangi lagi, tidak ada yang bisa memastikan kalau gempa itu bisa diprediksi kapan datangnya. Kalau waspada itu memang perlu. Tidak ada gempa kita juga perlu waspada. Karena bencana itu tidak hanya gempa dan tsunami,” tegas Irwan dihadapan ratusan ulama dan ustad itu.
Disebutkannya, kabar bencana akan terjadi itu memang sudah bergulir di masyarakat dengan liar.
Awalnya Gubernur sendiri mendapatkan informasi tersebut dari Menko Kesra, Agung Laksono. Sebab, sejak Andi Arif kembali dari penelitian di Mentawai, langsung memberikan laporan pada presiden. Dari presiden langsung sampaikan pada menteri, maka Agung Laksono lah yang memberikan informasi akan bencana itu pada gubernur.
“Saya disampaikan Menko Kesra. Karena waktu itu sudah ada beritanya di suratkabar di Sumbar,” sebut Irwan lagi.
Pertemuan antara gubernur dan walikota dengan ulama tersebut karena hari ini adalah waktunya bagi umat muslim untuk Shalat Jumat. Sehingga bisa nantinya para ulama dan ustad menyampaikan dalam khutbah di masjid informasi yang benar tentang isu gempa yang sudah terlanjur menakuti warga.
“Karena sekarang besok (hari ini-red) Jumat. Maka bisa dengan serentak disampaikan di masjid-masjid bagaimana menanggapi isu gempa itu sebenarnya,” papar Fauzi.
Penegasan itu juga didukung ahli gempa Universitas Andalas Padang, Badrul Mustafa Kemal. Katanya sampai saat ini belum ada pakar di dunia ini yang mengatakan akan ada gempa dengan waktu terjadinya. Paling hanya ada rentang waktu.
“Sampai saat ini tidak ada ilmu yang memastikan tanggal dan tahun terjadi gempa seperti yang diberikan dalam SMS beredar tersebut. Jika mendengarkan itu, SMS itu saja jelas sudah salah. Buktinya sekarang sudah tanggal 25,” sebut Badrul.
Katanya, hasil penelitian di Mentawai itu hanya berdasarkan pengulangan yang terjadi sejak 1767 dimana pernah terjadi gempa dan tsunami di Mentawai. Dan pengulangannya itu sampai 200 tahun. Itu jika sudah waktu pengulangan, maka plus dan minus juga berbeda. Ada yang mengatakan berada rentang 10 tahun sebelum waktu pengulangan dan 10 tahun sesudah pengulangan. Bahkan, ada yang menyatakan sampai 20 tahun.
Shelter jadi prioritas
Dalam kesempatan itu Gubernur Irwan mengatakan akibat informasi dari Andi Arif tersebut dan kecamasan warga Sumbar, secara lisan Presiden SBY menyatakan pembangunan shelter di Sumbar jadi prioritas. Untuk itu diperlukan waktu dan kajian di Bappenas sampai ke DPRRI.
“Karena sudah mendapatkan laporan dari Andir Arif, serta isu yang membuat sejumlah warga Kota Padang eksodus, Bapak Presiden sudah sampaikan secara lisan pembangunan shelter di Kota Padang menjadi prioritas,” ungkap Irwan.
Pemerintah Kota Padang juga akan terus melakukan pembuatan shelter dengan berada jarak 1 Km jarak masing-masing shelter. Namun pembangunan itu membutuhkan biaya yang sangat besar. Untuk itu diperlukan dukungan dari pemerintah pusat.
“Kita harus tetap waspada. Untuk itu kita upayakan jalur-jalur evakuasi dan shelter,” sebut Fauzi.
Ditambah
Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menegaskan anggaran untuk penanggulangan bencana dalam APBD 2011 ditambah. Hal ini dilakukan agar kegiatan sosialisasi menuju kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana, makin gencar. Dengan demikian masyarakat bisa paham termasuk langkah-langkah apa yang diambil mulai pra bencana hingga pasca bencana.
Hal itu diungkapkan Irwan, usai membuka lokakarya pembelajaran program P3DM dengan tema membangun masyarakat siaga bencana di Kabupaten Padang Pariaman dan Pessel, Kamis (25/11) di Padang.
Dalam RAPBD 2011 yang diajukan sebelumnya, anggaran penanggulangan bencana termasuk kecil. Karena masih rencana, maka dalam pembahasan selanjutnya, anggaran di sektor kebencanaan itu ditingkatkan. Apalagi Sumbar adalah daerah bencana yang mesti dibarengi dengan kesiapsiagaan masyarakatnya.
Irwan mengatakan kegiatan pembelajaran membangun masyarakat siaga bencana yang dilakoni MercyCorps di Sumbar, didukung penuh. Bahkan kalau dapat kegiatan itu terus berlangsung di daerah ini.
“Terus terang, isu yang beredar sekarang adanya gempa berkuatan lebih dahsyat hingga 11 SR lalu diikuti tsunami, membuat masyarakat Sumbar terutama yang berada di pinggir pantai, menjadi panik dan stres. Bahkan disikapi pula dengan melakukan eksodus ke daerah ketinggian,” ujar Irwan.
Padahal SMS dan isu tidak benar. Tapi gencarnya di tengah masyarakat bukan main. Dalam hal ini, pihaknya sudah berkoordinasi dengan jajaran Polda Sumbar untuk menangkap pelaku penyebar isu lewat SMS.
“Kita memang berada di daerah rawan bencana gempa. Tapi kapan datangnya, tidak seorang pakar pun yang bisa menerka kapan terjadi. Itu urusan Allah SWT,” tambah Irwan.
Di sisi lain, Endang Trisna dari MercyCorps yang menggawangi program tersebut menjelaskan program P3DM ini dimulai di Sumbar sejak Desember 2008 dan berakhir 2010. Dilaksanakan di empat nagari di dua kabupaten, Padang Pariaman dan Pesisir Selatan.
Programnya mencakup kawasan yang rentan bencana alam. Di sana dibentuk kelompok siaga bencana, kelompok siaga bencana sekolah dan forum-forum peduli pengurangan resiko bencana di dunia usaha. “Di tengah masyarakat, kegiatan ini mendapat respon luar biasa,” ujarnya. (*)
http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=2080
