Dukung Operasional Irigasi Panti Rao, Pemprov Sumbar Siapkan Dana Perawatan
Selasa, 22/03/2011
Irigasi Panti Rao merupakan sarana vital dalam mendukung usaha pertanian di kabupaten Pasaman. Namun opersional irigasi belum optimal karena terkendala belum tersedia dana perawatan memperbaiki jaringan irigasi yang rusak. Karena itu, pemerintah Sumbar akan menyediakan anggaran untuk perawatan agar bendungan optimal dimanfaatkan.
”Irigasi ini sudah selesai, tapi karena tidak ada dana perawatan, pemanfaatan tidak maksimal, berarti kita sudah mubazir, sudah zolim. Karena itu tahun 2011 ini akan kita tuntaskan, kalau tidak ada dana dari pusat, kita akan sediakan anggaran dari provinsi dan kabupaten,” tutur Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno saat mengunjungi Bendungan Irigasi Panti Rao.
Dana yang perlu disediakan untuk perawatan seperti yang diungkapkan Kepala Balai Sungai Wilayah V, Tumbuan Gultom saat ekspos irigasi Panti Rao pada Gubernur tidak terlalu besar. Dana yang dibutuhkan sekitar Rp1 miliar/tahun.
Ia menuturkan secara fisik pembangunan irigasi Panti Rao sudah selesai. Namun pemanfaatan irigasi nomor satu terbesar di Sumbar setelah irigasi Batang Hari masih belum optimal karena ada beberapa jaringan yang rusak.
Kepala Dinas PSDA Sumbar, Ir. Ali Musri mengungkapkan Irigasi Panti Rao merupakan salah satu proyek irigasi yang dibangun di Sumbar yang telah dimulai sejak 1978. secara keseluruhan Irigasi Panti Rao mampu mengairi areal persawahan di Kabupaten Pasaman seluas 8.300 Ha. Namun karena berbagai kendala, saat ini luas sawah yang baru terairi seluas 4.120 Ha.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Sumbar, Ir. Djoni juga berharap agar pemanfaatan irigasi Panti Rao juga dapat dioptimalkan. Bila irigasi tersebut dioptimalkan, maka keberadaannya dapat meningkatkan produksi padi, khususnya di Pasaman.
Saat ini, produksi kabupaten Pasaman sebanyak 280 ribu ton dengan surplus sebesar 80 ribu ton. ”Sekarang keberadaan irigasi Panti Rao baru mengairi sawah 45 persen, bayangkan berapa peningkatan produksi kalau pemanfaatannya bisa mencapai 100 persen, minimal ada peningkatan produksi 40 ribu ton,” tuturnya.
Tabloid Pertanian, Edisi No.84/Februari/2011
