Profil
Gelar Sarjana Psikologi ia peroleh dari UI, kemudian melanjutkan pendidikan Pasca Sarjana dan Doktoral dibidang Manajemen SDM Universitas Putra Malaysia. Ia tercatat sebagai Ketua Bidang Pengembangan Wilayah dan Mekanisme Kerja ICMI Pusat. Saat ini beliau duduk sebagai Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKS, mewakili daerah pemilihan Sumatera Barat I. Ia tercatat sebagai dosen Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta dan Universitas Andalas Padang serta konsultan Managemen SDM.
Irwan Prayitno lahir di Yogyakarta, 20 Desember 1963. Meski terlahir di tanah Jawa, beliau memiliki darah Minang yang kental.
Sejak kecil, Irwan dikenal sebagai seorang anak yang cerdas, tak heran bila ia tumbuh menjadi sosok pemuda yang memiliki semangat tinggi dalam menimba ilmu. Gelar Sarjana Psikologi beliau peroleh dari Universitas Indonesia (UI). Kemudian ia melanjutkan pendidikan Pasca Sarjana dan Program Doktoral di dibidang Manajemen Sumber Daya Manusia Universitas Putra Malaysia.
Selain cerdas, Irwan juga piawai dalam berorganisasi. Saat duduk dibangku kuliah, ia tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia juga aktif di beberapa LSM, dan pernah tercatat sebagai Ketua Bidang Pengembangan Wilayah/Satuan dan Mekanisme Kerja Organisasi Ikatan Cendikiawan Muslim (ICMI) Pusat.
Ketika muncul era Reformasi, dimana kancah perpolitikan Partai Keadilan (PK) dimulai, Irwan ditunjuk sebagai Ketua Perwakilan Partai Keadilan Malaysia. Sejak awal berdirinya PK hingga berganti nama menjadi PKS, ia diamanahkan sebagai Ketua Bidang III DPP yang membidangi masalah Kebijakan Publik.
Sebagai putra Minang, Irwan menghabiskan waktunya untuk memajukan Propinsi Sumatara Barat, khususnya di bidang pendidikan. Sebagai mantan aktifis masjid kampus, kegiatan keagamaan tetap diteruskannya ketika berada di Padang, dengan melakukan training kepada para Mahasiswa di Perguruan Tinggi Sumatera Barat.
Bersama rekan-rekan seperjuangannya, ia merintis dakwah di Padang. Hal itu ia wujudkan dengan mendirikan Lembaga Pendidikan Islam ADZZIA, yang saat ini telah memiliki Pesantren dan pendidikan dari jenjang Play Group hingga perguruan tinggi, yang tersebar di wilayah Sumatera Barat dan Propinsi lainnya.
Tahun 1999, Irwan terpilih sebagai anggota DPR RI dari Partai Keadilan dengan Daerah Asal Pemilihan Sumatera Barat I. Saat itu ia diamanahkan menjadi Ketua Komisi VIII DPR RI yang membidangi masalah Energi, Sumber Daya Mineral, Riset, Teknologi dan Lingkungan Hidup. Ia juga diamanahkan sebagai Wakil Ketua Fraksi Reformasi DPR RI.
Pada Pemilu Legislatif April 2004, yang menggunakan sistem langsung, ia kembali terpilih sebagai anggota DPR RI dari Fraksi PKS, mewakili daerah pemilihan yang sama. Saat ini beliau duduk sebagai Anggota Komisi VII yang membidangi masalah yang sama.
Selain sebagai wakil rakyat, Irwan mendedikasikan dirinya pada bidang pendidikan. Ia tercatat sebagai dosen Pasca Sarjana Magister Manajemen (MM) Universitas Muhammadiyah Jakarta(UMJ) dan pernah menjadi dosen di Universitas Andalas Padang, serta beberapa perguruan tinggi lainnya. Selain itu ia juga berprofesi sebagai konsultan Managemen Sumber Daya manusia (SDM) di beberapa perusahaan. Ia aktif melaksanakan training di pelosok tanah air bahkan ke berbagai daerah di Malaysia dan beberapa negara lainnya.
Diantara beragam kesibukannya, Irwan menyempatkan diri untuk menulis. Diantara buah fikirnya adalah buku panduan yang terdiri dari 13 buah judul yang ditujukan kepada bagi para Da'i. Ia juga menulis buku yang berjudul "Membentuk kepribadan Muslim" saat ia menyelesaikan studi di Malaysia.
Awal Maret 2005, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengukuhkan Irwan Prayitno sebagai calon Gubernur Sumatera barat, yang akan bergandengan dengan Brigjen TNI (Purn) H. Ikasuma Hamid Dt. Gadang Batuah sebagai calon WakilGubernur dari Partai Bintang Reformasi (PBR). Deklarasi kesepakatan kedua Parpol ini ditandai dengan penandatanganan MoU di Sedona Bumi Minang Padang Sumatera Barat.
Agenda Utama dan sangat mendasar yang telah disusun Irwan Prayitno adalah mewujudkan ranah Minang, provinsi Sumbar yang bermartabat, berwibawa dan sejahtera. Ia juga akan membangun kembali potensi SDM Sumbar yang dulu pernah jaya dan tersohor dengan ulamanya, intelektual, pedagangnya, politisi dan masyarakatnya, melalui pendekatan pendidikan terpadu. Ia juga akan berjuang mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan mengoptimalkan potensi alam seperti potensi perkebunan, pertanian, peternakan dan juga agroindustri termasuk usaha kecil dan menengah yang mempunyai multiflier effect kepada ekonomi kerakyatan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumatera Barat.
------------------------------
Koran Tempo, 20 Januari 2002
Nikmatnya Punya Anak Banyak
Anak banyak? Bukan main. Di zaman serba sibuk, serba mahal, dan serba sulit seperti ini, ada pasangan yang mau memiliki anak lebih dari empat orang, sungguh membuat orang terheran-heran.
Tentu ada konsekuensi dan kebahagiaan tersendiri saat sepasang suami istri berkomitmen untuk membentuk sebuah keluarga besar. Konsekuensinya, jelas, memerlukan lebih banyak biaya untuk menghidupi empat orang atau lebih anak yang telah dilahirkan.
Di saat anak-anak masih berusia balita, pasangan suami istri harus memikirkan biaya baby sitter dan peralatan anak-anak, tumpukan cucian, dan suara gaduh ketika mereka menangis bersamaan. Ketika mereka beranjak besar, paling tidak dibutuhkan sebuah mobil bermuatan angkut yang besar agar bisa membawa mereka semuanya untuk piknik di akhir pekan. Untuk makan di restoran pun tak bisa hanya berbekal uang seratus ribu rupiah.
Tapi, menjadi sebuah kebahagiaan ketika orang tua melihat anak-anaknya dengan gembira memperebutkan sesuatu, tumbuh bersama, dan bertingkah layaknya teman akrab satu dengan yang lain. Ciuman yang berturut-turut di pipi untuk sang ayah dan ibu ketika mereka hendak berangkat sekolah seakan menjadi ritual. Ada tempelan-tempelan unik dari masing-masing anak pada lemari es. Melihat mereka tumbuh dari usia balita hingga mengenakan baju pengantin di hari pernikahan, sungguh mengharukan sekaligus membanggakan.
Hal-hal di atas mungkin telah atau akan dirasakan oleh pasangan Irwan Prayitno (39) dan Nevi Zuairina (37). Selama menjalani kurang lebih 17 tahun masa perkawinan, mereka beroleh sembilan anak. Jundy Fadhlillah (15), Wafiatul Ahdi (14), Dhiya'u Syahidah (12), Anwar Jundi (8), Atika (7), Ibrahim (5), Shohwatul Ishlah (3), Farhana Irwan (1,5), Laili Tanzila (2 bln).
Irwan yang anggota DPR RI sekaligus Ketua Komisi VIII ini mengaku, memiliki banyak anak adalah murni keinginan dirinya dan sang istri. Sejak awal pernikahan, keduanya berkomitmen untuk tidak membatasi jumlah anak yang kelak mereka punyai. "Itu sudah menjadi pilihan kami," tegas pria kelahiran Yogyakarta ini. Nevi yang diwawancarai secara terpisah juga mengaku, ia percaya sepenuhnya Irwan bisa mengatur kehidupan rumah tangga dengan memiliki anak banyak.
Bukan tanpa alasan mereka menentukan pilihan yang terkesan kurang populer untuk kehidupan masa kini yang terasa begitu berat. Keinginan kuat untuk melihat anak bisa cepat hidup mandiri melatarbelakangi niat mereka. Irwan berpendapat, semakin banyak anak hadir dalam sebuah keluarga, kesempatan masing-masing anak untuk bermanja-manja makin kecil. Lelaki ini beranggapan, kemanjaan di masa kanak-kanan bukan suatu hal yang baik. "Bahkan bisa merusak mental anak," imbuhnya.
Selain itu, alumnus Fakultas Psikologi UI ini mempertimbangkan pertumbuhan sosial anak sebagai salah satu faktor pendorong niatnya. Ia berpandangan, pertumbuhan sosial anak pada sebuah keluarga besar akan berlangsung lebih cepat. Ini terkait dengan kemampuan verbal mereka yang lebih terasah dalam lingkungan keluarga karena komunikasi kerap terjadi di antara sesama anak.
Melesatnya kemampuan anak Irwan untuk mendiri bisa terlihat ketika sang anak mulai memilih sekolah. Tanpa ragu-ragu, anak pertama dan keduanya, Jundy dan Ahdi, memilih untuk masuk salah satu pesantren setingkat SMP di kawasan Anyer, Propinsi Banten. Baik Irwan maupun Nevi tak ragu kedua anak mereka bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan di luar keluarga.
Walau tinggal berjauhan, Jundy dan Ahdi tetap melakukan kontak yang intens dengan kedua orang tuanya. Penuhnya jadwal Irwan selaku anggota dewan tak menyurutkan dirinya untuk terus memantau perkembangan kedua anaknya yang tengah meningkat remaja itu. Irwan kerap meluangkan waktunya untuk menelepon mereka, bahkan untuk berdialog mengenai pelajaran maupun masalah yang mereka temui dalam studi. "Saya mewajibkan diri saya untuk meluangkan waktu bagi mereka, walau sedang sibuk sekalipun," tutur pria asal Sumatera Barat ini.
Sementara, untuk ketujuh anaknya yang lain, Irwan menyadari masih teramat butuh perhatiannya mengingat usia mereka belum ada yang lebih dari 13 tahun. Baik Irwan maupun Nevi berusaha untuk meluangkan waktu bagi mereka, khususnya usai melakukan salat subuh dan magrib. Setiap harinya, di kedua kesempatan tersebut, pasangan yang menikah di usia dini ini tak lupa untuk mengajari anak-anak mereka materi-materi pelajaran yang dianggap sulit. Irwan juga tak sungkan menyuapi anak-anaknya untuk sarapan. "Intinya, kebersamaan dengan mereka saya utamakan," tegasnya. Hari liburnya pun terkadang dimanfaatkan untuk makan di restoran atau berjalan-jalan.
Kesempatan untuk bersama-sama dengan anaknya ini juga dimanfaatkan Irwan untuk mengenal lebih jauh kepribadian serta bakat yang dimiliki anak-anaknya. Ini tak mudah. Pasalnya, menurut Irwan, karakter kesembilan anaknya berbeda-beda. Tapi, berbekal hasil observasinya pada tingkah laku anak-anak setiap hari, Irwan melakukan pendekatan kepada tiap-tiap anaknya. Pun ketika sang anak dilanda masalah, ia mengandalkan kemampuannya mengenali tingkah laku sang anak sebagai langkah awal membimbing anak memecahkan masalah yang dihadapi.
Jika dalam membimbing buah hati Irwan turun tangan sepenuhnya, namun lain halnya dalam mengelola keuangan rumah tangga. Untuk hal satu ini, Irwan menyerahkan sepenuhnya kepada sang istri. Tapi, ia menekankan, penggunaan uang diutamakan untuk pendidikan anak-anak.
Sejak anak pertamanya lahir, pria yang tercatat sebagai dosen pascasarjana di salah satu universitas swasta terkemuka di Jakarta ini berusaha untuk menyisihkan penghasilannya bagi tabungan pendidikan anaknya kelak. "Saya dan istri telah berkomitmen bahwa paling tidak anak-anak kami bisa sampai jenjang S2 (strata dua)," ujarnya dengan nada penuh harap. sri wahyuni
