Sumbar Sentra Kakao Wilayah Barat
Kamis, 13/01/2011
Tercapai Juga Akhirnya
Padang, Singgalang
Pencanangan Sumbar sebagai sentra kakao di wilayah barat Sumatera pada Agustus 2006 oleh Wapres H.M Jusuf Kalla, tercapai juga akhirnya di tahun 2010. Tadinya Sumbar berada di peringkat empat penghasil kakao di Sumatera, kini menjadi terdepan. Perluasan tanaman kakao tetap menjadi prioritas dalam lima tahun mendatang.
“Saat dicanangkan Wapres di Parit Malintang, Kabupaten Padangpariaman, produksi kakao Sumbar masih dibawah Sumut, Aceh dan Lampung. Dengan pencanangan itu, Pemprov bersepakat dengan Kabupaten/kota untuk memperluas tanaman kakao berikut produksinya. Alhasil, tercapai. Ini keberhasilan bersama, terutama masyarakat.”terang Kepala Dinas Perkebunan Sumbar H. Fajaruddin kepada Singgalang, Selasa (11/1) di Padang.
Fajaruddin menyebutkan, dengan ‘prestasi’ itu, dibawah kepemimpinan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno dan Wagub Muslim Kasim, ditingkatkan lagi agar menyentuh petani. Pemimpin pilihan rakyat sangat menginginkan dengan komoditi kakao yang meningkat tersebut memberikan efek ekonomi nyata terhadap petani. Oleh karenanya, selama lima tahun ke depan hingga 2015 ditargetkan areal tanaman kakao menjadi 180 ribu hektar. Melihat semangat petani maupun dukungan pemerintah kabupaten/kota, target itu optimis tercapai. Bahkan tidak sekedar itu, ke depan lebih diprioritaskan kepada perbaikan kualitas tanaman.
Menurut dia, perbaikan kualitas tanaman, salah satunya ditempuh dengan melakukan pemangkasan. Dengan pemangkasan, produktivitas tanaman kakao meningkat. Sebelumnya 800 kg/ tahun, kini menjadi 1200 kg/ tahun. Untuk mendukung gerakan ini, sudah diberikan pula gunting kepada petani, 800 unit dari APBD provinsi, 1000 unit dari APBN.
Kemudian untuk petani mendapatkan harga jual lebih tinggi, pengolahan hasil juga menjadi fokus. Baik dalam konteks fermentasi kakao maupun pengolahan menjadi tepung. Kini pada sejumlah daerah, sudah ada diadakan alat pengolahan menjadi tepung.
Tahun 2010, sebanyak 50 unit alat fermentasi kakao sudah diberikan. Begitu pula dua unit alat pengolahan kakao menjadi tepung yang berada di Kabupaten Agam dan Kabupaten Padangpariaman. Tahun 2011, baik alat fermentasi maupun alat pengolahan, kembali diberikan kepada petani.
Singgalang, Selasa 11 Januari 2011
