Mail to Friends

Irwan Prayitno: Berangkat dari Panggung Dakwah

Selasa, 23/02/2010

Perilaku politik Ketua Komisi X DPR RI dari Fraksi partai keadilan Sejahtera ini, memang selama ini jauh dari anggapan miring, sebagaimana melekat pada sebagian anggota DPR

Duduk di komisi yang membidangi Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, serta Budaya dan Pariwisata, Irwan menyimpan obsesi besar kelak pendidikan menjadi ujung tombak bagi bangsa ini dalam mengejar ketertinggalannya dari bangsa-bangsa lain. Baginya, masyarakat yang terdidik merupakan prasyarat bagi tercapainya masyarakat madani yang beradab serta tegaknya norma-norma.

Kendati berdarah Minang, Irwan sangat paham dengan filosofi guru dalam pepatah Jawa bahwa guru adalah sosok yang di-gugu omongane lan ditiru kelakone (dipercaya ucapannya dan dicontoh tindakannya). Baginya, menyandang profesi guru berarti harus menjaga citra, wibawa, keteladanan, integritas, dan kredibiltasnya. Ia tidak hanya mengajar di depan kelas, tapi juga mendidik, membimbing, menuntun, dan membentuk karakter moral yang baik bagi siswa-siswanya.

Ia selalu mengangankan agar terlahir sosok-sosok manusia yang memiliki karakter beriman, amanah, profesional, antusias dan bermotivasi tinggi, bertanggung jawab, kreatif, disiplin, peduli, pembelajar sepanjang hayat, visioner dan berwawasan, menjadi teladan, memotivasi (motivating), mengilhami (inspiring), memberdayakan (empowering), membudayakan (culture preforming), produktif (efektif dan efisien), responsif dan aspiratif, antisipatif dan inovatif, demokratis, berkeadilan, dan inklusif. 

Namun antara harapan dengan kenyataan, seringkali sulit bertemu dan hal itu juga membuatnya kadang terpaksa berkompromi dengan realitas. Semisal ketika pemerintah berencana melaksanakan Ujian Nasional (UN) yang kemudian memicu pro dan kontra. Pakar-pakar pendidikan itu yang sama-sama profesor pendidikan, ada yang mendukung UN dan ada yang menolak UN dan keduanya punya rujukan yang mungkin sama-sama benar. 

Demi mengatasi kebuntuan, sebagai pimpinan Komisi X yang membidangi masalah itu, Irwan dihadapkan pada posisi harus memilih dan akhirnya diputuskan dengan melihat kecenderungan mana yang paling mungkin. Dan yang paling memungkinkan adalah UN dilaksanakan. "UN itu lebih kepada perbedaan pemahaman dan cara berpikir yang tidak mungkin untuk bisa disamakan. Itulah politik. Jadi tidak bisa mana yang benar dan mana yang salah karena realitas politiknya itu beragam. Tidak mungkin di kanan atau kiri terus, kita musti maju. Dan itu harus, karena kita menginginkan penyelesaian," ujar mantan calon Gubernur Sumatera Barat ini. 

Sebagai anggota legislatif, ia menyadari tidak mempunyai kuasa menjalankan program-program pemerintahan yang langsung menyentuh nasib rakyat. Hal maksimal yang bisa dilakukan hanyalah menyampaikan aspirasi masyarakat ke eksekutif dan merekalah yang menjalankannya. Jika eksekutif melaksanakan amanat legislatif sesuai dengan yang diharapkan konstituen, maka kerja wakil rakyat itu baru bisa dibilang selesai. 

Ketika Partai Keadilan didirikan, Irwan masih kuliah S-3 di Universitas Putra Malaysia (UPM). Ia dipercaya menjadi Ketua Perwakilan PK di Malaysia. Lewat kendaraan politik itulah, ia terpilih pada Pemilu 1999 mewakili Sumatera Barat. 

Sebelum duduk di Senayan dan masih menuntut ilmu, Irwan banyak menghabiskan waktu di luar kampus untuk mengajar, berdakwah, berdiskusi, serta mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Menikah dengan Hj. Nevi Zuairina pada 1985 tanpa modal apa-apa, pria Minang kelahiran Yogyakarta 20 Desember 1963 ini kini dianugerahkan sepuluh orang putera-puteri.

Begitu lulus sarjana psikologi UI, yang terngiang di pikirannya justru ingin berdakwah. Tawaran gaji besar  dari perusahaan semen terbesar di Padang, misalnya, ditampiknya. Keyakinan untuk terus berdakwah, menurutnya, bila dilandasi dengan nawaitu  demi menggapai Islam kaffah akan menjadi besar.  Bersama teman-teman, ia terdorong membangun lembaga pendidikan Adzkia (yang artinya kecerdasan) untuk dakwah pendidikan, serta Yayasan Al-Madani untuk mengurusi dakwah sosial.

Dari dua lembaga ini pula ia menelurkan puluhan buku seri pendidikan Islam, di samping buku-buku Seri Manajemen SDM. Ia juga pernah menjadi dosen di berbagai perguruan tinggi, seperti, Dosen Psikologi Industri, AKABAH Bukittinggi (1991-1994), Dosen Luar Biasa (Kuliah Psikologi Industri) FMIPA, Universitas Andalas, Padang (1991-1995), dan juga Dosen Program Pascasarjana Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Jakarta. 

Baru pertama kali duduk di Senayan, Irwan langsung dipercaya sebagai Ketua Komisi VIII DPR-RI. Awalnya ia cukup kaget saat dipercaya oleh fraksinya untuk menjabat salah satu "komisi basah" itu. Terlebih kala itu ia mengaku tidak begitu paham mengenai politik praktis kecuali tentang dunia dakwah di kampus-kampus. "Beruntung teman-teman menyenangi saya. Mungkin karena bagi mereka saya orangnya lugu, dan tidak mempunyai interest tertentu dalam setiap memimpin rapat dan sidang-sidang," kenangnya. 

Dalam memimpin rapat dan sidang, Irwan memang senantiasa menunjukkan sikap konsisten. Ia akan mendukung sesuatu yang dianggapnya benar, meskipun itu pendapat  dari anggota fraksi lain, demikian sebaliknya.

Pada dua tahun pertama periode keanggotaan 2004-2009, Irwan tetap ditempatkan di Komisi VIII DPR RI, meskipun sebatas anggota biasa. Pada 2006, Irwan kembali dipercaya sebagai ketua, kali ini Ketua Komisi X.

Men's Obsession Edisi Oktober-November 2009