Mail to Friends

Nafsu Manusia

Jumat, 19/09/2008

Nafsu manusia senantiasa berubah-rubah. Perubahan ini dipengaruhi oleh sejauh mana kekuatan ruh dapat berhadapan dengan hawa nafsunya. Pertentangan dan peperangan selalu terjadi di antara keduanya. Ruh manusia dapat menguasai hawa nafsunya bila nilai Islam dapat menekan dan menahan gejolaknya hawa nafsu tersebut. Dengan demikian, nafsunya akan menjadi nafsu yang tenang. Keadaan ini akan didapat bila manusia selalu berdzikir kepada Allah SWT. Keadaan ideal demikian yang dikehendaki Allah sehingga Allah meridhainya karena ridhanya manusia beramal saleh. 

Sedangkan manusia yang dikuasai oleh hawa nafsunya serta cenderung padanya (hawa nafsu) maka akan dikendalikan oleh kesesatan yang menyebabkan ia menjadi tidak bahagia. Hal ini karena jiwa manusia cenderung dibawa kepada kejahatan dan kerusakan. Nafsu amarah, merupakan ciri nafsu yang ada pada manusia yang tidak beriman dan tidak beramal saleh. Hawa nafsu mereka mengendalikan ruhnya.

Di antara nafsu yang tenang dengan nafsu yang ammaarah, terdapat nafsu lawwaamah yang menggambarkan adanya tarik menarik antara ruh dan hawa nafsu. Ruh dan hawa nafsu yang sama-sama berpengaruh akan menjadikan suasana tarik menarik sehingga muncul akal dan jiwa yang selalu menyesali dirinya. Terkadang ruhnya mempengaruhi hawa nafsunya sehingga muncul sedikit ketenangan namun kadang kala muncul nafsunya mempengaruhi ruh yang dapat menghancurkan jiwanya. 

Ruh akan membawa kepastian dan ketenangan jiwa karena ruh mengikuti perintah Allah yang fitrah dan sesuai dengan nilai kemanusiaan. Manakala hawa nafsu selalu membawa kepada kepastian dan ketidaktenangan. Tidak ada kepuasan kekal dengan memperturutkan hawa nafsu. Dan tidak ada kebahagiaan dengan mengikuti hawa nafsu, karena hawa nafsu tidak pernah puas dan tidak akan pernah berhenti. Apabila tercapai satu kepuasan maka hawa nafsu menuntut yang berikutnya dan begitu seterusnya tidak ada batas. Yang membatasi geraknya hawa nafsu adalah ruh.