Pemprov Sinkronkan Program
Senin, 31/01/2011
Rakor Pemprov Di Solok Selatan
Solsel, Metro
Program pemprov, pemkab dan pemko dalam meningkatkan pembangunan daerah dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat, butuh sinergi. Artinya, Program pemprov dengan kabupaten kota harus sinkron.
“Keterbatasan anggaran, SDM, dan sarana prasarana, sering membuat kebijakan pemprov dengan pemkab dan pemko tidak sinkron,” ujar Gubernur Irwan Prayitno saat pembukaan Rapat Koordinasi Pemprov dengan bupati dan walikota se-Sumbar, Rabu (26/1) di Kantor Bupati Solok Selatan.
Irwan menambahkan, untuk itu diharapkan perhatian dan keseriusan bupati dan wali kota untuk merespon program yang dilaksanakan pemprov yang juga terkait dengan penyaluran dana APBD dan APBN.
Selain itu keberhasilan program ini juga merupakan wujud keberhasilan bersama dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
“Kita menyadari secara fakta bahwa di Sumbar, masih banyak angka masyarakat kita yang hidup dalam kemiskinan. Kemudian, masih banyak angka angkatan kerja kita yang menganggur. Selain itu keterbatasan dana serta potensi yang kita miliki. Kenyataan ini tidak akan pernah mampu kita perbaiki secara baik dan maksimal,” ujar Irwan.
Untuk menyatukan persepsi dan singkronisasi program pembangunan di daerah ini, diharapkan kepala daerah mendorong pembuatan profil data, potensi kecamatan, nagari, kelurahan dan desa. Itu sebagai bahan bagi menjalankan program yang tepat di daerah, sehingga diharapkan semua program bisa terlaksana dengan baik sesuai dengan kondisi yang ada di masing-masing daerah. ”Rasanya kita akan berlaku naif jika, kita berbuat tanpa data dan kondisi yang sesungguhnya,” ujar Irwan.
Irwan mengingatkan, kepala daerah juga memperhatikan persoalan batas nagari, desa sebagai sebuah kepastian hukum. Sehingga tidak terjadi di kemudian hari konflik horizontal, ibarat Seperti api dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa membesar.
Saat ini pemprov telah menetapkan program terpadu pensejahteraan petani, yang menitikberatkan bagaimana upaya para petani yang biasa bekerja hanya 3,5 jam sehari dapat bekerja selama 8 jam. Tapi dengan kegiatan produktifitas yang menguntungkan serta mensejahterakan petani yang saat ini berjumlah lebih kurang 68 persen dari jumlah penduduk Sumbar.
Kondisi realitas selama ini petani yang sebahagian besar masyarakat miskin, terkendala persoalan pendanaan, modal kerja. Dengan program satu petani satu sapi atau program pengembanagan usaha petani lain, seperti usaha tambahan perkebunan coklat, perikanan atau industri rakyat. Tentu akan dapat menjadi sebuah momentum perbaikan kesejahteraan petani.
Diakui jumlah para penyuluh kurang, karena perlu diangkat tenaga harian penyuluh (THP) dalam membantu kegiatan program dimaksud kepada masyarakat. Diharapkan kepala daerah hendaknya membantu menambah honor lapangan.
Irwan menyinggung, potensi masyarakat yang belum sempat disentuh secara maksimal ini bahwa orang Minang memiliki jiwa dagang yang hebat. Juga melihat di negeri ini di rumah-rumah penduduk terjadi transaksi perdagangan hasil industri yang mampu mensejahterakan masyarakat. Kegiatan ini bisa memberikan inspirasi untuk menunjang sehingga dari kegiatan itu akan memudahkan untuk menyalurkan program KUR.
Posmetro, 28 Januari 2011
