WNI Dievakuasi Lewat Udara
Selasa, 01/02/2011
MAHASISWA MINANG DI MESIR KHAWATIR
Selasa, 01 Februari 2011
PADANG - SINGGALANG Muhammad Syukron, mahasiswa Al Azhar Kairo, anak Minang di Mesir memastikan kondisi 380 teman-temannya aman. Namun ia mengakui keadaan kian buruk.
“Penjarahan di mana-mana, ATM dibongkar, kami harus ronda malam di asrama,” katanya kepada Singgalang, Senin (31/1). Menurut dia, situasi sementara aman-aman saja. Namun ia tidak tahu, jika presiden sudah memerintahkan evakuasi udara atas WNI di Mesir.
“Kami belum tahu ada perintah evakuasi dari presiden,” kata dia. Kondisi Mesir menurut dia memang mengkhawatirkan. Telepon seluler tidak berfungsi sepenuhnya, internet dan facebook, payah bahkan tidak bisa dibuka.
Menurut Syukron yang juga wakil ketua Kesepakatan Mahasiswa Minangkabau (KKM) Mesir ini, mahasiswa asal negara lain, terutama negara-negara kecil memang sudah dievakuasi pemerintahnya. “Mereka sudah dipulangkan ke negaranya,” kata dia.
Menurut catatan dia, di Mesir ada 380 mahasiswa Minang, sebanyak 85 di antaranya mahasiswi sisanya mahasiswa. Mereka tinggal di tempat terpisah. “Mahasiswi di dua rumah, yang pria tinggal di satu lokasi,” sebut anak Batipuah, Tanah Datar ini.
Mhd Syukron, adalah alumni MAN Koto Baru Padang Panjang 2006. Kini ia kuliah di Ushuluddin Tafsir Al Azhar, Kairo. Kakaknya Muhammad Furqoni juga kuliah di sana.
Lelaki kelahiran 1987 ini, menyebutkan, sejumlah temannya memang tidak bisa lagi ke ATM guna mengambil uang, karena ATM sudah dijarah sekelompok orang yang “menangguk di air keruh”.
Ia memastikan tidak ada mahasiswa Minang sakit, juga tidak kekurangan makanan. “Semua aman dan tenang, meski kami was-was,” kata dia.
Merasa tenang
Sementara Darmis Darwis ayah dari Muhammad Syukron dan Muhammad Furqoni mengatakan, ia sudah agak tenang dengan adanya tindakan cepat dari pemerintah. Ia sudah tidak cemas lagi, karena anaknya tetap tenang di asrama.
“Tadi malam saya baru berkomunikasi dengan kedua anak saya, dan alhamdulillah mereka berada dalam keadaan baik-baik saja,” katanya.
Ia makin tenang lagi, karena gubernur juga memberikan masukan pada semua orangtua yang anaknya kuliah di Mesir. Meski begitu, ia tetap memantau setiap perkembangan yang terjadi.
Sebelumnya ia memang cemas, demi melihat pemberitaan di televisi. Namun karena pemerintah sudah melakukan tindakan cepat dan memberikan hotline untuk berhubungan dengan keluarga, kecemasan itu berangsur-angsur berkurang.
Evakuasi
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akhirnya memerintahkan mengevakuasi warga negara Indonesia di Mesir. Presiden menunjuk mantan Menteri Luar Negeri, Hassan Wirajuda, memimpin evakuasi dan penanganan lainnya.
“Evakuasi udara warga kita dari Mesir ke Tanah Air,” kata Presiden SBY di Jakarta.
Hassan Wirajuda akan dibantu mantan Duta Besar RI di Mesir. Teknis evakuasi udara juga akan dibantu Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Marsekal Madya Sukirno.
Untuk menangani evakuasi dan penanganan WNI di Mesir, SBY membentuk Satuan Tugas khusus. Proses evakuasi juga akan dibantu dari elemen Kementerian Perhubungan, Kementerian Hukum dan HAM untuk Imigrasi, serta Kementerian Kesehatan untuk perawatan dan pengobatan. “Malam ini kalau bisa berangkat. Segera ke Kairo, mengingat sulitnya pembekalan logistik di Mesir,” tegas SBY dalam rapat terbatas khusus membahas Mesir.
Pemerintah juga akan memobilisasi pesawat udara. Maskapai Garuda Indonesia, Lion Air dan Batavia. Garuda berangkat tadi malam, dua lainnya segera menyusul. Tugas pokok lain Satgas adalah memberikan pengamanan, penyelamatan dan bantuan logistik bagi warga Indonesia di Mesir. “Sedang dikoordinasi tata cara dan mekanisme pemberian logistik dan evakusi udara. Diplomasi terus dilakukan,” kata SBY seperti ditulis Vivanews.
Pemerintah juga akan melibatkan unsur-unsur militer agar bisa memperlancar dan mempercepat evakuasi udara sekitar 6.200 warga Indonesia di Mesir.
SBY memerintahkan sumber keuangan untuk evakuasi ini diambil dari anggaran cadangan. Satgas ‘Mesir’ bertanggungjawab langsung kepada SBY. “Yang penting, evakuasi dapat berjalan baik.”
Data terakhir Kementerian Luar Negeri menyebutkan, warga negara Indonesia yang berada di Mesir sebanyak 6.149 orang, terdiri dari 4.297 mahasiswa, 1.002 tenaga kerja, dan staf KBRI serta keluarganya. Saat ini, mereka membangun komunikasi di 20 posko.
Sementara itu, seperti disiarkan Antara Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kairo belum melakukan evakuasi karena situasi keamanan di negara Afrika Utara itu membaik. “Situasi membaik,” kata Kepala Bagian Penerangan, Sosial dan Kebudayaan KBRI, Iwan Widjaya Mulyatna.
“Atase Pertahanan menilai evakuasi belum perlu dilakukan karena keamanan di Mesir membaik,” kata Iwan kepada koresponden ANTARA Munawar Saman Makyanie, di Kairo, Senin.
Gubernur agar pro-aktif
Ketua Fraksi PKS DPRD Sumbar Rafdinal mendesak Gubernur Sumbar Irwan Prayitno agar bersikap proaktif sekaitan dengan situasi di Mesir yang tidak menentu itu. Pasalnya, mahasiswa Sumbar yang merupakan aset daerah, banyak yang belajar di sana.
“Sejauh ini, memang dilaporkan aman-aman saja kondisi pelajar asal Sumbar. Tapi itu tidak menjadi jaminan ke depan. Situasi ke depan, tak bisa diprediksi. Gubernur harus mengambil langkah kongkrit untuk menyikapinya,” terang Rafdinal kepada Singgalang, Senin (31/1) di Padang.
“Gubernur diharapkan membicarakan langkah-langkah yang dilakukan ke depan. Bicarakan dengan DPRD Sumbar dan elemen masyarakat lain. Warga Sumbar di sana yang kebanyakan mahasiswa adalah aset daerah. Diantara mereka ada yang dibiayai APBD Sumbar. Ini tidak bisa dibiarkan,”ujar dia. (101/109/003)
http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=3572
