Produksi Jagung Satu Juta Ton per Tahun
Rabu, 09/02/2011
LIMA TAHUN KEDEPAN
Solok, Haluan-Sampai sekarang produksi jagung Sumatera Barat baru mencapai 400 ton per tahun. Tahun mendatang produksi harus mencapai 600 ton per tahun. Dan lima tahun ke depan produksi harus mencapai satu juta ton per tahun.
Untuk produksi 1 juta ton itu, PT CNM selaku penyedia bibit sanggup meladeni kebutuhan bibit karena saat ini CNM mampu memproduksi bibit hingga 200 ton per minggu. Terkait dengan rencana produksi jagung satu juta ton per tahun itu, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno meminta bupati/walikota di Sumatera Barat agar menginventarisir lahan tadah hujan maupun lahan kering untuk bisa dikembangkan menjadi lahan komoditi jagung.
Sumatera Barat dinilai masih memiliki peluang yang sangat baik untuk pengembangan jagung. Hanya saja selama ini belum maksimal diusahakan. Makanya Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Barat agar bisa menjabarkan peluang tersebut. Hal itu diungkapkan gubernur ketika meninjau pabrik bibit jagung Citra Nusantara Mandiri (CNM) milik Syukri di Ampang Kualo Kota Solok, Rabu (2/2).
Dalam peninjauan ke pabrik jagung yang berjarak lebih kurang 3 Km dari pusat Kota Solok itu, gubernur didampingi Wakil Walikota Solok Zul Elfian, Kadis Pertanian Tanaman Pangan Sumatera Barat Djoni, Kadis Pertanian Kota Solok Johni dan unsur Muspida Kota Solok.
Gubernur tampak sangat tertarik dengan kegiatan yang dilaksanakan PT CNM. Mulai dari proses budi daya yang dilaksanakan, hingga menjadi bibit jagung. Semua rangkaian proses itu tidak menggunakan mesin melainkan secara manual yang dikerjakan manusia. Jumlah pekerja yang diserap PT CNM mencapai 600 orang.
Direktur CNM Syukri kepada gubernur melaporkan, budi daya tanaman jagung yang dilaksanakan saat ini seluas 42 ribu hektar. Lahan itu tersebar di beberapa kabupaten/kota seperti Kabupaten Solok, Kota Solok, Solok Selatan, Tanah Datar, Dharmasraya, Pariaman dan Kabupaten Agam.
Sistem yang dilaksanakan menerapkan pola plasma. Dimana rakyat sebagai penyedia lahan, kemudian bibit dan teknologi dari PT CNM. Hasil produksi langsung ditampung PT CNM. Kegiatan tersebut sudah berlangsung hampir lima tahun yang dulunya hanya diawali di Kabupaten Solok saja.
Penerapan pola plasma itu, kata Syukri, juga diawali dulu dengan sosialisasi ke petani. Selama ini banyak petani yang menelantarkan lahannya begitu saja. Apalagi sawah tadah hujan, setelah penanaman padi kemudian dibiarkan saja sampai musim hujan berikutnya.
Melihat peluang itu, tim PT CNM kemudian melakukan pendekatan sehingga disepakati lahan sawah setelah padi tetap diolah dengan menanam komoditi jagung. Alhasil banyak petani yang mau bekerjasama dengan PT CNM.
Hanya saja sekarang, lanjut Syukri, manajemennya mulai kewalahan dengan tongkol jagung (limbahnya). Sebab dengan produksi setiap minggu 200 ton, paling tidak ada 50 ton limbah jagung menumpuk di lokasi gudang.
Kato bajawek, gayung basambuik, Gubernur menjanjikan akan menyalurkan limbah jagung berupa tongkol ke investor. ”Dua hari lalu kami didatangi investor asal Cina yang akan membuat bata. Salah satu bahan bakunya dari tongkol jagung. Jadi Pak Syukri tak perlu cemas karena akan ada pangsa pasar tongkol jagung itu nantinya,” jelas Irwan Prayitno.
Haluan, 4 Februari 2011
