Teringat Amanah, Gubernur Menangis
Sabtu, 19/02/2011
PADANG - Gubernur terbata-bata. Matanya sabak. Ia sedang menangis. Itulah yang terjadi saat ia berpidato di Padang, sebagaimana disiarkan Singgalang, Jumat (18/2).
Peristiwa itu terjadi di hadapan pegawai dan unsur SKPD, saat memberikan sambutan pada pelantikan Kepala Dinas Prasarana Jalan dan Tarkim Sumbar, Suprapto menggantikan Dody Ruswandi, Kamis (17/2).
Lantas di dasar hati gubernur gejolak apa yang terjadi? Benarkah karena beban yang berat atau karena tekanan bertubi-tubi?
Yang terucap memang itu, namun sesungguhnya, ada alasan lain.
Kepada Singgalang, kemarin Irwan bertutur:
“Saya sebenarnya tidak menangis, tapi terbata-bata. Ketika saya berpidato, saya bercerita soal tanggungjawab seorang pemimpin. Amanah itu amat berat, salah-salah neraka tantangannya,” kata dia.
Itulah bukti, betapa tangis Irwan keluar tanpa ia sadari. Para undangan di bagian belakang pada acara serahterima pejabat itu, juga tidak melihat ada air mata. Tapi undangan bagian depan melihatnya.
Menurut wartawati Singgalang yang hadir dalam acara itu, Irwan memang tidak menangis tersedu-sedu seperti seseorang menangis yang sedang sedih, air matanya berderai-derai. “Kalau itu iyo indak Pak, itu mararau mah, anak ketek tataruang tu mah, “ kata si wartawati kepada Pemred Singgalang tadi malam.
“Tapi ia terbata-bata, matanya sabak, air tergenang di sudut matanya, lalu jatuh. Itu yang saya lihat,” katannya lagi. Itulah tangis pemimpin.
Pendidikan agama
Pendidikan agama dan didikan orangtua yang baik sejak kecil, membuat Irwan memiliki pemahaman akan agama cukup mendalam. Dalam usia dewasanya, ia mendalami ajaran agama dengan baik. Menggali sifat-sifat Nabi dan para sahabat.
Ilmunya tentang sifat-sifat Nabi itulah yang menjalar tanpa disadarinya, ketika ia berpidato saat melantik Kepala Dinas Prasjal dan Tarkim itu.
“Ketika saya menceritakan tentang tanggungjawab dan amanah yang diberikan kepada gubernur, saya teringat bagaimana Nabi Muhammad SAW dan para khalifah, seperti Umar bin Khatab yang menangis karena takut tidak bisa menjalankan amanah. Ancamannya adalah neraka. Mereka menangis karena memahami secara mendalam makna tanggungjawab itu.”
Teringat akan hal itu, secara tak sadar, Irwan hanyut dibuatnya.
“Saya pun terdiam dan terbata-bata memberi sambutan karena saya pun merasa apakah saya mampu membawa amanah ini dengan benar,” kata Irwan.
Karena itu ia pun menceritakan beberapa contoh dan mengajak SKPD untuk solid, dan jangan berebut jabatan. Jabatan itu amanah, karena bisa membawa seseorang masuk surga atau sebaliknya masuk neraka. “Karena ucapan saya itulah yang kemudian membuat saya terbata-bata, bukan menangis,” kata Irwan.
Pemaknaan
Lantas bagaimana memaknai peristiwa semacam itu? “Saya kira tergantung orangnya,” kata Irwan. Menurut dia, apa yang terjadi pada Kamis itu, sangat spontan.
Menurut Irwan tangis yang dikaitkan dengan amanah sebagai pemimpin, banyak contohnya. “Misalnya Umar bin Khatab serta para khalifah,” katanya.
Di Indonesia, banyak pemimpin yang menangis. Di Sumbar, ada Bupati Tanah Datar Shadiq Pasadigue yang mudah tersentuh oleh hal-hal yang humanis. Ia meneteskan air mata ketika melihat rakyat yang sengsara.
Ali Sadikin, mantan gubernur DKI dalam kapasitasnya sebagai dedengkot Petisi 50, meneteskan air mata di pabrik pesawat terbang Nurtanio, ketika diajak BJ Habibie ke sana. Ali menangis karena melihat betapa luar biasanya generasi muda Indonesia.
Karena itu, Gubernur Irwan menangis, adalah sesuatu yang baik, kecuali memang ada yang melihatnya dari sisi yang tidak baik.
Tekanan
Tekanan pada gubernur bukan isapan jempol. Banyak yang memaksa gubernur agar bergaya dan bertindak sesuai keinginan sekelompok orang. Orang-orang partai, tokoh-tokoh yang merasa hebat. Dua contohnya adalah soal pemilihan sekda dan mutasi. Masih bisa ditambah satu lagi, tentang seleksi CPNS.
Di belakang, tak terlihat umum, luar biasa tinggi dan banyaknya tekanan dari pelbagai pihak yang berkepentingan. Belum lagi, saat gubernur ‘terpeleset’ dilibas habis kiri kanan.
Apa contohnya? Pergi ke Jerman dalam suasana tsunami Mentawai. Gubernur tak diberi ampun. Pertemuan dengan unsur pimpinan DPRD Sumbar di sebuah restoran beberapa hari lalu, siapa bilang itu bukan suatu tekanan?
Pembicaraan tentang gubernur oleh pelbagai kalangan elit politik dan pejabat di Sumbar akhirnya sampai pada gubernur, itu juga tekanan. Mulai dari gubernuran dikuasai PKS, sampai persoalan dana rehab rekon.
Penilaian-penilaian yang tidak konferehensif tentang Irwan Prayitno, ditambah dengan mengadu dombanya dengan Wagub bahkan dengan Mendagri. Wagub sendiri juga harus menahan diri untuk tidak membuka pintu adu domba. Jangan hanya gubernur yang diminta memahami wagub, tapi sebaliknya juga harus demikian.
Belum lagi soal tiket pesawat, tentang satu petani satu sapi. Begitu juga soal calon-calon komisaris Bank Nagari. Semua berkembang liar, menarik dan sekaligus menyedihkan.
Irwan sendiri, untuk beberapa hal harus berbenah. Untuk beberapa hal lain harus kukuh dengan pendirian. Gubernur jangan diatur-atur oleh orang lain seenak perutnya. Kukuh dalam pendirian adalah juga salah satu ciri pemimpin yang baik.
Beragam tanggapan
Menangisnya gubernur Irwan Prayitno ditanggapi beragam.
Ada yang menganggap itu wajar, karena gubernur juga manusia. Tapi ada pula yang geleng-geleng kepala, sebab tak pantas seorang pemimpin menangis karena beratnya tanggungjawab, dan banyaknya tekanan dari dalam mau pun dari luar.
“Saya kaget saat diberi tahu teman tentang berita di koran. Katanya gubernur menangis dan saya pun membaca Singgalang untuk mengetahui berita tersebut,” kata salah seorang pegawai di kantor gubernur, kepada Singgalang, Jumat (18/2).
Dikatakannya, tidak hanya dia yang kaget, pegawai lainnya juga tidak percaya dengan kondisi itu. Ada pula yang geli membaca berita di koran, ada pula yang ketawa-ketawa. Namun banyak yang memahaminya.
Terkait kondisi itu, kata pegawai yang enggan disebutkan namanya tersebut tidak akan memengaruhi kinerja pegawai, sebagaimana komentar dari sejumlah pihak. Sebab pegawai memiliki sistem kerja yang jelas.
“Menangisnya gubernur tidak akan melemahkan kinerja kami sebagai pegawai. Karena kami memiliki aturan yang jelas dalam bekerja. Bukan asal-asalan. Bahkan bisa melecut kami lebih giat lagi, “ papar pegawai tersebut.
Menurutnya, sejak pemberitaan itu kinerja pegawai di kantor gubernur baik-baik saja, meski ada yang pro dan kontra.
Pegawai lainnya mengatakan, jika gubernur menangis terkait masalah pribadi itu hal yang wajar. Sebaliknya kalau menangis karena urusan lembaga itu kurang wajar. “Secara manusiawi itu wajar, tapi untuk sosok seorang pemimpin tidak bagus. Apalagi kita dilarang berkeluh kesah oleh agama,” ujar pegawai berambut ikal tersebut.
Tidak hanya di rumah bagonjong orang heboh, tapi masyarakat Sumbar juga terkejut karena gubernurnya menangis.
“Ambo takajuik mambaco headline koran Singgalang, gubenur menangis. Setelah saya baca saya baru paham kenapa bapak gubernur kita itu menangis, ambo mandukuang pak gub” kata Ujang.
Sebagai salah satu masyarakat Sumbar, ia menilai wajar saja gubernur menangis karena ia juga manusia. Tapi dia berharap ke depan kondisi tersebut tidak lagi terjadi di hadapan forum. (kj/yuke/yuni)
Singgalang 19 Februari 2011
http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=3859
