Mail to Friends

Solar Masih Langka

Senin, 20/12/2010

Senin, 20 Desember 2010

GUBERNUR DIMINTA TURUN TANGAN

Padang, Singgalang
Di Sumbar dalam beberapa hari belakangan solar di-rush konsumen, karena mereka takut akan terjadi kelangkaan. Akibatnya, solar habis. Ini memicu ekonomi biaya tinggi dan pada gilirannya rakyat juga yang teraniaya.

Pengusaha SPBU sudah minta tambahan kuota, tapi mereka makan hati berulam jantung, takut pada Pertamina. Jika mengeras, tali aki bisa diputus. Gubernur diminta turun-tangan untuk menengahi kemelut antara pengusaha SPBU dan Pertamina.

“Pak gubernur di DPR membidangi soal BBM, tahu persis permainan di Pertamina, kami di Sumbar, bertahun-tahun tak ditanggapi, sekarang saatnya tata niaga BBM diperbaiki,” kata sejumlah pengusaha SPBU kepada Singgalang. Hal itu sudah disampaikan wartawan Singgalang ke Gubernur Irwan Prayitno diikuti sejumlah dokumen.
Kelangkaan solar di ujung 2010 ini, menurut pengusaha SPBU tak lebih dari permainan belaka.

Memang hingga Minggu (19/12) solar masih langka di sejumlah SPBU, terutama di Padang. Menurut GM Pertama kepada Gubernur Irwan Prayitno, kelangkaan disebab karena peningkatan kebutuhan.

“Kelangkaan diatasi dengan pengendalian, Hari ini (Minggu-red) sudah 947 ton/hari dan akan ditambah 50 ton. Terjadi peningkatan kebutuhan dibanding bulan sebelumnya yang hanya 700-an ton/hari. Diperkirakan satu minggu nornal karena sekarang akhir tahun saja,” jawab gubernur Irwan Prayitno, mengutip GM pertamina wilayah Sumbar, Pramono Sulistiyo, kepada Singgalang, Minggu (19/12).

Ketua Kadin Sumbar yang juga salah seorang pengusaha SPBU, Asnawi Bahar mengakui kelangkaan solar sudah menjadi keluhan teman-temannya. “Iya benar langka,” kata dia di tempat terpisah.

“Masih langka, entah kapan akan normal,” kata Wakil Ketua Bidang SPBU Hiswana Migas DPC Sumbar, Zulhendir, di tempat terpisah.

Apa yang terjadi?
Menurut Zulhendri, kelangkaan sering pula terjadi pada bensin. “Kalau sekarang solar,” kata dia. Ini disebabkan jatah SPBU dikurangi.

Akan halnya solar, informasi yang ia terima dari Pertamina, “peredarannya dikendalikan”. Hal itu menyebabkan terjadi ketakutan akakan kelangkaan solar. Implikasinya terjadsi rush

“Putusnya” solar memang disebabkan warga takut, jangan-jangan akan terjadi kelangkaan. Jika kelangkaan telah terjadi sejak Kamis, maka seharusnya hari itu, Pertamina memberikan penjelasan kepada warga, sebab Pertamina perusahaan negara, bukan swasta.

“Kami makan hati Pak kalau berurusan dengan Pertamina, kami tak berdaya,” kata Zul pula.

Jika terjadi lengkaan, maka pengusaha SPBU yang jadi sasaran dan caci-maki.
“kalau kata Pertamina sudah menambah 50ribu ton kemarin, itu kan hanya tiga tengki di SPBU,” tambah Zul. Jika 1.000 ton, hanya 60 tangki.

Permainan
Hasil investigasi Singgalang menemukan beberapa kejanggalan. Pertamina, ternyata tidak pernah mau mendengarkan keluhan pengusaha SPBU di Sumbar. Lebih dari enam pengusaha mengatakan, mereka dicuekin saja. Paling-paling dinasihati dan dikuliahi. Banyak laporan masuk, tapi tidak ditindaklanjuti.

Permainan terjadi sejak dari Teluk Kabung sampai ke SPBU.
Cerita dari pengusaha SPBU di beberapa lokasi menyebutkan, untuk mendapatkan BBM, tentu harus ada DO. Setelah itu, keluarlah SO.

SO diterima oleh bagian penjualan Depot Teluk Kabung. Setelah itu keluar LO dan diteruskan kepada pengangkutan PT Elnusa.

Elnusa menentukan mobilnya, jam berangkat, sesuai dengan ringnya. Ring satu berangkat pagi, dua berangkat siang dan ring tiga baru berangkat malam.
Pengusaha SPBU harus melakukan pendekatan yang bukan main rumitnya kepada Pertamina di Padang. Salah cakap, fatal akibatnya. Belum lagi terjadi penyusutan yang bisa mencapai 2 persen.

“Semua dosa dan kesalahan biasanya ditimpakan kepada SPBU, memang SPBU ini berada pada kondisi paling lemah dalam network penyaluran BBM,” kata sumber Singgalang

Sebenarnya armada pengangkutan BBM dari depot ke Pertamina diubah sejak 1997 dari beberapa pihak ke PT Elnusa. Tapi, menurut informasi, Elnusa lebih masih memakai armada yang dulu milik banyak perusahaan. Elnusa adalah anak perusahaan Pertamina.

Pasti Pas, membunuh
Pragram SPBU Pasti Pas kedengarannya hebat. Namun menurut sejumlah pengusaha, justru membunuh. Untuk memperbaiki satu unit SPBU menuju Pasti Pas perlu Rp200 sampai Rp400 miliar.

Pengusaha pribumi, justru merasa ‘dibunuh’ dengan program tersebut. Sebab, mereka dan pengelola SPBU Pasti Pas, sama-sama menjual BBM, takarannya sama, tapi keuntungan yang didapat berbeda. Pengelola Pasti pas dapat margin lebih besar.
Saat BBM Rp2.00/liter dan saat Rp4.500/liter, keuntungan tetap saja, sementara uang menebus BBM berlipat ganda.

Pasti Pas lebih bersifat iming iming dan tekanan kepada SPBU.
Artinya bila lulus Pasti Pas marginnya bisa ditambah. Untuk lulus pasti pas ini sulit dan rumit, perlu tambahan investasi yang juga tidak sedikit.

Setelah lulus beberapa saat kemudian dapat lagi dicabut karena saat penilaian ulang tidak lulus lagi.

Pertamina punya SPBU namanya SPBU COCO untuk jadi contoh? “Tentu sulit, karena mereka dananya tidak terbatas bisa buat apa saja yang dirasa perlu,” kata sumber Singgalang

SPBU Coco, menurut pengamatan Hiswana Migas, akan didirikan di lokasi bagus. Padahal di lokasi bagus itu sudah berdiri SPBU Pasti Pas milik swasta. (003)

http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=2608


Warning: Unknown: open(/tmp/php/2/2/1/sess_22174245f6bbd3a2916e3229392d6ccb, O_RDWR) failed: No such file or directory (2) in Unknown on line 0

Warning: Unknown: Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (3;/tmp/php) in Unknown on line 0