Irwan Prayitno : Tahun ini Tahun Permodelan
Selasa, 15/03/2011
Padang, Haluan-Sekalipun kadang merasakan tertekan kiri-kanan dalam menjalankan tugas, tetapi nampaknya Gubernur Irwan Prayitno menjalaninya dengan santai saja. “Santai tapi tetap bekerja sebagaimana yang sudah diprogramkan, mengurus pemerintahan ini kan tidak bisa sendirian butuh kebersamaan,” tutur Irwan Prayitno saat disambangi Haluan di rumah dinasnya, Selasa (8/3) pagi.
Seperti biasa ia hanya mengenakan kemeja yang sederhana. Menerima tamu di ruang tamu yang masih sesederhana ketika ditempati oleh Gubernur Gamawan Fauzi. Kursi tamunya masih yang itu juga. Yang berubah hanya foto-foto pajangan, ya, wajar karena tuan rumahnya sudah beda.
Ia lalu bertutur bahwa ternyata mengurus pemerintahan memerlukan seni tersendiri dibanding mengurus politik. Irwan sebelumnya lebih banyak berada di zona politik ketika menjadi salah satu dari 14 wakil Sumatera Barat di Senayan, Jakarta.
“Harus saya akui ada banyak hal yang tidak bisa dilakukan sebagaimana kita mengurus politik kalau di pemerintahan. Semula saya kaget ketika saya tawarkan kepada Kepala SKPD proyek dengan anggaran lebih besar, eh, ada yang menolak. Alasannya karena tidak bisa dilaksanakan lantaran keterbatasan tenaga. Padahal tenaga yang ada saya lihat amat banyak,” kata Irwan mengawali tukar cakap dengan Zul Effendi, Eko Yanche Edrie dan Ismet Fanany MD dari Haluan.
Setelah itu meluncur deras dari bibir Datuak Rajo Bandaro Basa berbagai hal yang menjadi kerisauannya. Selama ini kerisauan itu ditangkap sebagai keluhan oleh publik. Tapi kemudian dia meluruskan bahwa itu adalah fakta-fakta handicap di lapangan. Jadi bukan keluhan. Soal ditolaknya tawaran anggaran seperti yang dia ceritakan itu, ternyata masalahnya adalah pada ketersediaan suprastruktur.
Misalnya penolakan tawaran anggaran besar oleh SKPD itu adalah karena Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) jumlahnya juga terbatas. Tadinya Irwan menyangka bisa saja ditambah dari SDM yang ada. “Ternyata tidak, calon KPA harus memiliki kecakapan khusus yang telah melewati pendidikan khusus pula. Kalau dipaksakan menjadi KPA bisa jadi nanti muncul masalah, ada yang berurusan denganhukum dan sebagainya lantaran tidak memahami seluk-beluknya. Kasihan para pegawai itu. Walhasil, saya harus bersabar dulu,” kata Irwan.
Ia mengaku banyak mendapat pengetahuan dari para staf. Ia mengaku tidak segan bertanya hal ihwal yang belum dimengerti mengenai tata kelola pemerintahan. “Biasa saja itu bertanya kepada staf. Saya juga anjurkan begitu kapada para pejabat saya. Mentang-mentang jadi pejabat tidak berarti mengerti semua hal teknis,” ujar suami Nevi Zuarina ini.
Keterbatasan-keterbatasan SDM seperti itulah yang menurut Irwan perlu dicarikan solusinya. Itulah sebabnya ia melanjutkan lagi pemetaan potensi SDM di lingkungan Pemprov Sumbar bahkan meluas sampai ke Kabupaten/Kota.
Saat ini menurut dia, SDM yang perlu peningkatan itu adalah mereka yang berada pada posisi eselon III. Tidak cukupnya KPA tadi adalah faktanya. Jadi kalau anggaran yang berhasil dilobi oleh gubernur ke departemen akhirnya batal diusulkan lantaran kapasitas tenaga pengguna anggaran itu terbatas. “Jadi kalau pun kita bisa berlari kencang, pada tingkat eselon III itu tidak bisa berlari kencang. Walhasil akhirnya kita pun memperlambat speed. Kita tunggu peningkatan kapasitas di tingkat midle management itu,” ujar pria yang sudah punya cucu ini seraya menyodorkan teh kepada tamunya.
Apapun programnya kalau sumber daya manusia yang akan menggerakannya belum mencukupi kapasitasnya, tentu saja hanya akan berakhir dengan kekecewaan. Maka sebaiknya disiapkan dengan matang terlebih dahulu. Karena itu pula ia lalu memutuskan untuk beriya-iya dengan Wakil Gubernur Muslim Kasim untuk menjadikan tahun 2011 ini sebagai tahun permodelan. Pada tahun ini semua program akan dijadikan model untuk dilihat pada akhir tahun mana yang harus dilanjutkan mana yang harus dilupakan saja atau diganti dengan program yang lebih implementatif dan memiliki dukungan SDM yang memadai.
Karena itu pula meskipun awalnya sempat ‘marabo’ juga kepada SKPD terkait, Irwan dapat menerima kalau anggaran untuk Program Pendidikan Berkarakter Rp28 miliar lebih tidak lolos di Badan Anggaran DPRD Sumbar. Kala itu, ia mengaku sempat mengirimkan pesan singkat kepada SKPD terkait dengan agak keras. Padahal ia tidak biasa dengan cara-cara keras itu. “Saya sempat perlihatkan SMS itu kepada Pak Wagub minta pendapatnya apakah SMS ini tidak terlalu keras. Eh, Pak Wagub mengatakan bahwa itu masih terlalu lunak,” kata Irwan yang pagi itu didampingi oleh dua stafnya, Achmad Kharisma dan Abdul Gafar.
Kembali kepada istilah tahun permodelan tadi, gubernur menyebutkan bahwa tahun depan semuanya sudah on the track. Kalaupun dilakukan dengan kecepatan tinggi sudah tidak ada lagi masalah. Tentu saja kendala yang ada misalnya kekurangan KPA tadi akan disiapkan tenaga-tenaga untuk itu. Artinya kalau belum akan diangkat jadi KPA, minimal orang yang siap diangkat menjadi KPA sudah dua tahun memiliki kapasitas cukup.
Irwan mengakui adanya kendala ketika ia mulai menggulirkan program satu sapi satu petani. Hanya beberapa Kabupaten/Kota saja yang merespon. Ternyata sabab musababnya lantaran itu tadi, kekurangan KPA. Ia mulai mencoba melakukan pendekatan per nagari. Perantau minang yang sudah beberapa kali diajaknya belum juga tergerak untuk memeberikan dukungan. ”Akhirnya saya perlu mengubah polanya, melakukan pendekatan ke nagari saja. Jadi perantau nagari A cukup kita ajak untuk membangun nagari A saja terlebih dahulu. Jika nanti sudah berkembang baru diajak bicara kecamatan, kabupaten dan provinsi. Kita mulai dari yang kecil-kecil,” ujarnya bersemangat memamparkan program ke nagari-nagari itu.
Ternyata ia pun mau juga menerima masukan ketika wartawan Haluan menawarkan jalan tengah agar dibuat saja pilot project untuk 10 sampai 15 nagari saja terlebih dahulu. ”Iya, mestinya seperti itu, akan saya coba. Kita data dulu nagari mana saja yang perantaunya bisa kita ajak. Nanti tahun depan baru kita terapkan di semua nagari,” kata Irwan.
Panjang juga obrolan hari itu, hingga tak terasa mentari sudah mendekati titik kulminasi. Irwan pun bersiap-siap menunggu kabar apakah akan jadi bertolak ke Mekkah untuk melaksanakan umroh. Jadwal keberangkatannya bersama serombongan jemaah umroh dari Sumatera Barat memang tertunda-tunda karena ada masalah dalam pengurusan visa di Kedubes Saudi di Jakarta. ”Saya sekarang sudah cuti, jadi tidak boleh tanda tangan lagi sampai nanti pulang dari Mekkah ha ha ha,” katanya. Ia melepas tetamunya setelah bersalaman hangat setelah Yongki Salmeno, kawan dekatnya meminta tim wartawan Haluan berfoto bersama di pintu masuk.
Haluan, 10 Maret 2011
