Mail to Friends

Ketika Gubernur Menangis

Sabtu, 19/02/2011

M. LUTHFI MUNZIR

ENAM bulan menjadi Gubernur Sumatra Barat, seorang Irwan Prayitno (IP) merasakan betul bagaimana beratnya beban amanah yang dipikulnya. Amanah masyarakat pasca terpilih menjadi gubernur pada pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah tahun 2010. Terlihat benar hal itu ketika IP saat berpidato pada pelantikan kepala Dinas Prasarana Jalan dan Tarkim Sumbar, Kamis (17/2).

Seperti diberitakan Singgalang, Jumat (18/2), awalnya IP berpidato tentang pemetaan potensi PNS di lingkungan pemprov. Kemudian menyinggung berbagai tekanan yang diterimanya saat menjadi gubernur, bahkan mengarah kepada adu domba dan upaya memecah belah dirinya dengan Wakil Gubernur, Muslim Kasim. IP juga sempat menyatakan cukup lima tahun ini dirinya menjadi gubernur.

‘Curhat’ IP kemudian mengarah kepada tak bisanya dirinya melihat anak-anaknya di luar negeri. Hanya sang istri yang selalu menjadi penyejuk dalam menghadapi cobaan dan tekanan tersebut. Seorang istri yang selalu memotivasinya untuk tegar dan amanah menjalani tanggung jawab.

Ada beberapa pelajaran penting dalam menyikapi tangisan seorang IP. Pertama; saya yakin, tak banyak yang benar-benar merasakan beratnya tanggung jawab menjadi seorang pemimpin. Apalagi menjadi pemimpin bagi jutaan rakyat. Barangkali tak semua pemimpin di negeri ini sadar bahwa sebuah jabatan bukanlah sesuatu yang ‘diperebutkan’ dengan rakus dan menghalalkan segala cara. Karena pada akhirnya, setiap kepemimpinan yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan. Tidak hanya di hadapan manusia, namun yang terpenting adalah pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Kedua; curhat IP tidak saja merupakan bentuk melepaskan rasa gundah dan beban yang (mungkin) amat sangat membebani pikirannya selama menjadi gubernur. Curhat tersebut juga merupakan ekspresi atau cara IP sebagai seorang pemimpin yang mengerti arti tanggung jawab. Konsekuensi menjadi seorang pejabat publik sudah barang tentu mengorbankan kepentingan diri sendiri dan keluarga.

Ketiga; amanah sebagai seorang pemimpin tak akan pernah lepas dan sepi dari berbagai bentuk ujian dan cobaan. Ada saja ujian dan cobaan yang melanda, apakah dari berbagai pihak yang belum puas dengan kepemimpinan IP, ataupun pihak yang tidak ingin hubungan Pak IP dengan wakilnya, Muslim Kasim berjalan harmonis hingga akhir jabatannya. Tampak sekali upaya politik dalam menjatuhkan seorang pemimpin dengan isu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Keempat; ada peran-peran besar orang-orang tercinta, seperti seorang istri yang ada di balik kesuksesan seorang pemimpin. Beratnya tanggung jawab dan besarnya amanah yang dipikulkan akan mampu dijalani dengan baik jika sang belahan jiwa (istri) mensupport penuh IP. Saling mengingatkan dalam kebaikan akan menjadi ruh tersendiri yang menjadi penguat keberlangsungan suksesnya sebuah amanah. Saya yakin IP lebih faham dengan hal tersebut.

Ada berbagai bentuk cara pemimpin yang sadar akan beratnya amanah yang dibebankan kepadanya, dan IP memilih curhat dan menangis sebagai cara menyadarkan diri beliau sendiri (maupun kita semua) bahwa sebuah amanah harus dilakukan dengan penuh kesadaran dan rasa tanggung jawab.

Kita pun bisa belajar dari sejarah para pemimpin Islam setelah Rasulullah SAW wafat. Ada kisah Khalifah Umar Bin Khattab r.a. Saat Umar Bin Khattab diangkat sebagai Amirul Mukminin di zamannya beliau tidak bersuka cita, tidak tertawa bahagia, tetapi menangis. Menangis sedih karena diberi tugas yang begitu berat, memimpin rakyat adalah amanah yang tanggung jawabnya dunia akhirat. Beliau takut tidak bisa mengemban amanah itu dengan sebaik-baiknya. Tetapi kemudian beliau menerimanya dengan penuh rasa tanggung jawab yang sedemikian besar.

Saat jabatan sudah di tanganpun, Umar tak serta merta bersenang-senang. Beliau berkeliling melihat kondisi rakyat di wilayah kekuasaannya. Ketika Umar masuk ke rumah (istana). Ia memerintahkan agar semua hiasan istana ditanggalkan. Baju-baju kebesaran khalifah ia jual dan hasil penjualannya dimasukkan ke baitul mal. Ia memerintahkan agar diumumkan ke khalayak bahwa: siapa saja yang telah dizalimi hendaklah ia melaporkannya. Umar tidak membiarkan sedikit pun kekayaan yang ada pada kekuasaan Sulaiman dan apa yang ada di tangan orang-orang yang zalim kecuali ia kembalikan kepada pihak-pihak yang terzalimi. Masyarakat-pun merasa senang dengan kepemimpinannya.

Saat ini kita butuh pemimpin yang lebih peduli kepada rakyat, yang selalu memperhatikan dan merespon jeritan rakyat. Era reformasi yang menuntut transparansi dan akuntabilitas pemimpin dipertaruhkan. Apalagi otonomi daerah sangat merespon dan mengakomodasi kedekatan pemimpin dengan rakyatnya. Tujuannya agar pemimpin benar-benar memperhatikan nasib rakyatnya.

Namun, jangan keliru mengartikan kedekatan pemimpin dan rakyat dengan melakukan langkah-langkah nepotisme, sehingga jabatan bukan diraih dengan cara profesional berdasarkan kompetensi. Sebagai masyarakat biasa, saya berharap tangisan IP semakin memperteguh komitmen beliau dalam perbaikan di berbagai bidang kehidupan masyarakat, sehingga masyarakat benar-benar merasakan bahwa Sumatra Barat yang lebih baik tidak hanya sekedar wacana dan mimpi. Semoga. (*)

Singgalang 19 Februari 2011

http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=3857


Warning: Unknown: open(/tmp/php/8/8/d/sess_88d78f0776ffeefb8f0816bc547daedd, O_RDWR) failed: No such file or directory (2) in Unknown on line 0

Warning: Unknown: Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (3;/tmp/php) in Unknown on line 0