Tarbiyah
Keseimbangan
Tawaazun atau seimbang merupakan ciri dari penciptaan makhluk termasuk juga penciptaan manusia dan alam. Allah menciptakan alam secara seimbang dan stabil sehingga perjalanan alam ini teratur. Kita bisa melihat perjalanan bulan, matahari, bumi dan bintang secara seimbang dan teratur. Sudah berabad-abad lamanya mereka tetap berputar tanpa ada kekurangan sedikitpun, hal ini karena telah diatur oleh Allah dengan keseimbangan ciptaanNya. Contoh keseimbangan tersebut adalah adanya tarik menarik yang seimbang antara planet begitu pula kecepatan perputaran bumi yang sangat cepat sehingga menjadikan kita berdiri di bumi sama sekali tidak merasa berputar.
Hasil Takwa
Ibadah menghasilkan takwa. Orang bertakwa akan menghasilkan izzah (harga diri). Takwa akan melahirkan rahmat, furqan, berkah, jalan keluar, rezeki, dan kemudahan. Kesemuanya ini merupakan kebaikan di dunia. Sedangkan kebaikan di akhirat yang akan diperoleh orang yang bertakwa adalah dihapuskan kesalahannya serta diberi ampunan dan pahala yang besar.
Hasil Ibadah
Nataaij al-‘ibaadah adalah takwa. Penjelasan yang menyebutkan hal ini banyak terdapat dalam ayat-ayat Al Quran. Allah menyatakan bahwa ibadah yang dikerjakan manusia akan menghantarkannya ketakwaan, seperti ibadah (khusus) puasa di bulan ramadhan (Q. 2: 183) atau ibadah umum (Q. 2: 21). Ibadah menghasilkan takwa karena dalam ibadah, kita mengontrol diri kita untuk selalu berada di bawah naungan Islam dan dalam kerangka mengamalkan semua perintah Allah SWT.
Diterimanya Ibadah
Mengenal manusia atau pengenalan terhadap diri sendiri merupakan jalan untuk memperlancarkan kegiatan ibadah. Setelah mengenal potensi dan fungsi manusia, maka manusia semestinya sadar bahwa manusia perlu beribadah sebagai konsekuensi dirinya sebagai ciptaan.
Kesempurnaan Ibadah
Ibadah juga mencakup seluruh aspek kehidupan seperti amal-amal yang baik, amal-amal sosial dan kehidupan, memakmurkan bumi, serta menegakkan aturan. Islam menggambarkan kesempurnaannya dengan ciri kesempurnaan agama. Di dalam Islam telah lengkap mengatur manusia dari segi amal kemasyarakatan dan amal–amal ibadah. Islam mengatur segala kehidupan, tata cara ibadah dan kematian.
Hakikat Ibadah
Hakikat ibadah yang merupakan tugas kehidupan manusia adalah menyembah Allah dan mengingkari thaghut. Motivasi kita beribadah adalah merasakan bahwa begitu banyak nikmat Allah pada diri kita seperti mata, telinga, rezeki, harta, anak, isteri, dan pendidikan yang menyebabkan kita harus selalu bersyukur pada-Nya. Selain itu, motivasi ibadah juga didasarkan kepada rasa keagungan Allah SWT dan kehebatan-kehebatan-Nya yang dapat dilihat dari ciptaan-Nya di alam semesta ini. Dengan perasaan bahwa nikmat Allah yang begitu besar dan begitu agungnya Allah, maka kita termotivasi mengabdi hanya kepada Allah saja.
Sifat Manusia
Jiwa manusia diberi dua jalan yaitu takwa dan kesesatan. Jalan yang benar adalah jalan takwa sedangkan jalan yang salah adalah jalan fujur. Manusia yang bertakwa adalah manusia yang senantiasa membersihkan dirinya. Jiwa yang bersih akan memunculkan sifat seperti syukur, sabar, penyantun, penyayang, bijaksana, suka bertaubat, lemah lembut, jujur, dan dapat dipercaya, hingga akhirnya akan memperoleh keberhasilan. Allah memberikan dua pilihan kepada manusia.
Nafsu Manusia
Nafsu manusia senantiasa berubah-rubah. Perubahan ini dipengaruhi oleh sejauh mana kekuatan ruh dapat berhadapan dengan hawa nafsunya. Pertentangan dan peperangan selalu terjadi di antara keduanya. Ruh manusia dapat menguasai hawa nafsunya bila nilai Islam dapat menekan dan menahan gejolaknya hawa nafsu tersebut. Dengan demikian, nafsunya akan menjadi nafsu yang tenang. Keadaan ini akan didapat bila manusia selalu berdzikir kepada Allah SWT. Keadaan ideal demikian yang dikehendaki Allah sehingga Allah meridhainya karena ridhanya manusia beramal saleh.
Potensi Manusia
Manusia sebagai khalifah dapat menggunakan potensinya untuk memelihara alam. Khalifah adalah yang diamanahkan untuk membangun dan memelihara alam, bukan sebagai pemilik yang sebenarnya. Khalifah mesti menjalankan tugasnya sesuai dengan apa yang telah Allah kehendaki bukan membuat jalan sendiri dan tidak menentang peraturan-peraturan Allah yang telah diperintahkan. Bagi mereka yang berkhianat terhadap potensi yang dimilikinya akan mendapatkan kerugian. Bahkan Allah SWT mengumpamakan mereka sebagai hewan ternak, anjing, monyet, babi, kayu, batu, laba-laba, dan keledai.
Hakikat Manusia
Kita perlu mengenal manusia tidak dari segi kelebihannya saja, tetapi juga kelemahannya sehingga pengenalan ini dapat menyadarkan manusia dalam berbuat dan bertindak. Beberapa kelemahan manusia yang disebutkan Allah SWT selain kejiwaan yang keluh kesah juga bersifat lemah, bodoh, dan bebas memilih yang memungkinkan manusia memilih jalan salah sehingga masuk neraka. Kelemahan ini perlu diwaspadai oleh manusia agar dapat mengendalikan dirinya dan mengatasi kelemahannya dengan cara mengamalkan nilai-nilai Islam.
Pengenalan Manusia
Manusia adalah makhluk Allah yang terdiri dari ruh dan tanah yang dilengkapi dengan potensi hati, akal, dan jasad. Potensi manusia ini memiliki kelebihan dan keutamaan dibanding makhluk lainnya. Dengan hati, manusia berniat. Dengan akal manusia berilmu. Dan dengan jasad, manusia beramal. Kelebihan dan kemuliaan manusia ini disediakan untuk menjalankan amanah beribadah dan menjalankan fungsi khalifah di muka bumi. Peranan dan tugas yang dilakukan ini akan mendapatkan balasan yang sesuai.
Mengenal Manusia
Siapakah manusia sebenarnya? Apakah kita sudah mengenal diri kita sendiri? Dimanakah kedudukan kita sebagai ciptaan Allah? Bagaimana seharusnya sikap kita pada Allah SWT? Dan masih banyak lagi persoalan yang perlu dilontarkan kepada manusia pada dirinya sendiri yang sudah hidup sekian lamanya di muka bumi. Masalah manusia adalah hal yang tidak pernah habis-habisnya dibicarakan. Banyak ilmuwan mencoba membicarakan dan mempelajarinya, namun tidak begitu berhasil. Karena masing-masing pakar mempunyai teori dan definisinya sendiri mengenai manusia. Berbagai disiplin ilmu seperti psikologi, sosiologi, ekonomi, antropologi, filsafat, dan teologi mempunyai berbagai pendekatan yang berbeda dan teori yang berlainan tentang manusia.
Pewarnaan dan Perubahan
Syahaadatain mesti didasari kepada mahabbah (cinta) yang kemudian menghasilkan ridha kepada setiap yang disuruhnya. Dari cinta dan ridha ini muncul iman yang kemudian akan mewarnai diri kita dan sekaligus merubah diri kita dari segi iktiqadi, fikri, syu’uuri dan suluki sehingga muncul pribadi muslim yang mempunyai nilai di sisi Allah.
Perealisasian Dua Kalimat Syahadat
Syahaadah bersumberkan kepada hati yang bersih dan akal yang cerdas. Dengan hati yang bersih kita dapat mengharapkan rahmat kepada Allah SWT, takut kepada siksaan Allah SWT dan mencintai Allah SWT.
Perealisasian Kandungan Dua Kalimat Syahadat
Hubungan mukmin dengan Allah SWT merupakan hubungan ubudiyah (pengabdian). Hubungan ini didasari kepada tiga unsur yaitu cinta, perniagaan dan amal atau jihad. Dengan transaksi ketiga unsur di atas, setiap mukmin wajib menjalani hidupnya sebagai pejuang Islam dengan senantiasa mempersiapkan watak seorang mujahid.
Rela
Ridha adalah hasil dari cintanya mukmin kepada Allah SWT. Cinta berarti menerima semua keinginan dan tuntutan dari yang dicintainya (Allah SWT). Tuntutan dan kehendak Allah SWT ini terdapat di dalam Al-Quran. Kehendak Allah SWT terhadap manusia, alam semesta dan dari diri kita. Kehendak Allah SWT terhadap manusia yaitu diberikan ketentuan-ketentuan yang pasti seperti qadha’ dan qadar.
Syarat Diterimanya Dua Kalimat Syahadat
Sebagai seorang mukmin berusaha menjaga syahadat dari futur (kendor) dan melemah. Untuk itu perlu mengetahui bagaimana syahadat diterima atau ditolak. Untuk diterimanya syahadat maka diperlukan beberapa persediaan misalnya ilmu, yakin, ikhlas, shidqu, mahabbah, qabul dan amal nyata. Juga kita perlu menolak kebodohan terhadap syahadat, keraguan, kemusyrikan, dusta, kebencian, penolakan dan tidak beramal.
Tahap-tahap Interaksi dengan Dua Kalimat Syahadat
Dua kalimat syahaadah adalah suatu kesaksian bahwa tiada yang wajib diabdi dengan penuh cinta kecuali hanya kepada Allah SWT saja. Kemudian kesaksian bahwa Muhammad itu merupakan Rasul Allah SWT.
Kalimat Allah yang Tinggi
Kalimat Allah SWT adalah yang paling tinggi. Islam sebagai ad-diin mempunyai konsep yang jelas, lengkap dan dapat dibuktikan kebenarannya. Sedangkan konsep atau sistem selain Islam adalah buatan manusia yang tidak lengkap, tidak jelas dan bersifat berubah atau sementara.
Loyalitas dan Pengingkaran
Bagi muslim sikap ini merupakan sikap hidup yang inti dan warisan para nabi. Penyimpangan dari sikap ini tergolong dosa besar yang tidak diampuni (syirik). Dengan sikap walaa, dan baraa, seorang mukmin akan selalu mengarahkan dirinya kepada Allah SWT di setiap perbuatannya.
Makna Kata Tuhan
Kalimat Laa ilaaha illa Allaah tidak mungkin difahami kecuali dengan memahami terlebih dahulu makna ilah yang berasal dari ‘aliha’ yang memiliki berbagai macam pengertian. Dengan memahaminya akan terjelaskan motif-motif manusia mengilahkan sesuatu.
Kandungan Kalimat Syahadat
Syahaadatain begitu berat diperjuangkan oleh para sahabat dan Nabi SAW, bahkan mereka siap dan tidak takut terhadap segala ancaman orang kafir. Sahabat nabi misalnya Habib berani menghadapi siksaan yang dipotong tubuhnya satu persatu oleh Musailamah, Bilal bin Rabah tahan menerima himpitan batu besar di siang hari yang panas dan beberapa deretan nama sahabat lainnya.
Kepentingan Dua Kalimat Syahadat
Urgensi syahadat perlu dijabarkan kepada masyarakat agar dapat benar-benar memahami syahaadah secara konsepional dan secara operasional aplikatif. Kenapa syahaadah penting karena dengan bersyahadah seseorang bisa menyatakan dirinya sebagai muslim, syahaadah sebagai pintu bagi masuknya seseorang ke dalam Islam. Pemahaman seorang muslim terhadap syahaadatain akan dapat melakukan perubahan-perubahan individu, keluarga ataupun masyarakat. Dalam sejarah para nabi dan rasul, syahaadah merupakan kalimat yang diperjuangkan. Dan kalimat inilah yang menggerakkan dakwah nabi dan rasul.
Pengertian Dua Kalimat Syahadat
Kalimat syahaadatain adalah kalimat yang tidak asing lagi bagi umat Islam. Kita selalu menyebutnya setiap hari, misalnya ketika shalat dan adzan. Kalimat syahaadatain sering diucapkan oleh umat Islam dalam pelbagai keadaan. Umumnya kita menghafal kalimat syahaadah dan dapat menyebutnya dengan fasih, namun yang menjadi pertanyaan sejauh manakah makna kalimat syahaadatain ini dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari umat Islam?
Zuhud
Ketahuilah bahwa cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan, sedangkan zuhud terhadap dunia merupakan maqom yang mulia.
Berinteraksi Tanpa Terkontaminasi
Jadi, jelaslah bahwasanya setiap muslim yang sadar dengan identitasnya, ia harus berpartisipasi dalam mengemban amanah dakwah ini.